Analis Nilai Peluang Sjafrie Sjamsoeddin Jadi Cawapres Prabowo di 2029 Sangat Kecil

- Rabu, 18 Februari 2026 | 15:25 WIB
Analis Nilai Peluang Sjafrie Sjamsoeddin Jadi Cawapres Prabowo di 2029 Sangat Kecil

PARADAPOS.COM - Wacana pencalonan Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin sebagai calon wakil presiden mendampingi Prabowo Subianto pada Pilpres 2029 dinilai memiliki peluang yang sangat kecil. Analisis ini disampaikan oleh pengamat politik Ray Rangkuti, yang menilai kesamaan latar belakang militer keduanya sebagai faktor krusial yang akan sulit diterima oleh peta politik Indonesia.

Analisis Latar Belakang Militer yang Identik

Menurut Ray Rangkuti, mempertemukan dua figur dengan akar karir yang sama di dunia militer dalam satu pasangan capres-cawapres merupakan skenario yang tidak realistis. Dalam pandangannya, konfigurasi semacam itu berpotensi menimbulkan resistensi, baik di kalangan elit politik maupun di mata publik yang mungkin menginginkan representasi yang lebih berimbang.

"Sebenarnya agak sulit Sjafrie dipasangkan dengan Pak Prabowo. Rasanya enggak mungkin ada dua orang TNI dipasangkan bersama-sama," tuturnya kepada wartawan, Rabu (18/2/2026).

Dinamika Internal dan Persaingan di Bursa yang Sama

Lebih lanjut, Ray menjelaskan bahwa bahkan jika Sjafrie tidak berpasangan dengan Prabowo, dinamika yang muncul tetap kompleks. Keduanya, menurutnya, akan berkompetisi di segmen pemilih yang relatif serupa, yang justru bisa memecah suara daripada memperkuat posisi.

"Kalau dia tidak dengan Pak Prabowo, itu sepertinya kayak perlombaan di bursa yang sebenarnya sama," jelasnya.

Ray juga menyoroti kemungkinan persepsi subjektif di internal kekuasaan. Kehadiran nama baru dalam bursa pencalonan bisa dilihat dari dua sudut pandang yang bertolak belakang oleh para elite.

"Bisa saja Pak Prabowo melihat ini peluang, atau sebaliknya melihat ini semacam ancaman," tambahnya.

Dampak Positif bagi Ruang Pilihan Publik

Di balik analisis politik yang rumit tersebut, Ray Rangkuti melihat sisi positif dari semakin ramainya bursa calon. Menurutnya, hal ini pada akhirnya menguntungkan demokrasi dan kedaulatan rakyat dalam menentukan pilihannya.

"Masyarakat akan memiliki lebih banyak alternatif dalam menentukan pilihan politik," pungkas Ray, menutup paparannya.

Editor: Rico Ananda

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar