Trump Peringatkan Netanyahu di Tengah Ketegangan soal Operasi Militer Israel di Lebanon

- Rabu, 03 Juni 2026 | 04:25 WIB
Trump Peringatkan Netanyahu di Tengah Ketegangan soal Operasi Militer Israel di Lebanon

PARADAPOS.COM - Sebuah percakapan telepon yang berlangsung pada Senin (1/6/2026) antara Presiden AS Donald Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berubah menjadi ajang saling kritik. Dalam pembicaraan tersebut, Trump melontarkan peringatan keras kepada Netanyahu bahwa ia kini dibenci banyak pihak akibat kebijakan militernya, seraya menyinggung kasus korupsi yang membelit sang PM Israel. Informasi ini diungkap oleh seorang pejabat AS kepada portal berita Axios, menggambarkan ketegangan yang memanas di antara kedua pemimpin yang sebelumnya terlihat solid.

Kemarahan Trump di Ujung Telepon

Menurut laporan yang beredar, nada bicara Trump dalam percakapan itu sangat tinggi. Ia bahkan disebut berteriak saat menyampaikan kekesalannya. "Anda akan berada di penjara jika bukan karena saya. Semua orang membenci Anda sekarang. Semua orang membenci Israel karena ini," ujar Trump kepada Netanyahu, seperti dikutip dari sumber pejabat AS oleh Axios.

Pernyataan tentang penjara itu merujuk langsung pada proses hukum yang tengah dihadapi Netanyahu. Kasus korupsi yang menjeratnya telah memasuki persidangan sejak 2019 dan masih berlangsung hingga saat ini.

Seorang pejabat AS yang mengetahui isi pembicaraan tersebut memberikan gambaran lebih lanjut. Ia mengungkapkan bahwa Trump menyebut Netanyahu "gila" dan melontarkan kata-kata kasar lainnya di sela-sela amarahnya.

Akar Masalah: Operasi Militer di Lebanon

Kemarahan Trump tidak muncul tanpa sebab. Sumber tersebut menjelaskan bahwa Trump sangat geram karena Israel terus menggencarkan serangan ke Lebanon dalam beberapa hari terakhir, bahkan memperluas operasi militer daratnya. Meskipun Trump memahami bahwa Hizbullah telah meningkatkan serangan terhadap Israel, ia menilai respons militer Israel tidak proporsional.

Kekhawatiran yang lebih besar bagi Trump adalah bahwa serangan Israel ke Lebanon dapat menggagalkan upaya perundingan damai antara AS dan Iran. Ancaman Israel untuk menyerang Ibu Kota Beirut disebut menjadi salah satu pemicu utama ketegangan dalam percakapan telepon tersebut. Trump khawatir situasi di kawasan akan semakin memburuk dan keluar dari kendali.

Iran Menghentikan Perundingan

Situasi di Timur Tengah memang semakin rumit. Iran mengambil langkah tegas dengan memutuskan menghentikan proses negosiasi damai dengan AS. Ketua parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyatakan bahwa Teheran akan menghentikan perundingan dan melanjutkan perang jika Israel terus melancarkan serangan ke Lebanon.

Kantor berita Tasnim melaporkan lebih lanjut bahwa Iran juga menghentikan komunikasi tidak langsung dengan AS yang selama ini dilakukan melalui mediator Pakistan. Menurut laporan tersebut, pembicaraan dan pertukaran dokumen akan dihentikan sampai tuntutan Iran terkait Gaza dan Lebanon dipenuhi. Langkah ini jelas menjadi pukulan telak bagi upaya diplomasi yang sedang dibangun.

Tekanan Domestik di Kedua Kubu

Ketegangan terbaru ini menjadi kontras dengan hubungan Trump dan Netanyahu yang sebelumnya terlihat solid saat keduanya bekerja sama menghadapi Iran. Kini, perbedaan pandangan terkait Lebanon dan proses perdamaian justru memicu friksi terbuka antara kedua pemimpin.

Di pihak Trump, ia disebut ingin segera mengakhiri konflik yang melibatkan Iran karena perang tersebut dinilai membebani ekonomi AS. Selain itu, ia juga menghadapi tekanan politik dari sebagian pendukung gerakan Make America Great Again (MAGA) yang menuduhnya terlalu mengikuti kepentingan Israel dalam konflik Timur Tengah.

Sementara itu, Netanyahu juga tidak berada dalam posisi yang nyaman. Ia dikabarkan berisiko kehilangan dukungan koalisi sayap kanan dan mendapat kritik dari kelompok garis keras setelah membatalkan rencana serangan terhadap Beirut menyusul desakan dari Trump. Tekanan dari dalam negeri ini membuat ruang gerak Netanyahu semakin sempit di tengah krisis dengan sekutu utamanya.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar