Banjir Rendam 141 Rumah di Lembata NTT, Pagar Kantor Bupati Roboh

- Rabu, 29 April 2026 | 09:50 WIB
Banjir Rendam 141 Rumah di Lembata NTT, Pagar Kantor Bupati Roboh
PARADAPOS.COM - Jakarta, 29 April 2026. Banjir menerjang Kabupaten Lembata, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Selasa, 28 April 2026. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat peristiwa ini dipicu oleh hujan dengan intensitas ringan hingga lebat yang mengguyur wilayah tersebut selama 2 hingga 5 jam. Akibatnya, sebanyak 141 kepala keluarga (KK) dan 141 unit rumah terdampak, sementara pagar pengaman Kantor Bupati sepanjang 100 meter roboh.

Pemicu dan Wilayah Terdampak

Hujan deras yang mengguyur Lembata menjadi pemicu utama genangan yang meluas. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, dalam keterangan resmi yang diterima pada Rabu, 29 April 2026, menjelaskan bahwa banjir terjadi akibat curah hujan yang cukup tinggi dalam rentang waktu beberapa jam. "Kejadian ini dipicu oleh hujan dengan intensitas ringan hingga lebat selama 2-5 jam hingga menyebabkan banjir," ujar Abdul Muhari. Beberapa titik yang terendam meliputi Kelurahan Lewoleba Utara, Timur, dan Tengah di Kecamatan Nubatukan, serta Kelurahan Selandoro di Kecamatan Lebatukan. Data sementara menunjukkan bahwa selain pemukiman warga, infrastruktur publik seperti pagar pengaman kantor pemerintahan juga ikut ambruk akibat terjangan air.

Respons dan Status Siaga Darurat

Pemerintah daerah tidak tinggal diam. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lembata segera melakukan kaji cepat dan berkoordinasi dengan aparat setempat untuk menangani dampak bencana. Langkah ini diambil untuk memastikan evakuasi dan pendataan berjalan lancar. Sebelum kejadian ini, Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur telah menetapkan status siaga darurat melalui Keputusan Gubernur. Status tersebut berlaku sejak Desember 2025 hingga 8 Juni 2026, mencakup potensi bencana seperti banjir, banjir bandang, tanah longsor, angin siklon tropis, cuaca ekstrem, gelombang pasang, dan abrasi. Artinya, wilayah ini memang tengah dalam masa antisipasi tinggi terhadap bencana hidrometeorologi. Hingga Rabu, 29 April 2026, kondisi di lapangan masih memerlukan perhatian. Abdul Muhari menambahkan bahwa air banjir belum sepenuhnya surut. "Kondisi terkini pada Rabu, 29 April 2026, banjir masih belum sepenuhnya surut dan masih dilakukan pendataan," jelasnya. Proses pendataan terus berlangsung untuk memperkirakan kerugian dan kebutuhan mendesak bagi para korban. Tim di lapangan masih berjibaku dengan genangan air yang tersisa, sambil memastikan warga yang mengungsi mendapatkan bantuan yang diperlukan.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar