PARADAPOS.COM - Sebuah insiden pengejaran dan pelecehan terhadap dua prajurit wanita Israel (IDF) oleh sekelompok warga dari komunitas Yahudi Haredi terjadi di kota Bnei Brak, Senin (11/3). Kedua anggota militer itu akhirnya dievakuasi oleh kepolisian setelah dikejar oleh massa yang marah, sebuah kejadian yang memicu kecaman luas dari pimpinan militer hingga politisi oposisi. Peristiwa ini menyoroti kembali ketegangan sosial yang mendalam terkait isu wajib militer dan peran perempuan dalam masyarakat ultra-Ortodoks.
Kronologi Insiden di Jalanan Bnei Brak
Berdasarkan keterangan resmi, kedua prajurit wanita tersebut merupakan anggota Korps Pendidikan dan Pemuda IDF. Mereka berada di Bnei Brak, sebuah kota dengan mayoritas penduduk Haredi, untuk melakukan kunjungan ke rumah rekan mereka. Bukan sebagai anggota Polisi Militer seperti yang sempat beredar dalam beberapa klaim awal.
Rekaman video yang viral di media sosial menggambarkan situasi yang mencekam. Kedua wanita terlihat berlari dengan dikawal aparat kepolisian, sementara di belakangnya, kerumunan besar pria mengejar dengan penuh amarah. Suasana ricuh pun tak terhindarkan; tempat sampah terguling dan sebuah mobil polisi bahkan sempat dibalikkan oleh massa. Polisi kemudian menyatakan situasi telah terkendali setelah evakuasi berhasil dilakukan.
Gelombang Kecaman dari Pimpinan Politik dan Militer
Insiden ini langsung memantik reaksi keras dari berbagai kalangan. Para politisi dari kubu oposisi mengecam keras aksi massa tersebut, menyebutnya sebagai aib nasional dan menuntut pertanggungjawaban.
Pemimpin Oposisi Yair Lapid secara retoris mempertanyakan prioritas Perdana Menteri Benjamin Netanyahu. "Siapa yang lebih dikhawatirkan Netanyahu: tentara kita atau mitra koalisinya?" tanyanya. Dengan tegas ia menambahkan, "Harus ada gelombang penangkapan dalam beberapa jam mendatang. Tidak mungkin di Negara Israel, tentara IDF dan polisi diserang. Siapa pun yang terlibat dalam serangan terhadap tentara kita harus berada di penjara hari ini. Cukup sudah dengan anarki ini," tegas Lapid.
Yair Golan, Ketua Partai Demokrat, menyoroti akar masalahnya. "Di jantung Israel, tentara diserang dan membutuhkan penyelamatan. Tanggung jawab sepenuhnya terletak pada kepemimpinan Haredi, yang menerima dukungan penuh dari perdana menteri," ungkapnya.
Gadi Eisenkot dari partai Yashar! memberikan konteks historis yang ironis. "Pihak yang menghindari dinas menyerang pihak yang melayani," ujarnya, sambil mengingatkan bahwa justru IDF yang membantu warga Bnei Brak selama masa-masa sulit pandemi COVID-19.
Dari institusi militer, kecaman tak kalah tegas. Kepala Staf IDF Letnan Jenderal Eyal Zamir menyatakan insiden ini dipandang sangat serius. Melalui pernyataan resmi, IDF menegaskan bahwa Zamir mengutuk keras serangan terhadap tentara yang sedang menjalankan misi. "Setiap tindakan yang membahayakan tentara IDF yang dilakukan oleh warga sipil Israel merupakan pelanggaran serius terhadap garis merah dan tindakan harus diambil terhadap para penyerang dengan tegas," bunyi pernyataan tersebut. Zamir juga berharap para pelaku dihadapkan ke pengadilan.
Latar Belakang Ketegangan yang Berkepanjangan
Insiden di Bnei Brak ini bukanlah hal yang terjadi dalam ruang hampa. Ia berakar pada ketegangan lama antara negara dan komunitas Haredi mengenai kewajiban militer. Komunitas ultra-Ortodoks secara tradisional menolak wajib militer yang diberlakukan pemerintah, sebuah pengecualian yang telah lama menjadi sumber perdebatan sengit di masyarakat Israel. Kehadiran prajurit wanita di lingkungan mereka, dalam konteks norma budaya yang ketat, seringkali memicu gesekan. Peristiwa ini memperlihatkan bagaimana perbedaan nilai dan kewajiban warga negara itu dapat meledak menjadi konflik terbuka di jalanan.
Artikel Terkait
AS Siapkan Skenario Serangan Berkepanjangan ke Iran, Ketegangan di Timur Tengah Meningkat
Obama Akui Keberadaan Alien, Bantah Penyembunyian di Area 51
Influencer Kuliner Meninggal Usai Konsumsi Kepiting Beracun di Palawan
Mike Tyson Jadi Duta Kampanye Makanan Sehat Pemerintah AS, Tayang Perdana di Super Bowl 2026