Pemerintah Baru Yaman Resmi Bertugas, Fokus Perbaiki Layanan Publik dan Berantas Korupsi

- Sabtu, 07 Februari 2026 | 12:25 WIB
Pemerintah Baru Yaman Resmi Bertugas, Fokus Perbaiki Layanan Publik dan Berantas Korupsi

PARADAPOS.COM - Pemerintah Yaman yang baru, di bawah kepemimpinan Perdana Menteri Shaya al-Zindani, secara resmi memulai tugas dengan janji untuk memperbaiki kondisi hidup warga dan memberantas korupsi. Kabinet yang terdiri dari 34 menteri, termasuk tiga perempuan, ini dibentuk setelah proses konsultasi panjang di Riyadh dan di tengah situasi negara yang masih dilanda konflik bersenjata serta krisis kemanusiaan yang parah.

Fokus Pemerintahan Baru: Pelayanan Publik dan Pemberantasan Korupsi

Menyusul pengumuman susunan kabinetnya, Shaya al-Zindani menegaskan komitmen pemerintahannya melalui sebuah pernyataan di media sosial. Ia menyatakan bahwa prioritas utama akan diberikan pada perbaikan layanan publik, penguatan institusi negara, dan upaya serius memberantas korupsi. Langkah-langkah ini digambarkan sebagai bagian dari upaya memulihkan negara dan menciptakan stabilitas.

Dalam pernyataannya, al-Zindani menekankan pentingnya kerja sama tim. "Prioritas pemerintah pada fase mendatang akan berfokus pada peningkatan kondisi hidup dan layanan bagi warga, pemberantasan korupsi, pengembangan kinerja institusi, serta penguatan kemitraan dengan saudara dan sahabat," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa pendekatan ini bertujuan untuk mengakhiri apa yang disebutnya sebagai kudeta dan membangun kembali fondasi negara. Al-Zindani juga secara khusus menyoroti dukungan Arab Saudi di berbagai bidang, mulai dari politik hingga bantuan kemanusiaan, sebagai faktor penting bagi Yaman.

Harapan di Tengah Tantangan Berat

Perdana Menteri yang baru dilantik itu mendorong para menterinya untuk bekerja maksimal dan tetap dekat dengan masyarakat. Seruannya ini disampaikan dengan kesadaran akan penderitaan panjang yang dialami rakyat Yaman, yang kini menantikan perubahan nyata.

Pembentukan kabinet ini menandai babak baru setelah pengunduran diri Perdana Menteri sebelumnya, Ahmad Awad bin Mubarak, pada awal Mei 2025. Tidak seperti kabinet sebelumnya, formasi kali ini menyertakan perwakilan perempuan. Proses pembentukannya sendiri merupakan hasil dari negosiasi berbulan-bulan di ibu kota Arab Saudi, yang berhasil meredakan ketegangan dengan kelompok Southern Transitional Council.

Lanskap Konflik yang Tetap Membayangi

Meski ada langkah politik baru, tantangan terberat Yaman masih belum teratasi. Negara itu tetap terbelah oleh perang saudara yang telah berlangsung bertahun-tahun antara pasukan pemerintah dan kelompok Houthi. Konflik yang kompleks ini telah menciptakan salah satu bencana kemanusiaan terburuk di dunia saat ini.

Data dari Perserikatan Bangsa-Bangsa memperlihatkan gambaran yang suram: sekitar 80 persen populasi, atau hampir 30 juta jiwa, masih sangat bergantung pada bantuan luar untuk memenuhi kebutuhan pokok mereka. Situasi ini menjadi latar belakang sekaligus ujian sesungguhnya bagi setiap janji pemerintahan baru untuk membawa perbaikan dan stabilitas ke Yaman.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar