PARADAPOS.COM - Seorang anak perempuan tewas setelah tertabrak alat berat di Kendari, Sulawesi Tenggara, Kamis (29/1) malam. Korban yang saat itu sedang berjualan tisu di perempatan lampu merah, diduga tidak terlihat oleh pengemudi kendaraan besar tersebut. Insiden memilukan ini kembali menyoroti kerentanan anak-anak dari keluarga kurang mampu yang terpaksa bekerja di lingkungan berisiko tinggi.
Malam Tragis di Persimpangan
Aspal yang masih basah selepas hujan di perempatan lampu merah PLN Wua-Wua menjadi lokasi kejadian. Suasana malam yang biasanya ramai oleh lalu lintas, berubah menjadi tempat duka. Bocah perempuan itu mengembuskan napas terakhir di tempat kejadian, disaksikan oleh sejumlah warga yang tidak berdaya.
Tangisan histeris sang ibu seketika memecah kesunyian malam. Dalam keputusasaan, ia memeluk raga anaknya yang sudah tak bernyawa. Rasa sakit yang tak terperi tergambar jelas dari raut wajahnya, menggambarkan betapa dalam luka yang ditinggalkan tragedi ini.
Duka di Balik Keterpaksaan
Di sela isak tangis yang mengguncang, sang ibu mengungkapkan alasan pahit di balik kepergian anaknya berjualan pada malam itu. Ungkapannya menyiratkan sebuah realitas ekonomi yang memaksa seorang anak mengambil peran yang bukan seharusnya.
"Saya suruh dia pergi jual tisu karena kami mau makan, sudah tidak ada nasi," tuturnya dengan suara tertahan.
Kalimat singkat itu mengungkap lebih dari sekadar kronologi. Ia menyingkap sebuah siklus kemiskinan yang seringkali menjebak keluarga dalam situasi tanpa pilihan aman, di mana kebutuhan mendesak untuk bertahan hidup harus dipertaruhkan dengan keselamatan.
Refleksi atas Keselamatan Anak
Insiden ini, meski masih dalam tahap penyelidikan lebih lanjut oleh pihak berwajib, memberikan gambaran nyata tentang risiko yang dihadapi anak-anak pekerja jalanan. Mereka beraktivitas di zona berbahaya, berbagi ruang dengan kendaraan bermotor dan alat berat yang memiliki blind spot atau titik buta yang luas.
Kecelakaan maut di Kendari bukanlah peristiwa pertama dan sayangnya, mungkin bukan yang terakhir. Kasus-kasus serupa di berbagai daerah sering kali berpangkal pada kondisi ekonomi yang sulit, yang mendorong anak-anak turun ke jalan. Peristiwa ini mengundang refleksi bersama mengenai perlindungan sosial dan jaring pengaman bagi keluarga prasejahtera, serta pentingnya kesadaran berkendara yang ekstra hati-hati di area ramai pejalan kaki, terutama pada malam hari.
Duka keluarga besar ini meninggalkan pertanyaan mendesak tentang bagaimana mencegah terulangnya tragedi serupa di masa depan, dan bagaimana memastikan hak setiap anak untuk tumbuh dalam lingkungan yang aman terlindungi.
Artikel Terkait
BMKG Peringatkan Potensi Hujan Lebat hingga Sangat Lebat di Jabodetabek Mulai 16 Februari
Trump Kumpulkan Komitmen US$5 Miliar untuk Gaza, Israel Resmi Gabung Dewan Perdamaian
Ganjil-Genap Ditiadakan Sementara di Jakarta Selama Libur Imlek
BMKG Siagakan Sebagian Besar Jakarta dan Sekitarnya dari Hujan Lebat hingga Rabu