PARADAPOS.COM - Pasukan Israel melancarkan serangkaian serangan udara di Lebanon selatan pada menit-menit terakhir menjelang berlakunya gencatan senjata, Jumat (17/4/2026) dini hari waktu setempat. Serangan yang menargetkan belasan lokasi ini langsung dibalas oleh kelompok Hizbullah dengan tembakan roket ke wilayah Israel utara. Gencatan senjata yang diumumkan Presiden AS Donald Trump ini dimaksudkan untuk menghentikan konflik yang telah menelan ribuan korban jiwa, meski ketegangan di lapangan tampak masih tinggi.
Serangan Udara Menjelang Batas Waktu
Menurut laporan stasiun televisi Lebanon Al Mayadeen, gelombang serangan udara Israel terjadi tepat sepuluh menit sebelum gencatan senjata mulai berlaku. Pesawat tempur menyerang sejumlah kota, termasuk Aanqoun, Jbsheet, Kfar Dounin, dan Deir Ez Zahrani. Enam lokasi lainnya juga dilaporkan menjadi sasaran hanya beberapa menit kemudian, menandai intensitas serangan yang berlangsung dalam waktu yang sangat singkat.
Dalam pernyataan resminya, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) membenarkan serangan tersebut. Mereka menyatakan aksi militer itu ditujukan untuk menetralisir peluncur roket milik Hizbullah yang baru saja digunakan.
"IDF menyerang peluncur yang digunakan Hizbullah untuk meluncurkan roket ke arah Israel utara beberapa saat yang lalu," jelas pernyataan yang disebarkan melalui kanal Telegram.
Pembalasan Cepat dan Pernyataan Sikap
Menanggapi serangan Israel, kelompok Hizbullah tidak tinggal diam. Mereka meluncurkan roket balasan ke wilayah Israel utara kurang dari lima menit sebelum gencatan senjata berlaku. Selain itu, para pejuangnya juga disebut melakukan serangan intensif terhadap posisi pasukan Israel di sepanjang perbatasan, khususnya di sekitar Bint Jbeil, menunjukkan pola pertempuran yang masih berlanjut hingga detik-detik terakhir.
Gencatan senjata ini diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump pada Kamis (16/4), setelah ia melakukan pembicaraan dengan pemimpin kedua negara. Dalam pengumumannya, Trump menyatakan telah mengarahkan timnya, termasuk Wakil Presiden JD Vance dan Menteri Luar Negeri Marco Rubio, untuk bekerja mewujudkan perdamaian yang lebih permanen.
"Kedua pihak ingin menyaksikan perdamaian, dan saya yakin itu akan terjadi, dengan cepat," tulisnya di platform Truth Social.
Posisi Israel dan Dinamika Politik Internal
Namun, di balik kesepakatan gencatan senjata, sikap pemerintah Israel menunjukkan kompleksitas situasi. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dilaporkan memerintahkan pasukannya untuk tetap bertahan di posisi mereka di Lebanon Selatan, meski gencatan senjata telah disepakati. Keputusan ini diambilnya tanpa melalui persetujuan kabinet, padahal sehari sebelumnya kabinet keamanan Israel secara tegas menolak rencana gencatan senjata dengan Lebanon.
Netanyahu memberikan justifikasi atas keputusannya yang tampak bertolak belakang dengan sikap kabinetnya tersebut.
"Trump meminta ini (gencatan senjata), dan kami memiliki kepentingan dalam hubungan dengan Amerika Serikat. Kami akan tetap berada di Lebanon, di posisi kami sekarang," ujarnya, seperti dikutip oleh stasiun televisi pemerintah KAN.
Konflik antara Israel dan Hizbullah di Lebanon ini merupakan perluasan dari ketegangan regional yang melibatkan Iran, yang dimulai pada awal Maret. Eskalasi militer ini telah menciptakan situasi humaniter yang serius di kawasan perbatasan, dengan ribuan warga sipil terpaksa mengungsi dan korban jiwa yang terus berjatuhan di kedua belah pihak.
Artikel Terkait
Iran Usulkan Tarif Tol di Selat Hormuz, Hadapi Penolakan Keras AS
Iran Klaim Bongkar Jaringan Mossad, Tangkap 35 Tersangka Teroris dan Penyelundup Senjata
Trump Klaim Buka Permanen Selat Hormuz, Klaim Dukungan China dan Realita di Lapangan Masih Dipertanyakan
Kebakaran Kilang Viva Geeland Ancam Pasokan Bensin Nasional