Studi Forensik Ungkap Firaun Mesir Kuno Derita Penyakit Berat dan Meninggal Muda

- Minggu, 22 Februari 2026 | 22:25 WIB
Studi Forensik Ungkap Firaun Mesir Kuno Derita Penyakit Berat dan Meninggal Muda

PARADAPOS.COM - Sebuah studi medis forensik yang dilakukan pada era 1960-an mengungkap kondisi kesehatan para penguasa Mesir Kuno. Penelitian yang dipimpin oleh ahli dari Universitas Michigan dan American University Kairo ini menggunakan teknologi sinar-X untuk memeriksa mumi-mumi firaun dan keluarganya yang disimpan di Museum Kairo. Hasilnya menunjukkan bahwa banyak dari para raja yang digambarkan perkasa itu ternyata hidup dengan berbagai penyakit berat, mulai dari gangguan tulang, masalah gigi, hingga penyakit degeneratif, dan sering kali meninggal dalam usia yang relatif muda.

Proyek Penyelamatan yang Membuka Tabir Medis Kuno

Kesempatan langka untuk meneliti para firaun ini bermula dari sebuah proyek penyelamatan arkeologi berskala besar. Pada tahun 1965, ketika bendungan Aswan baru selesai dibangun dan permukaan air Sungai Nil mulai naik, tim dari berbagai negara bergegas menyelamatkan situs-situs bersejarah yang terancam tenggelam. Sementara insinyur Jerman memindahkan kuil Abu Simbel, para arkeolog Mesir dan Amerika menyisir daerah-daerah terpencil di Nubia. Mereka mengumpulkan ribuan mumi penduduk biasa yang terawetkan dengan baik oleh pasir gurun yang panas.

Dari situs inilah, dokter gigi Profesor James E. Harris dan rekan-rekannya tertarik untuk mempelajari lebih jauh. Penelitian yang awalnya fokus pada perkembangan gigi dan tengkorak itu kemudian mendapat izin istimewa dari Kementerian Barang Antik Mesir. Mereka diperbolehkan memeriksa sisa-sisa jasad para penguasa tertinggi Mesir Kuno. Di Galeri 52 Museum Kairo, di bawah pengawasan direktur museum Henry Riad, peti-peti mati (sarkofagus) dibuka dan setiap mumi difoto dengan sinar-X secara khusus.

Penderitaan di Balik Kemewahan Kerajaan

Gambaran yang muncul dari hasil rontgen itu jauh dari citra firaun yang sehat dan perkasa. Sebaliknya, terungkap sebuah catatan medis yang penuh penderitaan. Temuan penting ini kemudian dibukukan dalam karya ilmiah populer berjudul "X-raying the Pharaohs" yang ditulis oleh Harris dan antropolog Profesor Kent R. Weeks.

Salah satu penguasa paling termasyhur, Ramses II atau Ramses Agung, sang pembangun Abu Simbel, ternyata hidup dengan beban penyakit yang berat. Foto-foto rontgen menunjukkan dia menderita artritis parah di sendi pinggul dan pengerasan pembuluh darah (arteriosklerosis) di kaki.

"Foto-foto rontgen menunjukkan bahwa dia menderita artritis berat pada tulang sendi pinggul dan arteriosklerosis di pembuluh-pembuluh darah utama kaki," jelas Harris dan Weeks dalam laporannya.

Kondisi itu, yang mungkin disebut sebagai "kaki dingin" akibat gangguan peredaran darah, pastilah sangat menyiksa. Setiap gerakan tubuhnya pasti menimbulkan rasa sakit. Di samping itu, arsitek ulung yang dikabarkan memiliki lebih dari seratus anak ini juga menderita abses dan gigi yang keropos.

Masalah gigi akibat kebersihan mulut yang buruk rupanya menjadi penyakit umum di kalangan istana. Merneptah, putra dan penerus Ramses II, pada masa pemerintahannya hanya menyisakan beberapa gigi saja. Yang menarik, firaun yang diduga memerintah saat eksodus bangsa Yahudi ini juga menunjukkan tanda-tanda pengebirian sesaat sebelum meninggal, mungkin terjadi selama proses pembalseman.

"Alasannya menurut Harris dan Weeks 'hanya dapat diterka-terka saja'," ungkap laporan tersebut.

Rentetan Penyakit Para Penguasa

Daftar penderitaan para firaun ternyata sangat panjang. Amosis, misalnya, menderita rematik dan sebuah penyakit keturunan yang membuat darahnya sulit membeku, sehingga ia tidak disunat. Thutmosis I mengalami patah tulang pinggul, sementara tubuh Amenhotep II dipenuhi benjolan di area leher, bahu, dan badan.

Ratu Nefertari, saudara sekaligus istri Amosis, memiliki susunan gigi yang tidak beraturan dan kepala yang setengah botak, yang biasanya ditutupi dengan wig. Amenhotep IV, yang lebih dikenal sebagai Akhenaten, menunjukkan perkembangan organ seksual yang kurang sempurna. Meski masih muda, tubuhnya sudah gemuk. Firaun Spitah memiliki satu kaki yang lebih kecil akibat kelumpuhan di masa kanak-kanak, sebuah fakta yang terungkap jelas dari citra sinar-X.

Amenhotep III disebut meninggal karena cacar dan juga menderita hernia. Begitu banyaknya penyakit yang mendera raja ini sampai-sampai Raja Tushratta dari Babilon mengirimkan patung dewa kesehatan sebagai hadiah untuknya.

Kejutan Lain dari Dalam Sarkofagus

Selain mengungkap kondisi kesehatan, teknologi sinar-X juga berhasil mengintip benda-benda yang dibawa para mumi ke alam baka, yang luput dari pencuri makam maupun para arkeolog sebelumnya. Amenhotep I, misalnya, masih mengenakan jimat di tangan kanan dan kalung mutiara yang melilit pinggangnya. Pada mumi Yuya, ayah dari seorang ratu, ditemukan lempengan emas yang digunakan untuk menutup irisan pembedahan di perut.

Citra sinar-X pada Ratu Nodjme bahkan dengan jelas menunjukkan mata buatan, patung kayu berbentuk hewan, otak yang diawetkan, serta empat patung penjaga di rongga dadanya.

Misteri Identitas dan Bungkusan yang Mengejutkan

Beberapa temuan justru memunculkan teka-teki baru. Mumi yang diidentifikasi sebagai Thutmosis I menunjukkan struktur tulang seperti pria berusia 18-20 tahun, padahal catatan sejarah menyebutkan ia memerintah selama sepuluh tahun dan meninggal sekitar usia 50 tahun. Hal ini menimbulkan beberapa kemungkinan: terjadi pertukaran mumi dengan jasad seorang pendeta, ketidakakuratan penulisan sejarah, atau Thutmosis I mengidap kelainan pertumbuhan tulang yang parah.

Kejutan lain datang dari peti mati Pendeta Wanita Makare. Selama ini, mumi kecil yang disimpan bersamanya selalu diduga sebagai bayi yang mungkin dilahirkannya. Namun, analisis sinar-X membuktikan dugaan itu salah.

Ternyata 'bungkusan yang diikat erat-erat' itu isinya bukan anak, tetapi kera betina," tutur Harris dan Weeks dalam penjelasannya.

Penemuan ini, seperti halnya seluruh proyek penelitian tersebut, tidak hanya mengungkap penyakit, tetapi juga menyoroti praktik, kepercayaan, dan terkadang kesalahan identifikasi dalam sejarah panjang Mesir Kuno. Di balik kemewahan, kekuasaan, dan kedigdayaan yang diproyeksikan melalui patung dan monumen, ternyata tersimpan kisah manusia-manusia yang rentan, yang hidup dan berkuasa sambil menanggung berbagai kelemahan fisik.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar