PARADAPOS.COM - Ketegangan antara Amerika Serikat dan Kuba meningkat drastis dalam beberapa pekan terakhir. Angkatan Laut AS menempatkan kapal induk di lepas pantai Kuba, bertepatan dengan perluasan sanksi Gedung Putih terhadap para pemimpin Havana. Di saat yang sama, jaksa federal AS secara resmi mendakwa mantan Presiden Kuba Raúl Castro dengan tuduhan pembunuhan. Menteri Luar Negeri Marco Rubio menyebut kemungkinan kesepakatan dengan pemerintah komunis Kuba sangat kecil, sementara Kuba sendiri mulai bersiap menghadapi kemungkinan konflik militer.
Langkah Agresif Washington
Menurut laporan yang beredar, kampanye tekanan terhadap Havana ini sudah berlangsung berbulan-bulan, terutama setelah blokade minyak yang memicu pemadaman listrik massal di pulau tersebut. Kini, eskalasi itu memunculkan spekulasi: akankah Kuba menjadi target berikutnya AS setelah Venezuela dan Iran? Sebelumnya, AS menggulingkan Presiden Venezuela Nicolás Maduro pada Januari, dan sebulan kemudian melancarkan operasi yang menewaskan pemimpin tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Di Kuba, reaksi keras pun muncul. Para pejabat setempat mengecam dakwaan terhadap Castro sebagai "tindakan politik" yang dianggap sebagai dalih untuk invasi. Mereka menyatakan sedang bersiap menghadapi perang.
Kesiapan Kuba dan Panduan Perang
Carlos Fernández de Cossío, wakil menteri luar negeri Kuba, mengakui bahwa negaranya berharap bisa menghindari konflik. Namun, Havana tetap memperkuat pertahanan mereka. "Kita akan naif jika tidak melakukannya," ujarnya.
Selama berminggu-minggu, pemerintah Kuba menyebarkan pamflet berjudul "Panduan Keluarga untuk Perlindungan Terhadap Agresi Militer" kepada warganya. Pamflet itu menyatakan bahwa AS mengancam akan melancarkan serangan militer dan menghancurkan masyarakat Kuba dengan tujuan melanggengkan kapitalisme serta memusnahkan impian Panglima Tertinggi, Fidel Castro.
Dokumen tersebut memberikan instruksi detail: menyiapkan perlengkapan bertahan hidup, mencari tempat berlindung saat mendengar sirene serangan udara, hingga panduan pertolongan pertama seperti mengikat perban. "Jika musuh menyerang, revolusi kita akan membela diri hingga kemenangan tercapai dan agresor diusir," demikian bunyi dokumen itu.
Krisis Energi yang Mencekik
Di tengah ketegangan politik, warga Kuba menjalani hari-hari dengan cemas namun tetap berusaha fokus pada urusan sehari-hari. Pengiriman minyak mentah pada April—salah satu dari sedikit pengiriman tahun ini—telah habis. Menteri Energi dan Pertambangan Kuba mengumumkan bahwa negara tersebut kekurangan bahan bakar untuk menggerakkan jaringan listrik yang sudah usang. "Kami tidak memiliki cadangan lagi," katanya.
Krisis energi ini menjerumuskan sebagian besar wilayah ke dalam kegelapan. Banyak rumah hanya mendapat listrik beberapa jam setiap hari. Makanan langka atau membusuk karena lemari pendingin tak berfungsi. Sejumlah sekolah ditutup. Mobil dan bus mogok. Bahkan rumah sakit kekurangan daya untuk ventilator.
"Kuba sedang mengalami krisis," kata Michel Fernández Pérez dari organisasi nonpemerintah Cuba Próxima yang berbasis di Florida. "Ini adalah negara di ambang krisis yang fatal. Orang-orang tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya, dan sebagian besar hampir tidak memiliki harapan bahwa keadaan akan benar-benar membaik."
Diplomasi yang Tak Berjalan Mulus
AS dan Kuba sebenarnya telah terlibat dalam pembicaraan selama berbulan-bulan. Pihak Amerika menuntut perombakan ekonomi yang dikelola negara dan sistem politik satu partai di pulau itu. Pekan lalu, Direktur CIA John Ratcliffe bahkan melakukan perjalanan ke Havana untuk berunding.
Namun, para pemimpin Kuba tampaknya enggan memberikan konsesi besar. Havana secara terbuka menyatakan tidak percaya bahwa AS bertindak dengan itikad baik. "Jelas sekali, hal itu tidak membantu iklim dialog dan kepercayaan karena setiap hari ada pernyataan seperti, 'Kami siap mengambil alih Kuba,'" kata duta besar Kuba untuk PBB. "Retorika yang memicu perang tidak membantu."
Dakwaan Bersejarah
Dakwaan terhadap Raúl Castro, saudara laki-laki mendiang Fidel Castro yang kini berusia 94 tahun, menjadi langkah paling agresif yang pernah dilakukan Amerika Serikat. Castro, yang menjabat sebagai menteri pertahanan pada 1990-an, didakwa memerintahkan penembakan jatuh dua pesawat di wilayah Kuba pada 1996. Pesawat itu diterbangkan oleh anggota Brothers to the Rescue, kelompok pengasingan Florida yang menentang rezim Castro. Empat orang tewas dalam insiden tersebut.
Catatan publik menunjukkan bahwa pejabat Kuba mengaku menyerang pesawat-pesawat itu hanya setelah mencoba jalur diplomatik rahasia untuk menghentikan penerbangan tersebut.
Saat mengumumkan dakwaan di Miami, Pelaksana Tugas Jaksa Agung Todd Blanche memuji kasus ini sebagai langkah penting menuju keadilan. Ia percaya Castro pada akhirnya akan datang ke AS untuk diadili. "Ada surat perintah penangkapan yang dikeluarkan untuknya. Jadi kami berharap dia akan datang ke sini, atas kemauannya sendiri atau dengan cara lain," katanya. Namun, apa yang dimaksud dengan 'cara lain' masih belum jelas. Blanche mengatakan itu adalah urusan Departemen Pertahanan dan Departemen Luar Negeri.
Jalur Perang?
Matt Duss, wakil presiden eksekutif di Center for International Policy, menilai bahwa Presiden Trump tampaknya sedang dalam jalur perang. "Sekali lagi dia membawa kita ke dalam konflik tanpa alasan yang jelas," kata Duss, merujuk pada operasi di Venezuela dan Iran.
Pada Maret lalu, Trump menyatakan bahwa ia akan merasa terhormat untuk menguasai Kuba. "Saya dapat melakukan apa pun yang saya inginkan dengannya," ujarnya. Namun, saat ditanya tentang penempatan USS Nimitz di dekat Kuba, Trump membantah bahwa pemerintahannya berupaya mengintimidasi Havana. "Sama sekali tidak," katanya kepada wartawan di Ruang Oval.
Ia kemudian menggambarkan Kuba sebagai 'negara gagal' dan mengatakan bahwa Washington berupaya membantu mereka atas dasar kemanusiaan. "Presiden lain telah mempertimbangkan hal ini selama 50, 60 tahun, untuk melakukan sesuatu. Dan tampaknya sayalah yang akan melakukannya," tambahnya.
Harapan di Tengah Keputusasaan
Sebuah jajak pendapat oleh El Toque, situs berita Kuba, menemukan bahwa 56% penduduk pulau itu mendukung intervensi militer AS. "Itulah tingkat keputusasaan yang saat ini mencengkeram rakyat Kuba," kata Fernández, yang membandingkan kondisi warga Kuba dengan situasi di negara-negara yang dilanda krisis.
Di dalam negeri, kemarahan terhadap pemerintah terus meningkat akibat pemadaman listrik dan puluhan tahun salah urus ekonomi. Protes sporadis memang terjadi, namun dengan cepat diredam. Sebagai bentuk unjuk kekuatan, pemerintah justru mengorganisir protes besar untuk membela Castro di kawasan pejalan kaki tepi laut Havana pada Jumat lalu.
Editor: Laras Wulandari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Presiden Korsel Perintahkan Kajian Penerbitan Surat Perintah Penangkapan Netanyahu
Ledakan Gas di Tambang Shanxi Tewaskan 82 Pekerja, Puluhan Masih Terjebak
Netanyahu Kecewa Keras Usai Trump Tunda Serangan ke Iran atas Desakan Negara Teluk
Aktivis Global Sumud Flotilla Laporkan Pelecehan Seksual dan Kekerasan Fisik oleh Pasukan Israel