PARADAPOS.COM - Ramadan 2026 dimulai di Gaza dalam bayangan perang dan keprihatinan kemanusiaan yang mendalam. Warga Palestina di wilayah tersebut memulai ibadah puasa pada Rabu (18/2/2026) dengan kondisi sulit: ancaman serangan yang masih sporadis, kelangkaan makanan dan air bersih, serta ketergantungan pada bantuan kemanusiaan untuk sekadar bertahan hidup. Kontras suasana ini terlihat jelas antara Gaza yang porak-poranda dan Yerusalem Timur, di mana ribuan jamaah tetap bisa melaksanakan salat tarawih di Masjid Al Aqsa meski dengan pengamanan ketat.
Dapur Umum dan Bantuan Jadi Penopang Hidup
Laporan dari lapangan menggambarkan betapa tradisi Ramadan telah berubah total bagi keluarga-keluarga di Gaza. Meja makan yang biasanya penuh saat sahur dan berbuka, kini bergantung pada jadwal distribusi bantuan. Dapur umum menjadi penopang utama bagi banyak orang untuk memperoleh satu kali makanan dalam sehari. Keterbatasan ini memaksa warga untuk mengatur ulang seluruh ritme ibadah dan kehidupan sehari-hari mereka di tengah ketidakpastian.
Kesenjangan antara Janji dan Realita Bantuan
Di tengah situasi kritis ini, kesepakatan gencatan senjata yang berlaku sejak Oktober lalu seharusnya membuka keran bantuan kemanusiaan lebih besar. Kesepakatan itu menjanjikan sekitar 600 truk bantuan memasuki Gaza setiap harinya. Namun, realita di lapangan jauh dari angka yang dijanjikan. Jumlah bantuan yang benar-benar tiba dilaporkan tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan dasar jutaan warga yang terjebak dalam konflik.
“Berdasarkan kesepakatan gencatan senjata antara Israel dan Hamas yang berlaku sejak 10 Oktober, sekitar 600 truk bantuan seharusnya masuk setiap hari ke Gaza. Namun, jumlah bantuan yang tiba dilaporkan jauh di bawah angka tersebut,” ungkap sebuah laporan yang mengutip sumber-sumber kemanusiaan.
Ketegangan dan Duka yang Tak Kunjung Reda
Gencatan senjata pun tidak sepenuhnya menghentikan kekerasan. Serangan-serangan masih dilaporkan terjadi di beberapa titik, menambah korban jiwa dan memperdalam trauma warga. Kondisi ini semakin menyulitkan upaya untuk menciptakan suasana tenang yang seharusnya menyertai bulan suci. Di sisi lain, otoritas Israel dikabarkan tetap memberlakukan ratusan pembatasan akses bagi warga Palestina di Tepi Barat dan Yerusalem Timur sejak awal tahun, membatasi mobilitas untuk beribadah atau berkumpul dengan keluarga.
Dua Wajah Ramadan yang Berbeda
Perbedaan suasana Ramadan terlihat sangat kontras. Sementara warga Gaza berjuang untuk bertahan hidup, ribuan jamaah di Yerusalem Timur masih dapat memadati kompleks Masjid Al Aqsa untuk salat tarawih, meski dengan pengawasan keamanan yang sangat ketat. Di ranah politik, pesan resmi Israel yang disampaikan melalui media sosial turut menambah kompleksitas narasi. Pihak militer dan Kementerian Luar Negeri Israel menyampaikan ucapan selamat Ramadan kepada umat Islam.
“Militer dan Kementerian Luar Negeri Israel menyampaikan ucapan selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan kepada umat Islam melalui media sosial, meski operasi militer di wilayah Palestina masih berlangsung,” jelas pernyataan yang dikutip dari pemberitaan internasional.
Dengan demikian, Ramadan 2026 bagi warga Gaza bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi lebih tentang ketahanan hidup di tengah duka, kehilangan, dan ketidakpastian kapan krisis ini akan berakhir. Ibadah mereka dijalani dengan keberanian luar biasa, di bawah ancaman yang masih nyata dan ketergantungan penuh pada belas kasihan bantuan dari luar.
Artikel Terkait
Tiongkok Bakal Larang Setir Yoke pada Kendaraan Baru Mulai 2027
Ramadhan, Permintaan Kolang-Kaling Melonjak di Pasar Induk Kramat Jati
545 Calon Haji Kendari Selesaikan Administrasi, Tunggu Pembentukan Kloter
Kemensos Salurkan Bansos Rp1,8 Triliun untuk Korban Banjir di Tiga Provinsi