PARADAPOS.COM - Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA) menargetkan peluncuran misi Artemis II pada Maret 2026, sebuah penerbangan berawak bersejarah yang akan mengantar empat astronot mengelilingi Bulan. Misi ini, yang pertama dengan awak manusia dalam program Artemis, bertujuan untuk membuktikan kemampuan sistem roket SLS dan kapsul Orion sebelum pendaratan di Bulan. Namun, target tersebut diwarnai oleh evaluasi mendalam terhadap keamanan perisai panas kapsul, yang sempat mengalami kerusakan tak terduga pada misi uji coba tanpa awak sebelumnya.
Target Peluncuran di Tengah Evaluasi Teknis
Setelah melalui serangkaian penundaan untuk memastikan kesiapan, dokumen internal terbaru NASA menunjukkan bahwa badan antariksa itu kini membidik jendela peluncuran awal tahun 2026. Tanggal-tanggal utama yang diincar adalah antara 6 hingga 9 Maret, dengan opsi cadangan pada 11 Maret. Jika target Maret tidak tercapai, NASA telah menyiapkan opsi lain di awal April.
Penetapan jadwal ini merupakan langkah maju setelah sebelumnya misi ini tertunda akibat beberapa kendala teknis yang muncul selama persiapan. Latihan peluncuran yang intensif mengungkap masalah seperti kebocoran bahan bakar hidrogen pada roket Space Launch System (SLS) dan masalah pada katup kapsul Orion, yang semuanya telah ditangani dan diganti.
Kekhawatiran Seputar Perisai Panas Orion
Di balik optimisme menuju peluncuran, misi Artemis II justru dihadapkan pada sorotan kritis terkait keandalan perisai panas kapsul Orion. Kekhawatiran ini muncul dari data misi Artemis I pada 2022, yang dilakukan tanpa awak. Saat itu, perisai panas berbahan Avcoat mengalami ablasi atau pengikisan yang tidak merata, di mana beberapa potongan material terlepas dan meninggalkan bekas hangus yang lebih dalam dari perkiraan.
Insiden tersebut memicu perdebatan di kalangan insinyur dan pakar keselamatan. Beberapa pihak, termasuk mantan astronot dan insinyur NASA Charles Camarda, mempertanyakan keputusan untuk melanjutkan misi berawak dengan desain perisai panas yang sama tanpa melakukan uji terbang tambahan tanpa awak terlebih dahulu. Mereka menilai langkah itu mengandung risiko yang perlu dikaji lebih hati-hati.
Menanggapi kekhawatiran itu, pejabat NASA menyatakan bahwa mereka telah melakukan modifikasi signifikan pada rencana penerbangan. "Dari perspektif risiko, kami merasa sangat yakin," tegas seorang pejabat senior NASA dalam sebuah konferensi pers pada September 2025. Mereka menjelaskan bahwa jalur masuk kembali kapsul ke atmosfer Bumi telah diubah agar lebih singkat, yang diharapkan dapat mengurangi tekanan termal dan beban pada perisai panas. Langkah-langkah mitigasi lainnya juga telah diterapkan berdasarkan pembelajaran dari Artemis I.
Kru dan Perjalanan Bersejarah
Misi ini akan membawa empat astronot pilihan: Reid Wiseman, Victor Glover, Christina Koch, dan Jeremy Hansen. Mereka akan melakukan perjalanan selama sekitar 10 hari dengan menumpangi kapsul Orion, yang dirancang khusus untuk misi jarak jauh ke lingkungan antariksa yang dalam. Setelah diluncurkan oleh roket SLS yang perkasa, kru akan melakukan manuver mengelilingi Bulan sebelum akhirnya memulai perjalanan pulang yang kritis, di mana perisai panas akan diuji ketangguhannya saat melindungi awak dari suhu ekstrem saat masuk kembali ke atmosfer Bumi.
Keputusan untuk melanjutkan dengan jadwal yang ambisius sambil terus mengevaluasi temuan teknis mencerminkan kompleksitas dan tantangan sejati dari eksplorasi antariksa berawak. NASA terus menegaskan bahwa keselamatan kru adalah prinsip yang tidak bisa ditawar, meski mengakui bahwa selalu ada elemen ketidakpastian dalam setiap penerbangan pionir seperti ini.
Artikel Terkait
Pemerintah Siapkan Skema Rusun Subsidi untuk MBR Melalui Kemitraan Swasta
KAI Catat Lonjakan Penumpang Kereta di Jateng-DIY Awal 2026
Faldo Series Indonesia Memanas, Kifata Aftar dan Yujun Cha Pimpin Klasemen
Bulog Targetkan Ekspor 1 Juta Ton Beras ke Asia Tenggara pada 2026