Lembaga Penelitian Petakan 14 Nama Calon Ketum PBNU 2026, Tangkap Aspirasi Transisi dari Basis

- Selasa, 24 Februari 2026 | 00:25 WIB
Lembaga Penelitian Petakan 14 Nama Calon Ketum PBNU 2026, Tangkap Aspirasi Transisi dari Basis

PARADAPOS.COM - Sebuah lembaga penelitian merilis daftar 14 nama yang dinilai memiliki peluang untuk menjadi Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dalam Muktamar ke-35 yang rencananya digelar pada pertengahan 2026. Daftar ini mencakup sejumlah nama besar, mulai dari petahana hingga menteri, yang dikelompokkan berdasarkan latar belakang dan basis dukungannya.

Metode Penjaringan Nama Kandidat

Peneliti Wildan Efendy menjelaskan bahwa pemetaan nama-nama tersebut dilakukan melalui sebuah kajian yang berfokus pada tiga aspek kunci. Aspek pertama adalah tingkat popularitas kandidat di kalangan internal NU. Kedua, peneliti menelusuri rekam jejak dan kontribusi masing-masing nama dalam organisasi. Aspek terakhir adalah hasil wawancara mendalam dengan berbagai pihak, mulai dari pengurus di berbagai tingkatan hingga warga NU secara lebih luas.

Dari proses tersebut, teridentifikasi 14 nama yang kemudian dikategorikan ke dalam empat klaster berbeda, mencerminkan spektrum kekuatan dan basis yang beragam di tubuh Nahdlatul Ulama.

Peta Kandidat per Klaster

Klaster pertama berisi nama-nama dari internal struktur PBNU saat ini. Di kelompok ini terdapat Ketua Umum petahana, Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya. Selain itu, ada pula Mohammad Nuh, Syaifullah Yusuf, dan Zulfa Mustofa.

Klaster kedua berasal dari kalangan Pengurus Wilayah NU (PWNU), yang diisi oleh Abdul Ghaffar Razin, Abdul Hakim Mahfudz, dan Juhadi Muhammad.

Sementara itu, klaster ketiga dihuni oleh tokoh-tokoh NU dan pesantren, yaitu Imam Jazuli, Abdussalam Shohib, Yusuf Chudlori, dan Marzuqi Mustamar.

Klaster terakhir menampilkan nama-nama yang berkecimpung di dunia politik dan pemerintahan. Di sini terdapat Abdul Muhaimin Iskandar atau Cak Imin yang juga menjabat Menko PMK, Menteri ATR/BPN Nusron Wahid, serta Menteri Agama Nasaruddin Umar.

Aspirasi Perubahan dari Basis

Wildan Efendy mengungkapkan bahwa penelitiannya juga menangkap gelombang aspirasi yang cukup kuat dari akar rumput. Dorongan untuk adanya transisi kepemimpinan terasa mengemuka dari berbagai tingkatan organisasi, mulai dari Pengurus Wilayah, Pengurus Cabang, hingga warga kultural NU.

“Desakan transisi kepemimpinan PBNU yang sangat kuat dari PWNU, PCNU, dan aspirasi warga NU menjadi salah satu indikator keinginan besar lahirnya nakhoda baru di tubuh PBNU,” jelasnya.

Gambaran ini menunjukkan bahwa dinamika menuju muktamar tidak hanya tentang siapa yang maju, tetapi juga tentang harapan akan perubahan yang hidup di tingkat basis. Muktamar ke-35 NU sendiri, berdasarkan kesepakatan rapat pleno PBNU, dijadwalkan akan berlangsung pada Juli atau Agustus 2026, memberikan waktu yang cukup panjang bagi proses pendalaman dan konsolidasi.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar