PARADAPOS.COM - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan negaranya siap menghadapi ancaman invasi darat dari Amerika Serikat dan Israel, seraya memperingatkan bahwa langkah semacam itu akan berujung pada bencana bagi pasukan penyerang. Pernyataan tegas ini disampaikan dalam konteks eskalasi ketegangan yang dipicu oleh kegagalan perundingan nuklir dan serangan udara AS-Israel yang menewaskan ratusan warga sipil, termasuk anak-anak. Situasi ini meningkatkan kekhawatiran komunitas internasional akan pecahnya konflik terbuka yang dapat mengguncang stabilitas kawasan Teluk dan ekonomi global.
Peringatan Iran Atas Ancaman Invasi Darat
Dalam wawancara eksklusif dari Teheran, Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi menyampaikan sikap bangsanya yang tidak gentar. Ia menegaskan bahwa militer Iran justru telah bersiap-siap menyambut kemungkinan kedatangan pasukan darat AS dan Israel.
"Tidak, kami tidak takut. Kami justru menunggu mereka. Kami sangat percaya diri dapat menghadapi mereka, dan itu akan menjadi bencana besar bagi mereka," tegas Araghchi kepada NBC Nightly News, Kamis (5/3/2026).
Analisis strategis menunjukkan, jika ancaman invasi darat benar-benar terwujud, konflik akan memasuki fase baru yang jauh lebih berdarah. Selain risiko korban jiwa yang masif di kedua belah pihak, eskalasi militer langsung di jantung Timur Tengah berpotensi melumpuhkan stabilitas pasokan energi dunia.
Trump Buka Opsi Pengerahan Pasukan
Pernyataan Araghchi merupakan respons langsung terhadap sinyal dari Gedung Putih. Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, secara terbuka menolak mengikat diri pada janji-janji lama untuk tidak mengerahkan pasukan darat, yang dikenal sebagai "boots on the ground".
"Saya tidak ragu mengirim pasukan darat. Saya tidak mengatakan 'tidak akan ada pasukan darat'. Saya katakan 'mungkin tidak membutuhkannya' atau 'jika diperlukan'," ujar Trump pada Selasa (3/3/2026).
Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, kemudian memperjelas bahwa hingga saat ini belum ada pasukan Amerika yang memasuki wilayah Iran. Namun, ia menegaskan bahwa kesiapan operasional terus dipantau untuk melindungi kepentingan keamanan AS dan sekutunya.
Pemicu Eskalasi dan Tudingan Buruknya Itikad
Gelombang ketegangan terbaru ini muncul setelah perundingan di Jenewa pekan lalu menemui jalan buntu. Presiden Trump mengklaim intelijen AS memiliki bukti bahwa Iran diam-diam melanjutkan program pengayaan nuklir di fasilitas rahasia. Di sisi lain, Iran menuduh Amerika tidak berunding dengan jujur.
Abbas Araghchi menyoroti ironi dimana serangan udara terjadi justru ketika negosiasi masih berlangsung dengan utusan Trump, Steve Witkoff dan Jared Kushner.
"Kami tidak punya pengalaman positif bernegosiasi dengan AS. Di tengah negosiasi, mereka menyerang kami. Jadi tidak ada alasan untuk terlibat lagi dengan mereka yang tidak punya itikad baik," ungkapnya.
Duka Serangan Terhadap Warga Sipil
Eskalasi militer ini telah memakan korban jiwa yang tragis di pihak sipil. Araghchi melaporkan bahwa serangan di sebuah sekolah dasar di Minab menewaskan 171 anak-anak. Meskipun militer AS menyatakan sedang melakukan investigasi mendalam atas insiden tersebut, pemerintah Iran secara tegas menyalahkan koalisi AS-Israel atas tragedi kemanusiaan itu.
Insiden seperti ini semakin mempersulit jalan untuk meredakan ketegangan dan kembali ke meja perundingan, sambil meninggalkan luka mendalam yang memperumit dinamika konflik di kawasan.
Artikel Terkait
Dunia Muslim Kecam Pernyataan Pejabat AS yang Sebut Konflik dengan Iran sebagai Perang Agama
Iran Klaim Serang Tel Aviv dan Bandara Ben Gurion dengan Rudal Khorramshahr-4
Analis Pertahanan Ragukan Klaim Israel Hancurkan Helikopter Iran, Sebut Hanya Lukisan 3D
Iran Klaim Serang Tanker AS di Teluk Persia, Balas Penenggelaman Fregatnya