PARADAPOS.COM - Sebuah analisis strategis dari dalam Israel memperingatkan munculnya potensi ancaman geopolitik baru, yang tidak lagi hanya berasal dari Iran, tetapi dari upaya koordinasi negara-negara mayoritas Sunni di kawasan. Laporan tersebut, yang disusun berdasarkan penelitian mendalam, menyoroti inisiatif diplomatik Turki dan Mesir yang dikhawatirkan dapat membentuk suatu "cincin" atau blok kohesif yang mengelilingi Israel, menggeser peta aliansi dan ancaman tradisional di Timur Tengah.
Peringatan dari Lembaga Think Tank
Peringatan ini pertama kali muncul dalam sebuah laporan mendalam yang diterbitkan oleh platform berita Israel, Mida, yang merujuk pada penelitian dari Gatestone Institute. Inti analisisnya adalah bahwa di balik fokus internasional yang masih tertuju pada Iran, sebuah proses diplomasi paralel yang dipimpin Turki sedang berjalan. Proses ini, jika berhasil, dinilai dapat membawa konsekuensi strategis jangka panjang yang signifikan bagi keamanan Israel dan stabilitas kawasan.
Laporan itu menggambarkan upaya Presiden Turki Recep Tayyip Erdoğan untuk tidak sekadar mendamaikan hubungan dengan rival-rival regionalnya, tetapi lebih jauh lagi, membangun kerja sama politik dan strategis yang terkoordinasi di antara negara-negara Sunni.
Tur Diplomatik dan Normalisasi Hubungan
Bukti dari upaya ini terlihat dari serangkaian kunjungan diplomatik intensif. Awal Februari lalu, Erdoğan melakukan tur yang mencakup Arab Saudi dan Mesir, sebelum kemudian menjamu Raja Yordania Abdullah II di Istanbul. Pertemuan-pertemuan puncak ini disebut sebagai klimaks dari proses normalisasi yang telah dirintis sejak 2022, menyusul upaya Turki memperbaiki hubungannya dengan negara-negara Teluk dan Arab setelah periode ketegangan panjang.
Namun, titik balik yang paling disorot adalah pencairan hubungan antara Ankara dan Kairo. Setelah lebih dari satu dekade berseteru menyusul pergolakan politik di Mesir pada 2013, kedua negara kini tampak berjalan dalam arah yang sama.
Inti Kerja Sama: Militer dan Ekonomi
Kedekatan baru itu tidak hanya retorika. Selama kunjungan Erdoğan, Turki dan Mesir menandatangani perjanjian kerangka kerja militer senilai 350 juta dolar AS. Perjanjian ini mencakup kerja sama yang sangat sensitif, seperti produksi senjata bersama, pertukaran intelijen, dan latihan militer gabungan. Di sisi ekonomi, perdagangan bilateral kedua negara dikatakan memiliki potensi untuk mencapai 15 miliar dolar AS.
Dari kacamata strategis, keterlibatan Mesir dinilai akan secara dramatis memperkuat pengaruh blok yang sedang dibentuk. Sebagai negara yang menguasai Terusan Suez dan memainkan peran sentral di Afrika Utara serta Mediterania, Mesir memiliki leverage logistik yang kuat atas rute maritim yang vital bagi perekonomian Israel.
Ancaman Strategis yang Berubah Wajah
Dinamika baru ini memicu perdebatan serius di kalangan para perencana strategis Israel. Selama ini, perlawanan frontal terhadap Israel lebih sering diasosiasikan dengan Iran dan kelompok-kelompok pendukungnya yang beraliran Syiah, seperti Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman. Kemunculan potensi koalisi negara-negara Sunni yang terkoordinasi menghadirkan skenario ancaman yang sama sekali berbeda dan, bagi sebagian pihak, lebih menakutkan.
Kekhawatiran ini bahkan diungkapkan secara terbuka oleh mantan Perdana Menteri Israel, Naftali Bennett, pekan lalu. Ia secara eksplisit menyatakan bahwa Turki, dengan dukungan Qatar, kini menggantikan Iran sebagai ancaman strategis utama bagi Israel.
Faktor Pengubah Permainan: Pakistan dan Senjata Nuklir
Faktor lain yang semakin memperumit kekhawatiran Israel adalah pakta pertahanan baru-baru ini antara Arab Saudi dan Pakistan. Analisis Israel mempertimbangkan skenario di mana Turki berhasil merangkul kedua negara tersebut ke dalam porosnya. Jika hal itu terjadi, kemampuan senjata nuklir Pakistan akan menjadi dimensi ancaman yang sangat serius dan baru bagi Israel.
Seorang pakar Timur Tengah dari lembaga think tank terkemuka, Steven Cook, memberikan analisis yang memperkuat kegelisahan ini.
"Israel telah lama mengkalibrasi strategi pertahanannya sesuai dengan kemampuan Iran," tulisnya. "Namun jika Turki berhasil mempengaruhi Arab Saudi atau memperkuat hubungannya dengan Pakistan, peta strategisnya akan berubah dalam sekejap. Ini bukan hanya tentang rudal yang berasal dari Iran lagi—ini tentang dunia Sunni dengan kemampuan nuklir."
Refleksi atas Pergeseran Geopolitik
Laporan ini pada akhirnya mencerminkan kegelisahan yang lebih dalam dalam keamanan nasional Israel. Ia menandai sebuah periode transisi di mana ancaman tradisional belum sirna, sementara bentuk aliansi dan tantangan baru sedang terbentuk di cakrawala. Perdebatan di kalangan analis kini berpusat pada apakah upaya Turki dan Mesir ini akan benar-benar mengkristal menjadi blok yang solid, ataukah tetap sebagai kerja sama bilateral yang terbatas. Namun, bagi para pembuat kebijakan di Tel Aviv, kemungkinan pertama sudah cukup untuk memicu evaluasi ulang yang cermat terhadap postur pertahanan dan diplomasi mereka di kawasan yang terus bergejolak.
Artikel Terkait
Dewan Perdamaian AS Kecualikan Israel dari Iuran Miliaran Dolar, Pengamat Soroti Ketimpangan
Trump Tuduh Iran Kembangkan Rudal Ancam AS dan Eropa, Perkuat Armada di Timur Tengah
AS Kerahkan Lebih dari 150 Jet Tempur ke Eropa dan Timur Tengah di Tengah Ketegangan dengan Iran
Negara-Negara Teluk Dorong Diplomasi Cegah Perang AS-Iran, Khawatirkan Hegemoni Israel