Komentar lain menegaskan, "Kami tidak punya kota. Kami semua tinggal di pohon. Catatan: kami tidak punya minyak." Ada juga yang menulis, "Dear Trump, kami hidup di hutan. Tidak ada minyak, hanya harimau dan buaya." Intinya, mereka berusaha meyakinkan bahwa Malaysia hanya kaya akan kelapa sawit dan badai petir, bukan minyak mentah.
Di platform Instagram, foto yang sama memicu pertanyaan bernada cemas, "Apakah kita Venezuela berikutnya?" Sebagian netizen bahkan dengan santai menyarankan AS untuk "memilih Brunei atau Singapura saja".
Latar Belakang Kekhawatiran: Kebijakan Trump terhadap Venezuela dan Greenland
Kekhawatiran ini muncul dalam konteks pernyataan kontroversial Presiden Donald Trump. Tak lama sebelumnya, AS menyatakan akan menguasai minyak Venezuela "tanpa batas waktu" usai penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Trump juga mengklaim AS akan mengambil alih dan memanfaatkan cadangan minyak Venezuela.
Selain Venezuela, Trump juga kembali menyuarakan keinginannya untuk menguasai Greenland, dengan pernyataan bahwa AS akan "melakukan sesuatu" terhadap wilayah tersebut. Pernyataan-pernyataan inilah yang membuat unggahan foto satelit biasa dari Kedutaan AS diinterpretasikan secara berbeda oleh netizen Malaysia.
Kesimpulan: Humor sebagai Ekspresi Kekhawatiran
Respons warganet Malaysia terhadap unggahan Kedutaan AS ini menunjukkan bagaimana humor dan satir digunakan untuk mengekspresikan kekhawatiran geopolitik. Di balik candaan tentang minyak goreng dan hidup di pohon, tersirat kecemasan akan intervensi asing dan stabilitas kedaulatan negara di tengah iklim politik global yang dinamis.
Artikel Terkait
India Desak 10.765 Warganya Segera Tinggalkan Iran, Ini Penyebab & Imbauannya
Arab Saudi & Negara Teluk Peringatkan AS: Serangan ke Iran Picu Krisis Minyak Global & Hancurkan Ekonomi Dunia
Kapal Induk AS Bergerak ke Timur Tengah: Serangan ke Iran dalam Hitungan Jam?
Ancaman Serangan Militer AS ke Iran dalam 24 Jam: Analisis Lengkap Krisis 2024