Trump Pertimbangkan Serangan Militer ke Iran: Analisis Terkini & Respons atas Protes

- Senin, 12 Januari 2026 | 02:50 WIB
Trump Pertimbangkan Serangan Militer ke Iran: Analisis Terkini & Respons atas Protes
Trump Pertimbangkan Serangan Militer ke Iran, Respons atas Gelombang Protes | Analisis Terkini

Trump Matangkan Rencana Serang Iran, Respons atas Protes yang Tewaskan Ratusan Jiwa

Iran telah memperingatkan Amerika Serikat untuk tidak melakukan serangan militer, menyusul informasi bahwa Presiden AS Donald Trump sedang mempertimbangkan berbagai opsi tanggapan Washington. Peringatan ini muncul di tengah lonjakan jumlah korban tewas dalam demonstrasi di Iran yang dilaporkan mencapai ratusan orang.

Opsi Militer AS di Meja Presiden Trump

Seorang pejabat Gedung Putih mengungkapkan bahwa Presiden Trump telah menerima pengarahan mengenai sejumlah opsi serangan militer ke Iran, termasuk target sipil. Meski opsi militer serius dipertimbangkan, langkah ini dipertanyakan oleh sejumlah anggota parlemen dari Partai Republik maupun Demokrat, yang meragukan apakah pendekatan militer adalah solusi terbaik. Situasi ini juga membuat Israel meningkatkan kewaspadaannya.

Menurut The Wall Street Journal, Trump dijadwalkan menerima pengarahan lebih mendalam pada Selasa mengenai opsi spesifik menanggapi protes di Iran. Pertemuan tersebut akan melibatkan pejabat tinggi pemerintah untuk membahas langkah strategis selanjutnya.

Rentetan Opsi Selain Serangan Konvensional

Selain serangan militer langsung, pilihan lain yang sedang dikaji meliputi:

  • Memperkuat dukungan online untuk sumber-sumber anti-pemerintah Iran.
  • Melancarkan serangan siber rahasia terhadap target militer dan sipil Iran.
  • Menjatuhkan sanksi tambahan yang lebih keras terhadap rezim.

Korban Tewas Protes Iran Melonjak, Internet Dipadamkan

Berdasarkan laporan dari berbagai pemantau HAM, korban jiwa dalam kekerasan seputar demonstrasi terus bertambah. Kantor Berita Aktivis Hak Asasi Manusia (HRANA) melaporkan sedikitnya 538 orang tewas, termasuk 490 pengunjuk rasa, dengan lebih dari 10.600 orang ditangkap. Sementara itu, Iran Human Rights yang berbasis di Norwegia mencatat setidaknya 192 pengunjuk rasa terbunuh.

Angka-angka ini sulit diverifikasi secara independen karena otoritas Iran melakukan pemadaman internet besar-besaran. Kelompok HAM memperingatkan bahwa jumlah korban sebenarnya kemungkinan jauh lebih tinggi dan akan terus bertambah seiring intensifikasi tindakan keras oleh pihak berwenang.

Ancaman Intervensi AS dan Peringatan Balasan Iran

Presiden Trump secara terbuka mengancam akan melakukan intervensi. Melalui platform Truth Social, ia menulis, Iran sedang mengincar KEBEBASAN, mungkin tidak seperti sebelumnya. AS siap membantu!!! Pernyataan ini semakin meningkatkan ketegangan.

Menanggapi ancaman tersebut, pejabat tinggi Iran membalas dengan peringatan keras. Ketua Parlemen Iran, Mohammad-Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa jika AS menyerang, maka seluruh kepentingan AS dan Israel di Timur Tengah akan menjadi target yang sah bagi Iran.

Pemerintah Iran Tuding AS dan Israel Dalangi Kerusuhan

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian, menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik kerusuhan, dengan menyebut mereka mendatangkan teroris yang menyerang properti publik. Pemerintah Iran mengumumkan tiga hari berkabung nasional dan mendesak masyarakat untuk mengikuti pawai perlawanan nasional gaimana mengecam kekerasan yang mereka klaim dilakukan oleh penjahat teroris perkotaan.

Akar Protes dan Tangkapan Besar-besaran

Gelombang protes ini, yang dipicu awal oleh jatuhnya nilai mata uang Iran, dengan cepat berkembang menjadi tuntutan reformasi politik dan penggulingan pemerintah. Menghadapi tekanan ini, otoritas Iran melakukan penangkapan besar-besaran. Kapolri Ahmad-Reza Radan menyatakan telah menangkap unsur-unsur utama kerusuhan yang akan dihukum sesuai hukum.

Jaksa Agung Iran bahkan menyatakan bahwa pengunjuk rasa atau siapa pun yang membantu mereka dapat dituduh sebagai musuh Tuhan, sebuah dakwaan yang berpotensi dihukum mati. Di kubu AS, dukungan untuk tekanan terhadap Iran juga menguat, seperti yang disuarakan Senator Lindsey Graham yang menyatakan mimpi buruk panjang Iran akan segera berakhir.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar