PARADAPOS.COM - Suasana tegang mewarnai malam Senin (15/6) di Joglo Gelanggang Inovasi dan Kreativitas (GIK) Universitas Gadjah Mada (UGM), Jogjakarta. Sebuah diskusi bertajuk “Pancasila Pemersatu Bangsa Indonesia” yang digelar oleh Total Politik berujung pada aksi protes mahasiswa. Tiga pejabat Kabinet Merah Putih—Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN Nusron Wahid, Wakil Menteri Pertanian Sudaryono, serta Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko—menjadi sasaran kemarahan massa. Insiden ini memaksa Budiman Sudjatmiko melarikan diri lewat pintu belakang, sementara Nusron dan Sudaryono harus dievakuasi aparat kepolisian dengan pengawalan ketat.
Protes Mahasiswa dan Reaksi Pejabat
Aksi protes digelar oleh Serikat Mahasiswa (SEMA) UGM. Mereka menolak kehadiran para pejabat tersebut di kampus. Menurut para mahasiswa, diskusi tentang Pancasila terasa ironis di tengah gelombang demonstrasi yang terjadi di berbagai daerah.
Budiman Sudjatmiko, mantan aktivis 1998, memilih langkah cepat. Ia meninggalkan lokasi melalui pintu belakang saat massa mulai berdatangan. Sementara itu, Nusron Wahid dan Sudaryono sempat berdialog dengan kelompok mahasiswa. Namun, situasi yang kian memanas membuat aparat kepolisian mengambil alih pengamanan. Keduanya dievakuasi menggunakan patwal dengan pengawalan ketat.
Kritik Tajam dari Ketua SEMA UGM
Ketua SEMA UGM, Sheron Adam Funay, menyampaikan pernyataan keras terkait insiden ini. Dalam keterangannya pada Selasa (16/6), ia menilai para pejabat tersebut tidak layak membahas nilai-nilai Pancasila.
"Di kala masyarakat sudah terlalu sesak dengan kebodohan pemerintah dalam menangani berbagai permasalahan yang terjadi di negeri ini. Rakyat di berbagai kota sudah turun ke jalan, berteriak dengan serenteng tuntutannya, tapi di mana pemerintah saat itu?" ujar Sheron.
Ia melanjutkan dengan nada yang sama tajamnya.
"Terhinalah mereka ketika berbicara mengenai nilai-nilai Pancasila di tengah kondisi suara rakyat dibungkam, dikriminalisasi, dan kritik dianggap gangguan," sambungnya.
Sheron juga mempertanyakan konsistensi para pejabat. Menurutnya, mereka berbicara soal keadilan, kemanusiaan, dan kesejahteraan, namun di sisi lain justru berfoya-foya dan menghambur-hamburkan uang negara untuk program serta kunjungan luar negeri yang tidak bermanfaat.
Anggaran Negara dan Prioritas Pemerintah
Ia menegaskan, anggaran negara seharusnya dialokasikan untuk hal-hal yang lebih mendesak. Pendidikan gratis, perbaikan sekolah, menambal defisit BPJS, dan subsidi BBM adalah beberapa contoh yang ia sebutkan.
Namun, Sheron menilai rezim Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka buta terhadap kondisi sosial. Menurutnya, pemerintah lebih mementingkan program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menyerap habis APBN dan Koperasi Desa Merah Putih yang ia anggap nirmanfaat.
"Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya rezim layani? Cita-cita Pancasila atau cita-cita untuk berkuasa?" pungkasnya.
Editor: Bagus Kurnia
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Wamentan Sudaryono: Dialog di UGM Ricuh, Saya Dilempar Air dan Dipukul
Trump Gelar UFC Komersial di Gedung Putih untuk Rayakan Ulang Tahun ke-80, Picu Protes Korupsi
Mahasiswa UGM Bubarkan Diskusi Pancasila, Sebut Pejabat Tak Pantas Bicara Ideologi di Tengah Krisis
Nenek 72 Tahun di Bondowoso Diduga Dilecehkan Pria Modus Tukang Ramal