PARADAPOS.COM - Bupati Sukabumi, Asep Japar, meresmikan dua fasilitas energi terbarukan berbasis komunitas di wilayahnya, menandai langkah konkret dalam menjawab tantangan lingkungan dan ekonomi lokal. Peresmian fasilitas biogas di Kampung Cihurang, Desa Cidadap, dan Solar Dryer House di Kampung Babakan Asem, Desa Loji, Kecamatan Simpenan, ini merupakan bagian dari inisiatif Pro Women 3 yang didukung Ford Foundation. Langkah ini diharapkan dapat memberikan manfaat langsung bagi masyarakat, mulai dari pengelolaan limbah hingga peningkatan nilai ekonomi hasil pertanian.
Dari Limbah Dapur Menjadi Energi Bersih
Program biogas di Kampung Cihurang mengambil pendekatan yang cerdas dengan memanfaatkan limbah organik dari program Makan Bergizi Gratis (MBG). Konversi limbah ini menjadi energi untuk memasak tidak hanya mengurangi beban sampah—di mana sisa makanan masih menjadi penyumbang terbesar di tingkat nasional—tetapi juga mengatasi ketergantungan pada LPG. Secara teknis, sistem ini berpotensi menekan emisi karbon hingga sekitar 2,5 ton CO2e per tahun. Lebih dari itu, residu prosesnya dapat diolah kembali menjadi pupuk organik, menutup siklus menjadi model ekonomi sirkular yang praktis.
Pendekatan Komunitas sebagai Kunci Keberlanjutan
Keberhasilan program semacam ini seringkali terletak pada sejauh mana masyarakat dilibatkan. Direktur Rumah Energi, Sumanda Tondang, menekankan bahwa infrastruktur hijau harus dibarengi dengan pemberdayaan.
"Biogas dan Solar Dryer House bukan sekadar infrastruktur, tetapi sarana pembelajaran bagi masyarakat tentang energi terbarukan, pengelolaan sampah, dan ekonomi sirkular. Ketika masyarakat terlibat sejak perencanaan hingga pengelolaan, dampaknya akan jauh lebih berkelanjutan," tegasnya.
Pernyataan ini menggarisbawahi filosofi bahwa teknologi tepat guna hanya akan bertahan jika diadopsi dan dimiliki oleh warga setempat, sebuah prinsip yang tampaknya dipegang dalam pelaksanaan proyek ini.
Solar Dryer House: Jawaban untuk Kualitas Pascapanen
Sementara biogas mengolah limbah, Solar Dryer House di Kampung Babakan Asem hadir untuk mengatasi persoalan klasik di tingkat petani: ketergantungan pada cuaca untuk pengeringan bawang merah dan padi. Teknologi rumah pengering bertenaga surya ini dirancang untuk menciptakan suhu yang stabil, sehingga hasil panen mengering lebih merata dan terhindar dari kontaminasi. Hasilnya, kualitas komoditas yang lebih terjaga dan nilai jual yang lebih tinggi di pasaran. Inovasi sederhana ini menunjukkan bagaimana energi terbarukan dapat langsung menyentuh aspek produktivitas dan pendapatan rumah tangga.
Kolaborasi untuk Masa Depan yang Lebih Hijau
Dalam sambutannya, Bupati Asep Japar menyoroti bagaimana solusi energi bersih bisa dimulai dari tingkat desa.
"Pemanfaatan biogas dan Solar Dryer House ini menunjukkan bahwa solusi energi bersih bisa hadir dari desa, dikelola oleh masyarakat, dan memberikan dampak nyata bagi lingkungan serta peningkatan kesejahteraan warga," ujarnya.
Peresmian ini bukan sekadar seremoni, melainkan titik awal dari sebuah model kolaborasi. Kemitraan antara pemerintah daerah, organisasi masyarakat sipil seperti Rumah Energi, dan dukungan filantropi swasta ini menciptakan ekosistem yang saling menguatkan. Jika berjalan berkelanjutan, model serupa berpotensi direplikasi di desa-desa lain di Sukabumi, mengukuhkan pembangunan yang tidak hanya memikirkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga ketahanan lingkungan dan keadilan sosial bagi warganya.
Artikel Terkait
Menkeu Bantah Isu Suahasil Nazara dan Misbakhun Daftar Pimpinan OJK
Menteri PUPR Tinjau Lahan Calon Rusun Subsidi 1.208 Unit di Bandung
Polres Anambas Musnahkan 56,51 Gram Sabu dari Dua Kasus
Kemlu Gelar Forum Strategis Bahas Komunikasi Publik Kepemimpinan Indonesia di D8