PARADAPOS.COM - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia mendorong pemerintah untuk memprioritaskan sektor industri berorientasi ekspor dan padat karya dalam perundingan tarif dengan Amerika Serikat. Seruan ini disampaikan menyusul pertemuan internal pemerintah yang digelar Presiden Prabowo Subianto untuk membahas strategi perundingan ekonomi global. Wakil Ketua Umum Kadin, Erwin Aksa, menekankan bahwa sektor-sektor seperti tekstil, alas kaki, dan furnitur merupakan tulang punggung penciptaan lapangan kerja dan penghasil devisa, sehingga keberlanjutan daya saingnya perlu dijaga melalui negosiasi yang cermat.
Fokus pada Sektor Kritis
Dalam pandangan Kadin, pemerintah perlu memberikan perhatian khusus pada industri yang selama ini terbukti menjadi kontributor utama bagi perekonomian nasional. Sektor-sektor tersebut bukan hanya menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar, tetapi juga telah membangun reputasi Indonesia di pasar global. Oleh karena itu, setiap keputusan dalam perundingan tarif harus mempertimbangkan dampak langsung terhadap kelangsungan usaha dan daya saing produk-produk ini di kancah internasional.
Erwin Aksa menjelaskan lebih lanjut, "Terkait kebijakan tarif AS, sektor yang perlu mendapat perhatian adalah industri berorientasi ekspor dan padat karya seperti tekstil dan produk tekstil, alas kaki, furnitur, perikanan, serta beberapa produk manufaktur tertentu."
Strategi Negosiasi yang Komprehensif
Lebih dari sekadar membahas angka tarif, Kadin menilai pemerintah perlu membawa pendekatan yang lebih luas ke meja perundingan. Strategi ini mencakup upaya memperkuat kemitraan dagang yang saling menguntungkan dan mendorong kesetaraan perlakuan dengan negara-negara pesaing. Peningkatan efisiensi logistik dan kemudahan berusaha di dalam negeri juga dinilai sebagai faktor penentu yang dapat memperkuat posisi tawar Indonesia.
"Dengan langkah tersebut, Indonesia tidak hanya berbicara soal tarif, tetapi juga menunjukkan bahwa Indonesia adalah mitra strategis dalam rantai pasok global," lanjut Erwin.
Melihat Peluang dalam Dinamika Global
Di balik tantangan perundingan, Kadin melihat adanya peluang signifikan. Dinamika penataan ulang rantai pasok global membuka kesempatan bagi Indonesia untuk menarik investasi baru dan memperluas pasar ekspor. Momentum ini, jika dimanfaatkan dengan baik, dapat mendorong peningkatan ekspor produk bernilai tambah yang lebih tinggi.
Erwin menambahkan harapannya terhadap proses perundingan, "Harapannya, proses perundingan dapat menghasilkan skema yang memberikan kepastian bagi dunia usaha, meningkatkan daya saing nasional, serta tetap membuka ruang bagi pertumbuhan industri dalam negeri dan penciptaan lapangan kerja."
Dukungan atas Koordinasi Pemerintah
Kadin menyambut positif langkah koordinasi yang dilakukan pemerintah, termasuk pertemuan terbatas yang dipimpin Presiden Prabowo di Bogor. Pertemuan yang dihadiri sejumlah menteri ekonomi kunci tersebut dinilai sebagai langkah strategis untuk menyatukan visi dan menyusun posisi Indonesia yang solid.
"Kadin memandang pertemuan yang dipimpin Presiden Prabowo sebagai langkah yang sangat tepat untuk memastikan Indonesia memiliki posisi yang kuat dan terkoordinasi dalam setiap perundingan ekonomi global, termasuk dengan Amerika Serikat," ujarnya.
Berdasarkan informasi dari akun resmi Sekretariat Kabinet, dalam pertemuan itu Presiden Prabowo menekankan pentingnya memastikan posisi Indonesia dalam setiap perundingan ekonomi internasional berada pada titik yang paling menguntungkan. Arahan tersebut menegaskan komitmen untuk mendapatkan keuntungan konkret bagi kepentingan nasional, khususnya dalam pembahasan tarif dengan AS.
Artikel Terkait
Pemerintah Gelar Sidang Isbat Awal Ramadan 2026 pada 17 Februari
Pemkab Karawang Ancam Cabut Izin THM yang Beroperasi Saat Ramadan
YouTuber Taqy Malik Jadi Target Intel Saudi Usai Konten Sedekah dan Wakaf Alquran
Kasus Penipuan Umrah di Senen Diselesaikan dengan Restorative Justice, Dana Rp 64,5 Juta Dikembalikan