Pakar Fengshui Ungkap Makna Filosofis Nastar, Kue Lapis, dan Aturan Makan Kue Keranjang Saat Imlek

- Rabu, 11 Februari 2026 | 23:50 WIB
Pakar Fengshui Ungkap Makna Filosofis Nastar, Kue Lapis, dan Aturan Makan Kue Keranjang Saat Imlek

PARADAPOS.COM - Perayaan Tahun Baru Imlek tidak hanya tentang kemeriahan barongsai dan lampion, tetapi juga tentang makna mendalam di balik setiap hidangan di meja makan keluarga Tionghoa. Pakar Fengshui, Yulius Fang, mengungkapkan bahwa makanan-makanan ikonik seperti nastar, kue lapis, dan kue keranjang bukan sekadar santapan, melainkan simbol filosofis yang telah diwariskan turun-temurun untuk mengundang kemakmuran dan keberuntungan di tahun yang baru.

Nastar dan Kue Lapis: Simbol Kemakmuran yang Berlapis

Di antara aneka kue yang menghiasi meja sembahyang, nastar dengan isian selai nanas emas menempati posisi istimewa. Kata "nanas" dalam dialek tertentu disebut "ong lai", yang membawa harapan akan datangnya kemakmuran dan kehebatan. Kue lapis, dengan susunannya yang rapi dan berlapis, juga memiliki makna serupa. Setiap lapisan diyakini mewakili doa agar rezeki yang datang kepada keluarga bertumpuk dan berkelanjutan sepanjang tahun.

Yulius Fang menjelaskan filosofi di balik bahan utamanya. “Jadi ‘ong’ itu dimaknai adalah suatu hal yang hebat, berkuasa, makmur dan sebagainya. Ditambah lai, artinya datang seperti itu. Dan ini diartikan bahwa mereka yang menggunakan ‘ong lai’ (nanas) ini, kalau dibuat sembayang itu supaya tahun ini pokoknya saya berkembang, hebat, makmur seperti itu,” tuturnya.

Dumpling: Warisan Sejarah yang Menghangatkan

Melangkah ke hidangan utama, dumpling atau pangsit menyimpan cerita sejarah yang kuat. Lahir dari kreativitas masyarakat Tiongkok kuno yang menghadapi musim dingin yang keras dan pasokan sayur yang terbatas, pangsit berisi daman ini telah bertransformasi menjadi menu wajib yang menghangatkan suasana Sincia. Keberadaannya mengingatkan pada ketahanan dan kebersamaan keluarga dalam menghadapi tantangan.

Aturan Tak Tertulis Seputar Kue Keranjang

Namun, ada satu hidangan yang aturan penyajiannya sering kali luput dari perhatian banyak orang: kue keranjang. Meski disajikan dengan cantik sebagai bagian dari persembahan, kue bertekstur kenyal dan lengket ini ternyata memiliki tradisi konsumsi yang unik. Kue keranjang umumnya tidak dimakan oleh tamu yang datang bersilaturahmi pada hari pertama Imlek.

Yulius Fang memberikan penjelasan menarik mengenai hal ini. “Jadi meskipun kue keranjang disediakan untuk disuap, tapi kue keranjang itu kalau kamu lihat, tidak untuk dimakan oleh tamu yang datang ke rumah pas pada saat silaturahmi sincia, enggak. Tapi dimakan oleh tuan rumah sendiri,” jelasnya.

Alasan di balik tradisi ini cukup praktis, yakni teksturnya yang sangat lengket saat masih baru. Justru, kue keranjang lebih lazim dijadikan hantaran atau oleh-oleh untuk dibagikan kepada sanak saudara, menjadi simbol kebersamaan dan ikatan yang terus terjalin.

Hantaran sebagai Pengikat Silaturahmi

Tradisi menghantarkan makanan, terutama dari anak kepada orang tua atau mertua, merupakan ritual sosial yang mengakar kuat. Selain kue keranjang, buah-buahan seperti jeruk dan apel yang melambangkan kemujuran dan kesehatan, serta angpao berisi uang, menjadi pilihan hadiah yang umum. RituaL ini bukan sekadar pemberian materi, tetapi sebuah bentuk penghormatan dan kasih sayang.

Dengan stok makanan yang melimpah berkat hantaran dari anak-anaknya, rumah orang tua menjadi pusat silaturahmi yang hangat. Setiap tamu yang berkunjung dipastikan disambut dengan sukacita dan kelimpahan, mencerminkan harapan akan tahun baru yang penuh keberkatan dan kecukupan bagi seluruh keluarga.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar