Deolipa Sebut Komedi Pandji Pragiwaksono Kelewat Batas, Bisa Dipidana Jika Gibran Laporkan
Praktisi hukum, Deolipa Yumara, menilai komedi Pandji Pragiwaksono dalam acara Mens Rea sudah kelewat batas dan berpotensi dipidana. Menurutnya, materi yang disampaikan Pandji dinilai telah menghina Wakil Presiden Republik Indonesia, Gibran Rakabuming Raka.
Deolipa menyatakan bahwa tindakan Pandji yang memparodikan mimik dan sikap seorang pejabat negara dapat menurunkan martabat jabatan tersebut. "Kalau dengar dari cerita ada perilaku-perilaku dari Pandji, kata-katanya, mimik-mimiknya tampaknya menyindir, mengkritik atau bahkan patut diduga menghina Gibran sebagai wakil presiden," ujar Deolipa dalam tayangan YouTube Berissi, Selasa (6/1/2026).
Kritik yang Seharusnya Berfokus pada Program Kerja
Deolipa menegaskan bahwa kritik yang sehat seharusnya diarahkan pada program kerja dan kebijakan, bukan pada karakter pribadi atau fisik seorang pejabat. "Yang dikritik itu program kerjanya seperti apa, berhasil apa tidaknya, itu yang dikritik," jelasnya.
Ia menambahkan, meski niat Pandji mungkin mengkritik melalui komedi, cara penyampaiannya dinilai menyinggung perasaan dan martabat. "Komedi yang bagus itu yang membuat kemudian bergembira, tertawa tanpa menyinggung perasaan orang lain," tegas Deolipa.
Ancaman Pidana Menurut KUHP Baru
Deolipa mengingatkan adanya pasal penghinaan terhadap Presiden dan Wakil Presiden dalam KUHP baru (Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023). Jika materi komedi dinilai menghina dan merendahkan martabat Wapres, maka pelakunya dapat dipidana.
"Karena ini adalah delik aduan, delik sifatnya wapres sendiri yang harus melaporkan," jelas Deolipa. Namun, ia memperkirakan Gibran kecil kemungkinan akan membawa kasus ini ke ranah hukum. "Rasa-rasanya jauh dari terjadinya laporan pidana dari Wapres Gibran sendiri. Tapi bisa dipidana," pungkasnya.
Kontroversi dan Kecaman Publik
Komedi Pandji Pragiwaksono dalam special show Mens Rea sebelumnya telah memicu kontroversi dan kecaman dari berbagai pihak, termasuk pakar pendidikan Ina Liem dan musisi dr. Tompi. Mereka menilai tidak pantas menjadikan fisik seseorang sebagai bahan candaan.
Insiden ini kembali menyoroti batas antara kebebasan berekspresi dalam komedi dengan penghormatan terhadap institusi dan jabatan negara.
Artikel Terkait
Percakapan WhatsApp Ungkap Suasana Panik Saat Pembacokan di UIN Suska Riau
Pemerintah Impor 1.000 Ton Beras AS, Pengamat Pertanyakan Konsistensi Swasembada
Ustaz Abdul Somad Soroti Pembacokan Mahasiswi UIN Suska Riau, Ingatkan Bahaya Pergaulan Bebas
Jokowi Tegaskan Selesaikan Polemik Ijazah Palsu Lewat Jalur Pengadilan