Rupiah Mengawali Pekan dengan Penguatan Tipis di Tengah Tekanan Global

- Senin, 23 Februari 2026 | 02:25 WIB
Rupiah Mengawali Pekan dengan Penguatan Tipis di Tengah Tekanan Global

PARADAPOS.COM - Nilai tukar rupiah membuka perdagangan Senin, 23 Februari 2026, dengan catatan penguatan terhadap dolar Amerika Serikat. Penguatan ini terjadi di tengah tekanan yang masih membayangi mata uang AS, dipicu oleh sentimen politik dan kebijakan perdagangan yang menciptakan ketidakpastian di pasar global.

Data Pembukaan: Rupiah Menguat Tipis

Pada awal sesi perdagangan hari ini, rupiah tercatat menguat. Berdasarkan pantauan terhadap data Bloomberg, mata uang nasional berada di posisi Rp16.853 per USD. Angka ini menunjukkan kenaikan sebesar 35 poin atau 0,21 persen dibandingkan level penutupan perdagangan sebelumnya di Rp16.894 per USD.

Sementara itu, data dari Yahoo Finance pada waktu yang sama mencatat rupiah berada di level Rp16.880 per USD, yang menunjukkan pergerakan yang relatif datar sejak pembukaan pagi ini. Perbedaan kecil dalam angka dari kedua sumber data tersebut merupakan hal yang wajar dalam pelaporan pasar keuangan yang dinamis.

Proyeksi Analis: Fluktuasi dengan Kecenderungan Melemah

Meski dibuka dengan sinyal hijau, prospek rupiah untuk sepanjang hari ini dinilai masih berawan. Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi memperkirakan pergerakan rupiah akan fluktuatif dengan bias pelemahan. Ia memproyeksikan rentang perdagangan rupiah hari ini akan berada di antara Rp16.880 hingga Rp16.910 per dolar AS.

Pandangan ini tidak terlepas dari sentimen global yang masih terbelah. Di satu sisi, dolar AS sendiri masih tertekan oleh faktor internal. Namun di sisi lain, kebijakan-kebijakan ekonomi yang berpotensi mengganggu stabilitas perdagangan dunia turut membayangi performa mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Sentimen Global yang Mempengaruhi Pasar

Tekanan terhadap dolar AS muncul di tengah situasi politik dalam negeri Amerika yang belum sepenuhnya mereda. Ketidakpastian ini terutama dipicu oleh pernyataan dan rencana kebijakan dari mantan Presiden AS, Donald Trump, yang kembali menjadi sorotan.

Assuaibi menjelaskan bahwa sentimen pasar saat ini sangat dipengaruhi oleh perkembangan tersebut. "Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat diperkirakan akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah hari ini. Sentimen pasar dipengaruhi oleh kebijakan ekonomi dari mantan Presiden AS Donald Trump," ungkapnya.

Pemicu kekhawatiran utama adalah rencana penaikan tarif perdagangan global yang diumumkan Trump. Ia menyatakan pada hari Sabtu bahwa ia berencana menaikkan tarif global antara 10 persen hingga 15 persen untuk mempertahankan langkah-langkah protektif perdagangan. Pernyataan ini muncul setelah kritiknya terhadap Mahkamah Agung AS terkait pembatalan penggunaan kekuasaan darurat untuk memberlakukan tarif resiprokal.

Rencana ini dinilai dapat memicu kembali ketegangan perdagangan global, yang pada gilirannya berpotensi meningkatkan volatilitas dan permintaan aset safe-haven, menciptakan lingkungan yang menantang bagi mata uang seperti rupiah. Pasar kini mengamati dengan cermat setiap perkembangan lebih lanjut untuk mengukur dampak riilnya terhadap arus modal dan stabilitas nilai tukar.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar