PARADAPOS.COM - Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) secara terbuka mengancam akan melancarkan serangan terhadap universitas-universitas Amerika Serikat yang beroperasi di kawasan Timur Tengah. Ancaman balasan ini disampaikan menyusul serangan udara yang diklaim dilakukan oleh AS dan Israel terhadap dua perguruan tinggi di Teheran pada akhir pekan lalu. IRGC memberikan tenggat waktu ultimatum hingga siang hari Senin (30/3/2026) waktu setempat bagi pemerintah AS untuk secara resmi mengutuk serangan tersebut.
Ultimatum dan Peringatan Evakuasi
Dalam pernyataan resminya yang dikutip oleh kantor berita AFP, IRGC menyampaikan syarat yang jelas namun bertekanan tinggi kepada Washington. Mereka menuntut pernyataan pengutukan resmi dari pemerintah Amerika jika ingin kampus-kampusnya di kawasan itu terhindar dari aksi pembalasan.
"Jika pemerintah AS ingin kampus-kampus di kawasan bebas dari pembalasan, mereka harus mengutuk pengeboman universitas-universitas tersebut dalam pernyataan resmi, paling lambat pukul 12 siang Senin, 30 Maret, waktu Teheran," bunyi pernyataan itu, seperti dilaporkan kembali.
Tidak hanya ultimatum, pernyataan IRGC juga disertai peringatan keselamatan yang tidak biasa. Mereka secara eksplisit meminta seluruh staf akademik, termasuk dosen, profesor, mahasiswa, serta penduduk di sekitar kampus-kampus AS untuk mengosongkan area dalam radius satu kilometer. Peringatan spesifik ini meningkatkan tensi dan memberikan kesan bahwa ancaman tersebut bersifat konkret dan segera.
Latar Belakang Serangan Awal
Ancaman balasan ini berakar dari insiden pada 27 hingga 28 Maret, di mana serangan udara menghantam dua kampus di ibu kota Iran, termasuk sebuah universitas sains dan teknologi. Meski dilaporkan tidak menimbulkan korban jiwa, serangan tersebut dikabarkan menyebabkan kerusakan material pada gedung-gedung kampus. Iran secara tegas menuduh Amerika Serikat dan Israel berada di balik operasi militer ini.
Kepentingan Pendidikan AS di Kawasan
Ancaman IRGC menyasar aset pendidikan AS yang cukup signifikan di wilayah Teluk. Beberapa universitas ternama Amerika diketahui memiliki cabang atau program khusus di negara-negara kaya tersebut, seperti Universitas Texas A&M di Qatar dan Universitas New York di Uni Emirat Arab. Keberadaan kampus-kampus ini sering dilihat sebagai bagian dari soft power dan pertukaran akademik, namun dalam situasi geopolitik yang memanas, mereka justru menjadi titik yang rentan.
Eskalasi verbal ini memperlihatkan bagaimana ketegangan geopolitik dapat dengan cepat merambah ke sektor-sektor non-tradisional seperti pendidikan, yang biasanya dianggap sebagai zona netral. Ultimatum yang diberikan meninggalkan waktu yang sangat terbatas bagi diplomasi untuk meredakan situasi, menciptakan ketidakpastian bagi komunitas akademik internasional di kawasan tersebut.
Artikel Terkait
Houthi Klaim Serangan Rudal Pertama ke Israel, Dukung Iran dan Sekutu
Dua Kapal Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz, Iran Diduga Tuntut Timbal Balik
Trump Kecam Sekutu NATO atas Kurangnya Dukungan dalam Ketegangan dengan Iran
Tujuh Kapal Tanker Malaysia Tertahan di Selat Hormuz Meski Dapat Izin Iran