PARADAPOS.COM - Ribuan jemaah memadati Masjid Hassan II di Casablanca, Maroko, untuk menunaikan salat Tarawih dengan penuh kekhusyukan selama Ramadan. Sebagai salah satu masjid terbesar di Afrika yang berdiri megah di tepi Samudra Atlantik, tempat ibadah ini menjadi pusat spiritual yang sangat dinantikan umat Muslim di negara tersebut. Seorang Warga Negara Indonesia yang berada di lokasi melaporkan langsung kemeriahan dan kedalaman suasana ibadah di sana.
Mahakarya Arsitektur di Tepi Samudra
Keunikan Masjid Hassan II langsung terpampang dari lokasinya. Bangunan ini seolah-olah terapung di atas lautan Atlantik, menciptakan pemandangan yang memesona, terutama saat malam hari. Kemegahannya bukan sekadar ilusi visual, melainkan hasil dari ketekunan ribuan pengrajin tradisional Maroko yang menuangkan keahlian tertinggi mereka.
Di dalamnya, mata akan dimanjakan oleh detail seni Islam yang luar biasa. Kaligrafi indah berpadu dengan ukiran kayu presisi, marmer yang mengilap, dan mosaik rumit menghiasi setiap sudut. Langit-langitnya dihiasi ornamen geometris khas yang mencerminkan kekayaan warisan budaya Islam Maroko. Dengan kapasitas menampung lebih dari 100.000 orang, masjid ini telah menjadi ikon kebanggaan Casablanca dan landmark paling terkenal di seluruh Maroko.
Ritual Tarawih dalam Balutan Angin Laut
Suasana Ramadan di masjid ini memiliki ritme dan nuansa tersendiri. Selepas salat Maghrib, sekitar pukul 19.30 waktu setempat, jemaah mulai berdatangan. Mereka berasal dari beragam kalangan; warga lokal, keluarga dengan anak-anak, hingga Muslim dari berbagai penjuru Maroko dan mancanegara, semua menyatu dalam satu tujuan.
Di bawah langit malam, embusan angin laut yang sejuk menemani para jemaah memenuhi saf-saf, baik di ruang utama maupun di pelataran luas. Lantunan ayat suci Al-Qur'an yang dikumandangkan imam bergema dengan jelas, menciptakan atmosfer damai yang menenangkan jiwa.
Perbedaan Tradisi yang Menarik
Ada perbedaan mendasar dalam pelaksanaan ibadah yang mungkin menarik perhatian jemaah dari Indonesia. Salat Tarawih di Masjid Hassan II dilaksanakan sebanyak 10 rakaat, bukan 20 rakaat seperti yang umum di Tanah Air. Selain itu, untuk salat Witir, jemaah biasanya menunaikannya pada sepertiga malam terakhir, mendekati waktu Subuh.
Tsaura Benazir Helmaye, WNI yang melaporkan dari lokasi, mengungkapkan keunikan lain dari tata kelola masjid. "Setelah seluruh rangkaian Tarawih selesai, para petugas dan penjaga masjid akan mulai mengondisikan jemaah untuk segera meninggalkan area," tuturnya.
Kebijakan ini diterapkan karena Masjid Hassan II hanya dibuka pada waktu-waktu salat wajib dan Tarawih. Akibatnya, tidak memungkinkan bagi jemaah untuk melakukan iktikaf atau berdiam diri di dalam masjid selepas ibadah malam hari. Meski demikian, rangkaian ibadah yang padat dan khidmat itu telah meninggalkan kesan mendalam bagi setiap jemaah yang hadir.
Artikel Terkait
Gubernur Papua Barat Daya Serahkan Tiga Puskesmas Keliling Air untuk Raja Ampat dan Sorong Selatan
Pelatnas Bulutangkis Berangkat Lebih Awal untuk Aklimatisasi Jelang All England 2026
Bhayangkara FC Hajar Semen Padang 4-0, The Guardians Melonjak ke Posisi Lima
Presiden Jokowi Tiba di Yordania, Dijadwalkan Bertemu Raja Abdullah II