Hari Dunia untuk Memerangi Penggurusan 2026 Soroti Nasib Padang Rumput yang Terabaikan

- Minggu, 14 Juni 2026 | 06:50 WIB
Hari Dunia untuk Memerangi Penggurusan 2026 Soroti Nasib Padang Rumput yang Terabaikan
PARADAPOS.COM - Setiap tanggal 17 Juni, dunia memperingati Hari Dunia untuk Memerangi Penggurusan dan Kekeringan. Peringatan tahun 2026 mengusung tema yang berfokus pada lahan penggembalaan, menyoroti peran ekosistem yang sering terabaikan ini dalam menopang kehidupan miliaran orang. Tema tahun ini adalah “Rangelands: Recognize. Respect. Restore.”, sebuah seruan untuk mengakui nilai ekonomi, ekologi, dan budaya padang rumput, menghormati para penjaga tradisionalnya, serta memulihkan lahan yang telah terdegradasi. Isu penggurusan lahan sendiri bukanlah persoalan baru; ini adalah tantangan global yang mengancam keanekaragaman hayati, stabilitas sosial-ekonomi, dan upaya pembangunan berkelanjutan di berbagai belahan dunia.

Akar Masalah Penggurusan

Penggurusan pada dasarnya adalah degradasi ekosistem lahan kering yang terjadi secara terus-menerus. Fenomena ini diperparah oleh perubahan iklim dan, yang lebih utama, oleh ulah manusia. Praktik pertanian yang tidak berkelanjutan, misalnya, menguras nutrisi tanah. Penambangan, penggembalaan berlebihan—di mana hewan memakan habis rumput dan mengikis lapisan tanah atas dengan kuku mereka—serta penebangan hutan secara besar-besaran, turut mempercepat proses ini. Ketika pepohonan dan semak-semak ditebang untuk kayu bakar atau untuk membuka lahan pertanian, tanah kehilangan pengikat alaminya.

Perjalanan Menuju Kesepakatan Global

Keprihatinan terhadap penggurusan sebenarnya sudah mengemuka sejak lama. Dalam KTT Bumi Rio tahun 1992, penggurusan lahan, bersama dengan perubahan iklim dan hilangnya keanekaragaman hayati, diidentifikasi sebagai tiga tantangan terbesar bagi pembangunan berkelanjutan. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 1994, Majelis Umum PBB membentuk Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Memerangi Penggurusan (UNCCD). Inilah satu-satunya perjanjian internasional yang mengikat secara hukum yang secara khusus menghubungkan isu lingkungan dan pembangunan dengan pengelolaan lahan berkelanjutan. Melalui resolusi A/RES/49/115, tanggal 17 Juni pun ditetapkan sebagai hari peringatan tahunan. Pada tahun 2007, langkah selanjutnya diambil dengan mendeklarasikan periode 2010-2020 sebagai Dekade PBB untuk Gurun dan Perjuangan Melawan Penggurusan. Tujuannya jelas: memobilisasi aksi global. Sekretariat UNCCD kembali memimpin upaya ini. Sebanyak 197 negara anggota UNCCD, di mana 169 di antaranya langsung terdampak penggurusan, kini bekerja sama. Fokus mereka adalah memelihara dan memulihkan produktivitas lahan dan tanah, serta mengurangi dampak kekeringan di daerah kering, semi-kering, dan sub-lembap kering—kawasan yang menjadi rumah bagi beberapa ekosistem dan komunitas paling rentan di dunia.

Mengapa Padang Rumput Menjadi Sorotan di 2026?

Padang rumput adalah salah satu ekosistem terluas di planet ini, namun ironisnya, ia juga yang paling sering diabaikan. Luasnya mencakup lebih dari separuh permukaan daratan Bumi. Perannya sangat vital: menopang ketahanan pangan, mengatur siklus air, menjaga keanekaragaman hayati, dan memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim. Lebih dari sekadar hamparan hijau, padang rumput menopang kehidupan sekitar dua miliar orang di seluruh dunia. Di antara mereka terdapat banyak peternak dan masyarakat adat. Pengetahuan tradisional dan cara pengelolaan mereka telah berhasil melestarikan lanskap ini selama bergenerasi-generasi. Pada tahun 2026, peringatan Hari Dunia untuk Memerangi Penggurusan dan Kekeringan secara khusus menempatkan lahan penggembalaan ini di pusat perhatian global. Tema yang diusung, “Rangelands: Recognize. Respect. Restore.”, memiliki tiga pilar utama. Pertama, seruan untuk memberikan pengakuan yang lebih besar terhadap nilai ekonomi, ekologi, dan budaya lahan penggembalaan. Kedua, penghormatan kepada para penjaga tradisionalnya yang selama ini merawatnya. Ketiga, ajakan untuk investasi yang lebih kuat dalam memulihkan lahan penggembalaan yang telah terdegradasi. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa hingga separuh lahan penggembalaan di dunia saat ini sudah mengalami degradasi atau berada dalam risiko serius. Konsekuensinya tidak main-main: ketahanan pangan dan air terancam, keanekaragaman hayati menurun, ketahanan iklim melemah, dan mata pencaharian masyarakat pedesaan menjadi tidak pasti. Namun, harapan masih ada. Investasi dalam pengelolaan lahan dan air yang berkelanjutan, peningkatan kesiapsiagaan menghadapi kekeringan, serta program restorasi yang dipimpin oleh masyarakat setempat, dinilai mampu mengamankan masa depan lanskap ini dan kesejahteraan orang-orang yang menggantungkan hidup padanya. Sekaranglah saatnya untuk benar-benar mengakui nilai padang rumput, menghormati para penjaganya, dan memulihkan lanskap ini untuk generasi mendatang.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler