Ledakan Toko Petasan di Tiongkok Tewaskan 12 Orang Saat Imlek

- Kamis, 19 Februari 2026 | 04:25 WIB
Ledakan Toko Petasan di Tiongkok Tewaskan 12 Orang Saat Imlek

PARADAPOS.COM - Sebuah ledakan dahsyat menghancurkan toko petasan di Kota Xiangyang, Provinsi Hubei, Tiongkok, pada Rabu (18 Februari 2026). Musibah itu menewaskan 12 orang dan memicu kebakaran hebat yang melalap area sekitar 50 meter persegi. Otoritas setempat masih menyelidiki penyebab pasti insiden yang terjadi di tengah perayaan Tahun Baru Imlek ini.

Dampak Ledakan dan Respons Awal

Ledakan itu tidak hanya merenggut nyawa tetapi juga menyebabkan kerusakan parah pada bangunan toko berlantai rendah tersebut. Rekaman video yang beredar pasca-kejadian memperlihatkan kepulan asap hitam pekat membubung dari lokasi kejadian, dengan sisa-sisa bangunan yang hangus terbakar. Daya ledak dari material piroteknik yang tersimpan di dalam toko diduga menjadi pemicu kerusakan struktural yang serius.

Hingga berita ini diturunkan, tim investigasi masih bekerja di lokasi untuk mengumpulkan bukti dan merekonstruksi kronologi peristiwa. Pihak berwenang belum memberikan pernyataan resmi lebih lanjut mengenai titik awal ledakan atau kemungkinan adanya pelanggaran prosedur keselamatan.

Rekaman Visual yang Mencekam

Sebuah rekaman video yang telah diverifikasi oleh sejumlah media menggambarkan suasana mencekam pasca-ledakan. Asap hitam pekat masih mengepul dari bagian depan toko yang telah rata dengan tanah. Kondisi itu menunjukkan intensitas kebakaran yang tinggi pasca-dentuman awal.

Visual dari lokasi memperlihatkan sisa-sisa bangunan yang berserakan, menguatkan dugaan bahwa kekuatan ledakan berasal dari dalam toko. Material piroteknik yang tersimpan, dalam jumlah yang belum dapat dipastikan, diduga menjadi sumber energi ledakan yang menghancurkan.

Sejarah Kelam Insiden Serupa

Tragedi di Xiangyang ini bukanlah yang pertama terjadi di Tiongkok. Insiden serupa kerap melanda industri dan ritel yang menangani bahan piroteknik, terutama menjelang perayaan penting seperti Imlek. Pada Juni tahun lalu, sebuah ledakan di pabrik kembang api di Provinsi Hunan menewaskan sembilan orang dan melukai puluhan lainnya.

Ledakan terkait kembang api dan petasan memang menjadi tantangan berulang di negara tersebut. Tradisi membakar petasan selama Imlek, yang dipercaya dapat mengusir roh jahat dan membawa keberuntungan, ternyata menyimpan risiko keselamatan yang sangat nyata jika tidak dikelola dengan standar keamanan yang ketat.

Dilema Regulasi dan Tradisi

Merespons berbagai insiden, sejumlah pemerintah kota di Tiongkok telah memberlakukan pembatasan atau bahkan larangan terhadap penggunaan kembang api dengan alasan utama keselamatan publik dan pengendalian polusi udara. Namun, kebijakan ini tidak jarang menuai pro dan kontra di tingkat masyarakat.

Di satu sisi, ada tuntutan untuk meningkatkan standar keamanan. Di sisi lain, terdapat tekanan untuk menghormati tradisi budaya yang telah mengakar kuat. Perdebatan ini seringkali muncul setiap kali musim perayaan tiba, menciptakan dilema yang kompleks bagi para pengambil kebijakan.

Seorang analis kebijakan publik yang diwawancarai menyoroti kerumitan ini. "Sejumlah kota di Tiongkok telah memberlakukan pembatasan penggunaan kembang api karena alasan keselamatan dan polusi udara. Namun, kebijakan tersebut kerap memicu perdebatan di masyarakat karena kuatnya tradisi penggunaan petasan dalam perayaan Imlek," ungkapnya.

Tuntutan untuk Pengawasan yang Lebih Ketat

Insiden memilukan di Xiangyang ini kembali menyalakan alarm mengenai pentingnya pengawasan ketat terhadap rantai pasok dan penyimpanan bahan peledak komersial. Tekanan terhadap pemerintah daerah untuk memperketat regulasi, khususnya di kawasan padat penduduk, semakin menguat.

Para ahli keselamatan industri menekankan bahwa pencegahan harus menjadi fokus utama. Pengawasan mulai dari proses produksi, distribusi, hingga penjualan eceran perlu ditingkatkan untuk memastikan standar keamanan yang berlaku benar-benar dijalankan. Tragedi ini diharapkan dapat menjadi momentum evaluasi menyeluruh guna mencegah terulangnya korban jiwa serupa di masa depan.

Editor: Clara Salsabila

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar