Kota Melbourne pernah menampung, per kapita, populasi penyintas Holocaust terbesar di luar Israel.
Netanyahu murka ketika PM Albanese mengumumkan, pada 11 Agustus lalu, rencana Australia untuk secara resmi mengakui negara Palestina di hadapan Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada September mendatang.
Langkah Australia ini menyusul langkap serupa dari Prancis, Inggris dan Kanada.
Sembilan hari setelah pengumuman itu, hubungan antara Australia dan Israel memburuk.
Canberra, pada Senin (18/8), membatalkan visa anggota parlemen Israel Simcha Rothman -- anggota koalisi pemerintahan Netanyahu -- dengan alasan rencana tur pidatonya di Australia akan "menyebarkan perpecahan".
Tel Aviv membalas dengan mencabut visa perwakilan Australia untuk Otoritas Palestina.
Menteri Luar Negeri Gideon Saar menyebut langkah itu "menyusul keputusan Australia untuk mengakui 'negara Palestina' dan dengan latar belakang penolakan Australia yang tidak beralasan untuk memberikan visa kepada sejumlah tokoh Israel".
Netanyahu kemudian meluapkan kemarahannya via media sosial dengan menyerang PM Albanese.
"Sejarah akan mengingat Albanese untuk siapa dia sebenarnya: Seorang politikus lemah yang mengkhianati Israel dan menelantarkan orang-orang Yahudi di Australia," kata Netanyahu dalam pernyataan via akun media sosial resmi kantor PM Israel.
Sumber: Detik
Artikel Terkait
Anrez Adelio Dilaporkan ke Polisi: Kronologi Pelecehan hingga Korban Hamil 8 Bulan
Bahlil Lahadalia Tersenyum Lebar Dijuluki Mutiara dari Timur, Reaksinya Viral
Deolipa: Komedi Pandji Pragiwaksono Hina Gibran, Bisa Dipidana Menurut KUHP Baru
Dentuman Misterius di Cianjur: PVMBG Sebut Fenomena Elektromagnetik, BMKG Duga Aktivitas Manusia