PARADAPOS.COM - Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) memilih untuk menunda rencana penawaran saham perdana (IPO) bagi perusahaan-perusahaan BUMN di bawah pengelolaannya hingga tahun 2027. Keputusan strategis ini diambil untuk memfokuskan sumber daya pada proses restrukturisasi internal yang mendalam, mencakup penyelesaian 41 rencana kerja strategis seperti merger, penataan aset, dan penulisan ulang model bisnis.
Fokus pada Konsolidasi Internal
Menurut Dony Oskaria, Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pengaturan BUMN, setiap calon emiten BUMN harus melalui proses evaluasi bertahap sebelum diputuskan layak melantai di bursa. Tahapan itu dimulai dari tinjauan fundamental bisnis, konsolidasi, penulisan ulang model bisnis, hingga penciptaan nilai.
“Memang untuk tahun ini kita belum ada [IPO] yang akan kami lakukan,” tegas Dony dalam penjelasannya di Jakarta, Selasa (10/2/2026).
Penundaan ini menunjukkan pendekatan kehati-hatian dari pengelola. Alih-alih terburu-buru mengejar pencatatan di Bursa Efek Indonesia (BEI), Danantara lebih memprioritaskan agenda "bersih-bersih" dan pembenahan fundamental di tubuh perusahaan pelat merah terlebih dahulu.
Dampak terhadap Pasar Modal Domestik
Keputusan untuk tidak membawa BUMN ke pasar modal sepanjang 2026 diprediksi akan mengubah lanskap penghimpunan dana di BEI. Analis pasar modal menilai absennya emiten BUMN berskala besar—yang biasanya menjadi magnet bagi investor institusi global—dapat membuat target fundraising bursa menjadi lebih menantang.
“Jika kebijakan peningkatan minimum free float ke 15% berjalan efektif, maka pasokan saham beredar di pasar meningkat dan depth market serta nilai transaksi harian berpotensi naik,” ujar Hari Rachmansya, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas (IPOT), dalam analisisnya pada Kamis (12/2/2026).
Dia menambahkan, distribusi kepemilikan yang lebih merata justru berpotensi membuat volatilitas pasar lebih terkendali. Dengan kata lain, dinamika pasar tahun ini akan lebih banyak ditentukan oleh kinerja emiten swasta dan efektivitas kebijakan pendukung likuiditas.
Minat Investor Asing Tak Sepenuhnya Bergantung pada IPO Baru
Meski IPO BUMN kerap menjadi sorotan, ketiadaan penawaran dari sektor tersebut tidak serta-merta mengurangi daya tarik pasar modal Indonesia di mata investor global. Menurut Hari, aliran dana asing (foreign flow) mayoritas justru mengalir ke saham-saham berkapitalisasi besar yang sudah tercatat dan memiliki visibilitas pendapatan yang stabil.
“Investor asing cenderung masuk pada emiten yang sudah listing dan memiliki visibility earnings yang baik, bukan semata-mata pada IPO baru,” jelasnya.
Faktor penentu utama bagi investor institusi justru adalah stabilitas makroekonomi, rekam jejak tata kelola perusahaan (good corporate governance), serta fundamental bisnis yang solid—hal-hal yang sedang dibenahi Danantara melalui program restrukturisasi ini.
Valuasi yang Lebih Optimal di Masa Depan
Proses konsolidasi yang sedang berjalan justru dinilai dapat membuka potensi valuasi yang lebih optimal saat IPO benar-benar dilaksanakan pada 2027 nanti. Kunci utamanya terletak pada hasil transformasi tersebut.
“Potensi valuasi saat IPO justru bisa lebih optimal dibanding memaksakan listing di tengah fase konsolidasi,” pungkas Hari Rachmansya.
Investor institusi, tuturnya, tidak hanya membeli narasi transformasi, tetapi lebih pada kualitas pendapatan dan tata kelola yang terbukti. Jika restrukturisasi berhasil menciptakan entitas dengan profitabilitas dan efisiensi yang tinggi, minat investor saat penawaran perdana nanti diperkirakan akan jauh lebih kuat.
Artikel Terkait
Suzuki Tawarkan Mobil Hybrid Rp250 Juta di IIMS 2026 untuk Pembeli Pertama Kali
Anggota DPR Serukan Transparansi dan Partisipasi Publik dalam Pembangunan Gardu Induk
Billy Gilmour Pulih dari Cedera, Siap Perkuat Skotlandia Jelang Piala Dunia 2026
Sopir Tangki Air Bersih Ditembak Saat Bertugas di Yahukimo