Target Rp25 Triliun Terancam, Penjualan ORI029 Baru Capai Separuh

- Rabu, 18 Februari 2026 | 06:50 WIB
Target Rp25 Triliun Terancam, Penjualan ORI029 Baru Capai Separuh

PARADAPOS.COM - Pemerintah menghadapi tantangan dalam mencapai target penerbitan Surat Berharga Negara (SBN) ritel seri ORI029. Hingga sehari jelang penutupan penawaran, dana yang berhasil dihimpun baru mencapai Rp12,78 triliun, atau sekitar 51% dari target Rp25 triliun. Realisasi ini menyisakan penjualan sebesar Rp12,22 triliun, dengan sisa terbesar pada seri tenor enam tahun.

Analisis Sentimen Pasar yang Mempengaruhi Minat

Lambatnya penyerapan ORI029 ini tidak terjadi dalam ruang hampa. Sejumlah analis pasar modal telah memberikan sinyal peringatan sebelumnya, mengidentifikasi gabungan faktor eksternal dan internal yang membuat investor ritel bersikap lebih hati-hati. Fikri C. Permana, Ekonom KB Valbury Sekuritas, menyoroti dampak dari penurunan outlook kredit Indonesia oleh Moody's Ratings, meski menegaskan bahwa itu bukan satu-satunya penyebab.

"Apalagi kondisi sekarang tidak hanya dari Moody's, tapi ada beberapa risiko geopolitik yang juga meningkat, yang biasanya mendorong risk premi yang lebih tinggi," ujarnya.

Sentimen dalam negeri juga turut berperan. Kekhawatiran akan defisit APBN yang membesar di tengah rencana belanja fiskal yang masih agresif tahun ini dinilai menambah keengganan investor untuk segera mengalokasikan dananya.

Gejolak Global dan Ekspektasi Yield

Faktor geopolitik global mendapat sorotan khusus dari para pengamat. Ramdhan Ario Maruto, Head of Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, menekankan bahwa ketegangan antara AS dan Iran telah menciptakan gelombang ketidakpastian yang merambat ke pasar keuangan. Dalam situasi seperti ini, investor cenderung meminta imbal hasil (yield) yang lebih tinggi sebagai kompensasi atas risiko yang dirasakan.

Data pasar sekunder menunjukkan yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun telah berada di level 6,39%. Sementara itu, ORI029 menawarkan kupon antara 5,45% hingga 5,80% untuk tenor tiga dan enam tahun. Perbedaan ini, ditambah iklim global yang bergejolak, membuat sebagian investor memilih untuk menunggu.

"Ketegangan geopolitik ini kan menyebabkan ketidakpastian meningkat. Kalau saya lihat juga, ritel akhirnya wait and see untuk masuk," jelas Ramdhan.

Peluang dan Proyeksi Akhir Penawaran

Meski temponya lambat, bukan berarti peluang sama sekali tertutup. Sebuah faktor pendukung potensial adalah adanya dana segar dari reinvestasi obligasi pemerintah lain yang jatuh tempo. Data menunjukkan setidaknya ada empat Surat Utang Negara (SUN) dengan total nilai Rp46,85 triliun yang jatuh tempo pada Februari 2026, yang berpotensi dialihkan ke instrumen baru seperti ORI029.

Namun, di tengah kondisi makroekonomi domestik yang secara umum masih solid, optimisme untuk mencapai target penuh tampaknya terbatas. Ramdhan memprediksi bahwa pada akhir masa penawaran, ORI029 kemungkinan masih akan tersisa sekitar 10% di bawah target yang dicanangkan, mencerminkan sikap wait-and-see yang masih kuat di kalangan investor ritel.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar