PARADAPOS.COM - Partai Amanat Nasional (PAN) mengusulkan pasangan Presiden Prabowo Subianto dengan Ketua Umumnya, Zulkifli Hasan, untuk periode kedua pemilihan presiden mendatang. Usulan ini muncul tak lama setelah Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) juga menyatakan dukungan bagi dua periode kepemimpinan Prabowo, menandai dinamika awal koalisi pendukung pemerintah. Analisis politik melihat langkah ini sebagai bagian dari manuver partai dalam peta koalisi, sekaligus mengisyaratkan pergeseran dukungan dari figur politik lain.
Dukungan PAN dan Persaingan dengan PKB
PAN tidak hanya mendorong wacana dua periode untuk Presiden Prabowo Subianto, tetapi secara spesifik mengusung nama Ketua Umumnya, Zulkifli Hasan, sebagai calon wakil presiden pendamping. Partai ini menilai usulan pasangan Prabowo-Zulhas lebih layak dibandingkan dengan opsi lain, seperti Prabowo berpasangan dengan Muhaimin Iskandar dari PKB.
Dasar argumen PAN adalah kontribusinya dalam kemenangan Prabowo-Gibran Rakabuming Raka pada pemilu lalu, bersama partai-partai koalisi seperti Gerindra, Golkar, dan Demokrat. Selain itu, PAN menyatakan telah tiga kali pemilu setia berada di barisan pendukung Prabowo dan sejak tahun lalu telah lebih dulu menyuarakan dukungan untuk dua periode kepemimpinannya.
“Saat PAN menyatakan dukungan Prabowo dua periode tahun lalu itu, PKB menganggap PAN kecepatan,” tulis analis politik Erizal dalam catatannya.
Kini, dengan PKB yang juga menyatakan posisi serupa, PAN dianggap tak mau kalah dalam mempengaruhi narasi suksesi politik jangka panjang.
Membaca Sinyal di Balik Usulan Pasangan
Yang menarik dari langkah PAN bukan hanya persaingannya dengan PKB, tetapi pilihan nama Zulkifli Hasan itu sendiri. Usulan ini muncul di tengah pernyataan publik dari Presiden ke-7 Joko Widodo yang sebelumnya menegaskan keinginannya agar Prabowo dan Gibran dapat melanjutkan kepemimpinan untuk periode kedua.
Dengan demikian, usulan PAN dinilai secara tidak langsung telah mengabaikan atau bahkan menutup peluang bagi pasangan Prabowo-Gibran untuk maju kembali pada 2029. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang keselarasan sikap PAN dengan Joko Widodo, yang oleh sejumlah petinggi partai itu sendiri pernah disebut sebagai “bosnya” hingga saat ini.
“Pernyataan petinggi PAN bahwa Jokowi masih bosnya, memicu dugaan adanya Matahari Kembar makin kuat,” ungkap Erizal.
Sejak momen itu, PAN terlihat mulai menjaga jarak dan buru-buru mempertegas dukungan penuhnya pada Prabowo, sebuah langkah yang diamati sebagai upaya klarifikasi posisi politik.
Posisi Golkar dan Dinamika Koalisi ke Depan
Dinamika serupa juga menyentuh internal Partai Golkar. Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto, dan figur seperti Bahlil Lahadalia, yang juga dekat dengan Joko Widodo, berada dalam posisi yang diamati secara saksama. Berbeda dengan PAN dan PKB, Golkar sejauh ini masih menyatakan fokus pada penyuksesan pemerintahan Prabowo-Gibran periode pertama, tanpa secara eksplisit mengangkat wacana dua periode.
“Golkar masih fokus menyukseskan Pemerintahan Prabowo-Gibran. Berarti, Golkar masih ragu. Mau ikut Prabowo atau Jokowi? Tapi sepertinya hanya menunggu waktu saja,” tulis Erizal.
Keraguan atau kehati-hatian ini berpotensi menimbulkan gejolak, baik di internal partai maupun dalam hubungannya dengan partai koalisi lain yang sudah lebih definitif sikapnya. Prabowo Subianto, sebagai pemimpin koalisi, diprediksi tidak akan membiarkan situasi keraguan ini berlarut-larut, mengingat stabilitas koalisi pemerintah sangat krusial untuk agenda kerja ke depan.
Langkah-langkah politik yang diambil PAN, PKB, dan respons Golkar ini menjadi penanda awal bagaimana peta dukungan untuk pemilihan presiden 2029 mulai digambar, jauh sebelum pertarungan resmi dimulai. Setiap manuver partai tidak hanya soal dukungan personal, tetapi juga negosiasi posisi dan pengaruh dalam struktur kekuasaan yang akan datang.
(Ditulis oleh Erizal, Direktur ABC Riset & Consulting)
Artikel Terkait
Wali Kota Bekasi Tanggapi Ancaman Golok Saat Penertiban PKL
Pengacara Klaim Denada Punya Tiga Anak, Ungkap Gaya Hidup Masa Lalu
Selebritas Ambon Gilcan Diterpa Kontroversi Video 54 Detik Usai Ungkap Tarif Endorse Rp1,5 Juta per Menit
Pengacara Klaim Denada Memiliki Tiga Anak, Bukan Dua