AS Mulai Pertimbangkan Opsi Militer untuk Kuba setelah Tekanan Ekonomi Dianggap Gagal

- Selasa, 19 Mei 2026 | 08:25 WIB
AS Mulai Pertimbangkan Opsi Militer untuk Kuba setelah Tekanan Ekonomi Dianggap Gagal
PARADAPOS.COM - Washington, Amerika Serikat, dilaporkan mulai mempertimbangkan opsi militer terhadap Kuba setelah strategi tekanan ekonomi yang diterapkan selama ini dinilai gagal membuahkan hasil. Dua sumber anonim yang mengetahui pembahasan internal di lingkaran Presiden Donald Trump mengungkapkan bahwa frustrasi di pemerintahan AS semakin memuncak karena kepemimpinan Kuba tetap bertahan dan tidak menunjukkan tanda-tanda akan menuruti tuntutan Washington. Perubahan sikap ini menandai eskalasi serius dalam hubungan bilateral yang sudah tegang, di mana opsi perang kini mulai dibahas di meja-meja perundingan Gedung Putih.

Kegagalan Strategi Tekanan Ekonomi

Awalnya, pemerintahan Trump yakin bahwa kombinasi sanksi yang lebih ketat, blokade pasokan minyak, serta keberhasilan militer AS di Venezuela dan Iran akan memaksa Havana bernegosiasi. Keyakinan itu didasari anggapan bahwa kepemimpinan Kuba berada dalam posisi yang sangat lemah. Namun, kenyataan di lapangan ternyata berbeda. Situasi di Iran tidak berjalan sesuai rencana, dan Kuba justru menunjukkan ketahanan yang jauh lebih besar dari perkiraan awal. Seorang sumber yang mengetahui langsung pembahasan internal tersebut mengatakan kepada Politico, "Suasananya jelas telah berubah." "Karena itu, aksi militer kini menjadi opsi yang dipertimbangkan dengan cara yang sebelumnya tidak terjadi," lanjut sumber tersebut. Pernyataan ini mengindikasikan adanya pergeseran fundamental dalam strategi AS, dari pendekatan diplomatik dan ekonomi menuju ancaman langsung penggunaan kekuatan militer.

Dampak Blokade Energi dan Respons Kuba

Di tengah meningkatnya ketegangan ini, Kuba menghadapi krisis energi yang parah. Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel, melalui platform X, menanggapi tawaran bantuan kemanusiaan senilai USD100 juta dari Amerika Serikat. Ia justru menawarkan solusi yang lebih sederhana. "Kerusakan dapat diatasi dengan cara yang jauh lebih mudah dan cepat melalui pencabutan atau pelonggaran blokade, karena sudah diketahui bahwa situasi kemanusiaan ini dihitung dan diciptakan secara sengaja," tulis Diaz-Canel. Ia juga menambahkan bahwa rakyat Kuba tidak akan menunjukkan sikap tidak tahu berterima kasih kepada Washington. Menurutnya, tawaran bantuan tersebut terasa paradoksal di tengah tekanan ekonomi yang terus dilancarkan AS. Kuba sebelumnya telah mengumumkan bahwa negara itu benar-benar kehabisan bahan bakar minyak dan diesel. Jaringan listrik nasional disebut berada dalam kondisi kritis tanpa cadangan energi sama sekali. Pengumuman ini muncul hanya sehari setelah Departemen Luar Negeri AS memperbarui tawaran bantuan kemanusiaan langsung senilai USD100 juta, sambil mendesak reformasi dan mengkritik keras pemerintahan komunis Havana. Krisis bahan bakar ini dipicu oleh keputusan Trump pada 29 Januari untuk memberlakukan embargo minyak. Perintah tersebut secara eksplisit mengancam akan menerapkan tarif terhadap negara mana pun yang secara langsung atau tidak langsung menjual atau memasok minyak ke Kuba. Trump sendiri berulang kali menyatakan bahwa Kuba akan menjadi target berikutnya setelah operasi militer terhadap Iran selesai, dan ia mengklaim bahwa pemerintahan komunis di negara itu akan segera runtuh.

Editor: Dian Lestari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar