PARADAPOS.COM - Analis komunikasi politik Hendri Satrio mempertanyakan rencana impor massal sekitar 105 ribu unit mobil pikap dari India untuk mendukung Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih. Kritiknya muncul di tengah kondisi industri otomotif nasional yang masih berjuang pulih pasca-pandemi. Menurutnya, kebijakan ini berisiko memukul produsen dalam negeri yang sebenarnya memiliki kapasitas memproduksi kendaraan serupa, sekaligus menutup peluang kebangkitan merek lokal.
Pertanyaan Mendasar di Balik Rencana Impor Massal
Hendri Satrio, yang juga founder Lembaga Survey Kedai Kopi, menyoroti esensi dari rencana pemerintah tersebut. Ia mempertanyakan logika di balik impor dalam skala yang sangat besar, sementara pasar domestik sedang mengalami tekanan. Industri otomotif lokal, ungkapnya, masih dalam fase pemulihan yang rentan. Alih-alih mendatangkan kendaraan dari luar, pemanfaatan kapasitas produksi dalam negeri dinilainya sebagai langkah yang lebih strategis, baik untuk ketahanan industri maupun ekonomi.
“Kenapa musti impor segitu banyak? Harusnya rencana ini dibatalkan karena membahayakan industri dalam negeri. Mestinya kita bikin sendiri saja pick-up itu, kita industri dalam negeri kan lagi megap-megap juga ini,” tegas Hensa dalam keterangannya, Selasa 24 Februari 2026.
Peluang Kebangkitan untuk Industri Lokal
Lebih jauh, Hensa melihat potensi besar yang justru terlewatkan. Pesanan pemerintah dalam volume tinggi, seperti 105 ribu unit, seharusnya bisa menjadi stimulus bagi manufaktur lokal. Ia menggambarkan bagaimana permintaan yang pasti dan berskala besar dapat menjadi katalisator bagi perkembangan pesat sektor otomotif nasional, bahkan membuka ruang bagi merek-merek yang sebelumnya tersendat.
“Kalau memang ada pesanan dari pemerintah, bayangkan Esemka bisa tiba-tiba muncul lagi tuh. Pasti Esemka tidak ingin ketinggalan,” ujarnya menambahkan.
Seruan Kehati-hatian dan Pemberian Kesempatan
Di akhir pernyataannya, analis yang kerap menyoroti kebijakan publik ini menekankan pentingnya kehati-hatian pemerintah. Ia meyakini bahwa dengan dukungan dan kesempatan yang tepat, industri dalam negeri—termasuk merek-merek yang mungkin belum terdengar—mampu memenuhi kebutuhan tersebut. Impor, menurutnya, seharusnya bukan menjadi opsi utama, melainkan jalan terakhir setelah semua potensi domestik digali maksimal.
“Jadi jangan diimpor semua, harus hati-hati dalam menyikapi ini, dan akan sangat baik bila diberikan kesempatan pada industri otomotif dalam negeri,” tutup Hensa menegaskan poinnya.
Artikel Terkait
Virgoun dan Lindi Fitriyana Resmi Nikah 26 Februari 2026, Administrasi di KUA Rampung
Anggota Brimob Minta Maaf di Sidang Kode Etik Usai Aniaya Pelajar Tewas
MAKI Soroti Kontradiksi Pernyataan Jokowi Soal Revisi UU KPK
ICW Minta KPK Awasi Ketat Skema Triliunan Rupiah di Program Gizi Polri