Trump Hapus Unggahan Gambar AI Dirinya Serupa Yesus di Truth Social Usai Kecaman

- Selasa, 14 April 2026 | 17:50 WIB
Trump Hapus Unggahan Gambar AI Dirinya Serupa Yesus di Truth Social Usai Kecaman

PARADAPOS.COM - Mantan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghapus sebuah unggahan kontroversial di platform Truth Social yang menampilkan gambar dirinya yang dibuat dengan kecerdasan buatan (AI) menyerupai sosok Yesus Kristus. Konten tersebut, yang memicu gelombang kecaman dari berbagai pihak termasuk kalangan konservatif dan religius, telah dihapus oleh Trump dengan alasan untuk menghindari kesalahpahaman publik. Kontroversi ini muncul berdekatan dengan kritik pedas Trump terhadap Paus Leo XIV terkait kebijakan luar negeri.

Gambar AI yang Memicu Polemik

Gambar yang diunggah tersebut menggambarkan Trump mengenakan jubah putih dengan tangan yang memancarkan cahaya, sedang berdiri di samping seorang pria yang terbaring di ranjang rumah sakit. Visual ini dengan kuat mengingatkan pada ikonografi Kristen klasik yang menggambarkan Yesus sedang menyembuhkan orang sakit. Banyak yang menilai gambar itu bukan sekadar meme, melainkan upaya untuk menempatkan Trump dalam narasi religius yang sangat sensitif.

Klaim Trump dan Alasan Penghapusan

Menanggapi kontroversi yang meledak, Trump mengakui bahwa dialah yang mengunggah gambar itu. Namun, ia memberikan penafsiran yang berbeda dari apa yang ditangkap oleh publik. Dalam penjelasannya, Trump berusaha mengalihkan narasi dari konotasi religius ke konotasi profan.

“Saya pikir itu saya sebagai seorang dokter,” tuturnya kepada wartawan.

Ia melanjutkan dengan nada khasnya, “Tujuan saya sebagai dokter adalah untuk menyembuhkan orang. Dan saya memang menyembuhkan orang. Saya menyembuhkan orang jauh lebih baik.”

Belakangan, dalam wawancara terpisah dengan CBS News, Trump menjelaskan alasan di balik penghapusan konten tersebut. “Saya tidak ingin ada yang bingung. Ternyata banyak orang yang bingung,” jelasnya. Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa meski ia mempertahankan maksud awal, dampak publik yang luas memaksa langkah korektif.

Gelombang Kritik dari Berbagai Pihak

Reaksi terhadap unggahan itu datang cepat dan keras, bahkan dari lingkaran yang secara politik sering sejalan dengan Trump. Aktivis Kristen Sean Feucht dengan tegas menyatakan ketidaksetujuannya.

“Ini harus segera dihapus. Tidak ada konteks yang dapat membenarkan hal ini,” tulisnya.

Senada dengan itu, aktivis konservatif Riley Gaines menyuarakan protes dari sudut pandang iman. “Tuhan tidak dapat diperolok-olok,” ungkapnya.

Kritik juga dilontarkan oleh jurnalis dari jaringan media keagamaan. David Brody dari Christian Broadcasting Network menilai tindakan Trump telah melampaui batas kewajaran.

“Ini sudah keterlaluan. Ini melampaui batas. Seorang pendukung dapat mendukung misi tersebut dan menolak hal ini,” ujarnya.

Konteks yang Memperkeruh: Kritik terhadap Paus

Kontroversi gambar AI ini semakin kompleks karena waktunya yang berdekatan dengan serangan verbal Trump terhadap Paus Leo XIV. Paus asal Amerika pertama ini dikenal vokal mengkritik operasi militer AS dan Israel di Iran. Dalam unggahan terpisah, Trump menyebut Paus “lemah dalam menangani kejahatan” dan “buruk untuk kebijakan luar negeri”.

Paus Leo XIV sendiri sebelumnya telah menyatakan posisinya yang tegas. Ia mengecam perang di Iran sebagai “kekerasan yang tidak masuk akal dan tidak manusiawi” dan menegaskan komitmennya untuk menyuarakan prinsip-prinsip keyakinannya.

“Saya tidak takut menyuarakan pesan Injil dengan lantang,” tegas Paus.

Pola Kontroversi di Truth Social

Ini bukan pertama kalinya konten provokatif bernuansa AI atau meme menimbulkan badai di Truth Social. Sebelumnya, pada Februari lalu, platform tersebut juga ramai oleh unggahan bernuansa rasis yang menggambarkan mantan Presiden Barack Obama dan istrinya, Michelle, dengan citra yang sangat tidak pantas. Saat itu, juru bicara Gedung Putih sempat membela dengan menyebutnya sekadar “meme internet”, sebelum akhirnya mengakui adanya kesalahan setelah tekanan publik membesar.

Rangkaian peristiwa ini menyoroti tantangan yang berulang dalam mengelola narasi dan konten di platform media sosial yang dikelola oleh figur politik besar, di mana batas antara pesan politik, humor, dan hal-hal yang dianggap sakral seringkali menjadi kabur dan berisiko tinggi.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar