Analis: Kekecewaan Tokoh Senior Pendukung Awal Jokowi Tak Otomatis Beralih ke Prabowo

- Rabu, 18 Februari 2026 | 12:50 WIB
Analis: Kekecewaan Tokoh Senior Pendukung Awal Jokowi Tak Otomatis Beralih ke Prabowo

PARADAPOS.COM - Sejumlah tokoh senior yang sebelumnya dikenal sebagai pendukung setia Presiden Joko Widodo (Jokowi) belakangan menunjukkan perubahan sikap. Analis politik menilai fenomena ini mencerminkan kekecewaan di kalangan mantan pendukung awal, meski peralihan dukungan mereka tidak serta-merta mengarah ke satu kandidat tertentu. Perubahan sikap ini menjadi sorotan dalam dinamika politik nasional menjelang Pilpres 2024.

Kekecewaan dari Kalangan Pendukung Awal

Gelombang kekecewaan itu diungkapkan oleh Direktur ABC Riset & Consulting, Erizal. Dalam pernyataannya pada Rabu, 18 Februari 2026, ia menyoroti perasaan sejumlah tokoh yang merasa dikhianati setelah sebelumnya memberikan dukungan penuh.

"Kasihan juga melihat tokoh senior sekelas Mohamad Sobary mencak-mencak merasa ditipu oleh seorang Jokowi. Dulu mati-matian membela, kini seperti mati-matian pula mencerca," ujarnya.

Erizal mencontohkan budayawan Mohamad Sobary dan pakar hukum Profesor Hendri Subiakto sebagai bagian dari kelompok ini. Menurut analisisnya, banyak elemen masyarakat sipil yang mendukung Jokowi di Pilpres 2014 kini mengalami pergeseran pandangan serupa.

Slank dan Kesadaran yang 'Agak Telat'

Tak hanya individu, kelompok tertentu seperti grup musik Slank juga disebut mengalami proses serupa. Band yang terkenal vokal secara sosial politik itu bahkan merilis lagu berjudul "Republik Fufufafa", yang ditafsirkan banyak kalangan sebagai bentuk kritik.

"Bahkan Slank terbilang yang agak telat bertobat, karena baru tersadar pada Pilpres 2024," tutur Erizal.

Ia membandingkannya dengan tokoh-tokoh lain yang dianggap lebih cepat menyadari perubahan arah politik. Nama-nama seperti Rocky Gerung, Eep Saefulloh Fatah, dan Anies Baswedan disebutkan sebagai bagian dari kelompok yang lebih awal melakukan koreksi.

Tidak Otomatis Beralih ke Prabowo

Namun, Erizal menekankan bahwa kekecewaan terhadap Jokowi tidak lantas berarti dukungan otomatis beralih ke calon lain seperti Prabowo Subianto. Logika politik para mantan pendukung ini, menurutnya, lebih kompleks.

"Apakah mereka yang merasa ditipu oleh Jokowi otomatis mendukung Prabowo? Tidak," tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa terdapat beragam alasan di balik sikap mereka. Sebagian memandang bahwa tidak ada perbedaan substantif antara Jokowi dan Prabowo, terutama setelah keduanya berkoalisi. Sebagian lagi justru kecewa karena Prabowo dinilai tidak mengambil jarak dari Jokowi.

"Ada juga memang sejak awal tak pernah suka dengan Prabowo," pungkas Erizal, menutup penjelasannya.

Fenomena ini menggarisbawahi dinamika politik yang cair, di mana loyalitas elektoral dapat berubah seiring waktu, dan kekecewaan terhadap satu figur tidak selalu menghasilkan dukungan sederhana untuk oposisinya.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar