PARADAPOS.COM - Seorang warga Kabupaten Bener Meriah, Aceh, meninggal dunia setelah diduga diinjak oleh gajah sumatera liar. Insiden tragis ini terjadi di area perkebunan jagung pada Sabtu, 21 Februari 2026, dan menguak kembali tantangan kompleks konflik antara manusia dengan satwa dilindungi di wilayah tersebut.
Kronologi Kejadian yang Berakhir Tragis
Korban, Musahar (53), bersama istrinya telah tiga hari menginap di pondok kebun jagung mereka yang terletak sekitar tiga kilometer dari permukiman. Pagi hari sekitar pukul 06.00 WIB, Musahar menemukan jejak gajah liar di sekitar pondok dan memutuskan untuk mengikuti arah jejak tersebut. Tak lama kemudian, terdengar suara raungan gajah sebanyak tiga kali dari arah ia pergi.
Merasa khawatir, sang istri segera menghubungi anak mereka. Saat tiba di lokasi, keluarga menemukan Musahar telah tergeletak dengan luka serius di bagian dada dan rahang. Ia sempat dilarikan ke RSU Bireuen Medical Center (BMC), namun nyawanya tidak tertolong akibat luka berat yang diderita.
Respon dan Analisis dari Otoritas Konservasi
Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh, melalui Kepala Seksi Konservasi Wilayah I Teuku Irmansyah, menyampaikan duka cita mendalam atas peristiwa tersebut. Tim BKSDA telah diterjunkan untuk mendampingi keluarga, meski pengecekan langsung ke lokasi masih menunggu kondisi yang benar-benar aman.
Dalam keterangan tertulisnya, Irmansyah menekankan risiko tinggi dari interaksi dengan satwa liar. "Kami turut berbelasungkawa atas musibah ini. Peristiwa ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa interaksi dengan satwa liar memiliki risiko tinggi karena perilaku satwa dipengaruhi oleh naluri alamiah yang sulit diprediksi," jelasnya.
Faktor Pemicu Kemunculan Gajah Liar
Berdasarkan catatan BKSDA Aceh, terdapat beberapa faktor yang diduga kuat memicu meningkatnya kemunculan gajah liar di area perkebunan dan permukiman di wilayah Bener Meriah dan Aceh Tengah. Salah satu penyebab utama adalah kerusakan sarana mitigasi konflik, seperti pagar pembatas atau pagar listrik (power fencing), yang banyak ditemukan dalam kondisi rusak dan tidak terawat.
Selain itu, perubahan jalur jelajah satwa akibat bencana hidrometeorologi, seperti banjir dan tanah longsor, juga turut memengaruhi pergerakan serta mempersempit habitat alami populasi gajah sumatera. Kombinasi faktor ini mendorong satwa besar tersebut semakin sering memasuki kawasan yang dihuni manusia.
Imbauan untuk Masyarakat
Menyikapi insiden ini, BKSDA Aceh mengeluarkan imbauan penting kepada masyarakat. Masyarakat diminta untuk sementara waktu menghindari area yang diketahui rawan konflik dan tidak melakukan upaya penghalauan gajah secara mandiri, yang justru dapat memicu situasi berbahaya.
Irmansyah menambahkan permintaan agar masyarakat segera melapor jika menemukan jejak atau keberadaan gajah. "Apabila menemukan jejak atau keberadaan gajah di sekitar pemukiman, segera lapor ke petugas agar dapat ditangani sesuai prosedur keselamatan. Kami meminta masyarakat tetap waspada demi menghindari terulangnya kejadian serupa," tuturnya.
Insiden memilukan ini menyoroti urgensi penanganan sistemik terhadap konflik manusia-satwa liar, yang membutuhkan tidak hanya mitigasi darurat, tetapi juga perbaikan habitat dan infrastruktur konservasi jangka panjang.
Artikel Terkait
Festival Imlek Nasional 2026 Tawarkan Cek Kesehatan Gratis hingga USG
Propam Polda Sulsel Selidiki Kematian Bripda Diduga Dianiaya di Asrama
Menteri PPPA dan Mantan Menlu Apresiasi Program Saraswati Fellowship untuk Kepemimpinan Perempuan
Persib Hadapi Persita di GBLA, Barba Pastikan Fokus Utuh Usai Kekecewaan Liga Champions