Pengungsi Gaza Dijanjikan ke Indonesia, Malah Terdampar di Afrika: Kisah Penipuan yang Menggemparkan

- Rabu, 19 November 2025 | 01:50 WIB
Pengungsi Gaza Dijanjikan ke Indonesia, Malah Terdampar di Afrika: Kisah Penipuan yang Menggemparkan

Kisah Pengungsi Gaza Dijanjikan Terbang ke Indonesia, Malah Dibawa ke Afrika Selatan

Seorang pengungsi Gaza mengungkapkan kisah perjalanannya yang berujung di Afrika Selatan setelah awalnya dijanjikan terbang ke Jakarta. Bashir, warga asal Khan Younis, Gaza Selatan, adalah satu dari 153 pengungsi yang terdampar di Afrika Selatan melalui penerbangan carter misterius.

Pencarian Jalan Keluar dari Gaza

Bashir menceritakan bahwa dia awalnya mencari cara untuk meninggalkan Jalur Gaza melalui internet. Pria ini kemudian menemukan organisasi bernama Al Majd Eropa yang menawarkan bantuan untuk keluar dari Gaza. Melalui akun Facebook organisasi tersebut, Bashir menghubungi nomor telepon yang tersedia dan dijawab oleh seorang pria Palestina bernama Moayad dari Indonesia.

Biaya Mahal untuk Keluar dari Neraka

Moayad menjelaskan bahwa Bashir bisa meninggalkan Gaza menuju Indonesia dengan biaya 1.400 dolar AS per kursi pesawat. "Saya hanya punya 1.600 dolar. Saya membayar uang itu karena hidup kami di Gaza seperti neraka," ujar Bashir. Setelah mentransfer uang ke rekening bank milik keluarga Zaqout, Bashir menerima instruksi untuk mempersiapkan keberangkatan.

Perjalanan Rahasia Menuju Perbatasan

Bashir menerima pesan pertama pukul 10.00 waktu setempat yang mengarahkannya ke suatu lokasi di Khan Younis. Pesan berikutnya datang pukul 22.00, memintanya pergi ke restoran Fish-Fresh dekat pos Palang Merah pada pukul 03.00. Di sana, dia dan penumpang lain menemukan tiga bus yang menunggu. Bashir naik bus nomor 2 yang mengantarnya ke pintu perbatasan Kerem Shalom.

Prosedur Ketat dan Perubahan Tujuan

Di terminal tujuan, Bashir tidak menemukan perwakilan Al Majd. Meski tidak melihat tentara Israel, perjalanan sepenuhnya dikendalikan tentara. Para penumpang diperintahkan melepas sepatu dan jaket, hanya boleh membawa obat-obatan, dan diberi gelang yang harus tetap dipakai hingga Bandara Ramon, Israel.

Yang mengejutkan, tujuan penerbangan tiba-tiba berubah. "Mereka mengubah tujuan ke Afrika Selatan dan mereka tidak memberi tahu kami," kata Bashir. Perubahan ini diduga karena Otoritas Palestina menghentikan izin perjalanan ke Jakarta.

Penerbangan Menuju Afrika Selatan

Setelah 4,5 jam perjalanan ke Bandara Ramon, para pengungsi Gaza terbang menuju Nairobi, Kenya. Mereka transit dengan tiket baru sebelum melanjutkan penerbangan ke Afrika Selatan. "Kami memasuki Afrika Selatan tanpa masalah," ujar Bashir.

Bantuan dan Penyusulan Keluarga

Kelompok Bashir menerima detail hotel melalui WhatsApp dan menginap selama seminggu sebelum akhirnya dibantu organisasi amal Gift of the Givers. Putri Bashir yang menyusul dengan penerbangan berikutnya dengan biaya 2.000 dolar AS menghadapi situasi berbeda. Polisi Afrika Selatan langsung menginterogasi mereka selama 15 jam dan ingin memulangkan mereka ke Kenya.

Penyelidikan Pemerintah Afrika Selatan

Pihak berwenang Afrika Selatan menduga penerbangan ini merupakan bagian dari skema untuk mengusir warga Palestina dari tanah mereka. Presiden Cyril Ramaphosa memerintahkan penyelidikan terhadap pihak yang bertanggung jawab atas penerbangan carter tersebut. Meski demikian, Afrika Selatan memberikan pembebasan visa 90 hari kepada 153 warga Palestina.

Fakta tentang Al Majd Eropa

Situs web Al Majd Eropa mengklaim perusahaan didirikan di Jerman tahun 2010 dengan kantor di Yerusalem Timur. Namun investigasi harian Israel, Haaretz, menemukan organisasi ini terdaftar di Estonia dan beroperasi melalui perusahaan konsultan palsu. Organisasi ini dijalankan oleh Tomer Janar Lind, warga Israel-Estonia, yang bekerja sama dengan unit militer Israel Cogat untuk memindahkan paksa warga Palestina dari Gaza.

Kondisi Gaza yang Memilukan

Bashir menegaskan bahwa perjalanan rahasianya dari Gaza ke Afrika Selatan adalah kebutuhan untuk bertahan hidup, bukan untuk menetap di luar negeri. "Rafah telah disapu bersih sepenuhnya. Tidak ada satu rumah pun yang tersisa. Semuanya hancur di Khan Younis, Rafah, dan Gaza," kenangnya dengan pilu. "Orang-orang di Gaza mengatakan ingin keluar dari penderitaan, genosida, dan neraka."

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar