PARADAPOS.COM - Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi membubarkan parlemen dan menetapkan pemilihan umum nasional pada 8 Februari, sebuah langkah mendadak yang bertujuan mengukuhkan posisi politiknya. Keputusan snap election ini, yang diumumkan bulan lalu, mengejutkan banyak kalangan, termasuk di dalam partainya sendiri, dan menandai babak baru dalam peta politik Jepang yang sedang berubah.
Sebuah Taruhan Politik
Rumor pemilu dadakan telah beredar sejak Takaichi mulai menjabat pada Oktober lalu. Meski banyak pengamat memperkirakan pemerintah akan menunggu pengesahan anggaran 2026 di Maret mendatang, Takaichi memilih untuk bergerak cepat. Dalam sebuah konferensi pers yang tegas, ia secara terbuka mengakui besarnya risiko keputusan ini.
“Saya mempertaruhkan masa future saya sebagai perdana menteri,” ujarnya. “Saya ingin rakyat memutuskan secara langsung apakah mereka dapat mempercayakan pengelolaan negara kepada saya,” lanjut Takaichi, menegaskan keinginannya untuk mendapatkan mandat langsung dari publik.
Latar Belakang dan Kalkulasi Koalisi
Langkah ini tidak terlepas dari dinamika koalisi yang rapuh. Setelah keruntuhan aliansi jangka panjang Partai Demokrat Liberal (LDP) pimpinan Takaichi dengan Komeito, partai berkuasa membentuk blok baru dengan Japan Innovation Party (Ishin). Aliansi ini hanya memberi mereka mayoritas tipis satu kursi di majelis rendah, dengan dukungan tambahan dari anggota independen.
Dalam analisis politik, keputusan menggelar pemilu dadakan dinilai sebagai strategi untuk memanfaatkan popularitas Takaichi yang masih kuat. Tujuannya adalah memperkuat posisi LDP sekaligus mengokohkan cengkeraman koalisi baru tersebut terhadap kekuasaan, menciptakan pemerintahan yang lebih stabil.
Proyeksi Kemenangan dan Tantangan Ekonomi
Jajak pendapat terbaru, seperti yang dirilis The Asahi Shimbun, menunjukkan peluang positif bagi LDP. Partai tersebut berpeluang melampaui ambang 233 kursi untuk meraih mayoritas mandiri, meningkat dari 198 kursi yang dipegang saat ini. Secara keseluruhan, blok partai berkuasa diproyeksikan dapat meraih lebih dari 300 kursi.
Namun, di tengah optimisme tersebut, muncul sinyal peringatan dari sektor ekonomi. Menjelang pemilu, nilai tukar yen melemah hingga mendekati titik terendah dalam dua pekan. Tekanan pada perekonomian ini berpotensi menjadi faktor yang memengaruhi sentimen pemilih di hari pemungutan suara.
Dukungan Publik dan Warisan Politik
Sanae Takaichi, sebagai perdana menteri perempuan pertama Jepang, telah menikmati tingkat persetujuan publik yang kuat sejak berkuasa, dengan rata-rata dukungan di atas 70 persen. Yang mencolok, ia berhasil meraih dukungan luar biasa dari pemilih muda. Survei menunjukkan lebih dari 90 persen pemilih berusia 18 hingga 29 tahun menyatakan dukungan kepadanya, sebuah pencapaian yang membedakannya dari para pendahulu.
Posisi LDP sendiri masih dalam proses pemulihan. Saat ini, mereka menguasai 198 dari total 465 kursi, sebuah hasil dari performa buruk pada pemilu 2024 di bawah kepemimpinan sebelumnya. Ketergantungan pada Ishin dalam koalisi baru membuat Takaichi berupaya keras untuk mengamankan mayoritas yang lebih jelas dan mandiri bagi LDP–Ishin melalui pemilu kali ini.
Artikel Terkait
Presiden Jokowi Tiba di Malang untuk Hadiri Puncak Satu Abad NU
Ribuan Suporter Banjiri Indonesia Arena Sambut Final Sejarah Timnas Futsal
Pemerintah Baru Yaman Resmi Bertugas, Fokus Perbaiki Layanan Publik dan Berantas Korupsi
Pemprov DKI Salurkan Bantuan Rp300 Ribu per Bulan untuk Lansia Rentan Mulai Pekan Ini