Gubernur Jatim Khofifah Waspadai Lonjakan Harga Cabai Rawit Jelang Ramadan

- Jumat, 27 Februari 2026 | 10:50 WIB
Gubernur Jatim Khofifah Waspadai Lonjakan Harga Cabai Rawit Jelang Ramadan

PARADAPOS.COM - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mengingatkan seluruh jajaran pemerintah daerah dan pemangku kepentingan untuk meningkatkan pengawasan terhadap pasokan dan harga bahan pangan, terutama cabai rawit, yang berpotensi mendorong inflasi. Peringatan ini disampaikan menyusul tren kenaikan harga yang terpantau sejak pertengahan Februari 2026, bertepatan dengan persiapan menyambut bulan Ramadan.

Peringatan di Tengah Tren Kenaikan Harga

Dalam rapat koordinasi di Gedung Negara Grahadi, Kamis (26/2/2026), Khofifah memaparkan dinamika harga yang mulai terasa sejak minggu kedua Februari. Ia menegaskan bahwa kenaikan ini masih berlanjut hingga minggu ketiga, seiring dengan meningkatnya permintaan rumah tangga jelang hari besar keagamaan. Fenomena ini, menurutnya, perlu diwaspadai karena berdampak langsung pada daya beli masyarakat.

Gubernur secara khusus menyoroti volatilitas harga cabai rawit, yang dikenal sebagai salah satu komoditas penyumbang inflasi utama. Kekhawatirannya bukan tanpa alasan, mengingat fluktuasi harganya seringkali tajam dan tidak merata antar pasar.

Disparitas Harga Cabai Rawit yang Mengkhawatirkan

Khofifah mengungkapkan contoh nyata disparitas harga yang terjadi di Surabaya. Dalam pantauannya, harga cabai rawit di satu pasar bisa mencapai Rp82.000 hingga Rp90.000 per kilogram, sementara di pasar lain dalam kota yang sama masih berkisar Rp55.000.

"Setiap tahun saya temukan hal seperti ini. Item yang sering menekan inflasi antara lain cabai rawit," paparnya.

Menyikapi kondisi ini, ia mendorong para kepala daerah dan pemangku kepentingan untuk berkoordinasi secara intens dengan pengelola pasar tradisional. Tujuannya jelas: mengontrol pasokan dan menstabilkan harga di tingkat konsumen.

Usulan Solusi Teknologi dan Gerakan Menanam

Lebih dari sekadar koordinasi konvensional, Khofifah mengusulkan pemanfaatan teknologi digital. Ia membayangkan setiap pasar tradisional dilengkapi dengan layar digital yang menampilkan harga pokok secara real-time dan terintegrasi antarpasar dalam satu wilayah.

"Dengan begitu [harga] bisa dimonitor, kenapa cabai di satu pasar Rp82.000, sementara di pasar lain Rp55.000. Digital ecosystem harus kita maksimalkan sebagai alat kontrol harga dan memudahkan koordinasi antarkepala pasar," tegasnya.

Di sisi lain, Gubernur juga mengajak partisipasi aktif masyarakat melalui gerakan menanam cabai di pekarangan rumah. Gagasan ini bukan hal baru baginya. Ia bercerita pengalamannya saat menjabat sebagai Menteri Sosial, di mana ia aktif membagikan bibit cabai.

"Dulu saat menjadi Menteri Sosial, saya banyak membibitkan cabai dan membagikannya, termasuk di rumah dinas menteri, agar setiap rumah punya tanaman cabai. Ini sederhana, tetapi bisa membantu menekan inflasi," bebernya.

Pelajaran dari Tingkat Nasional

Khofifah lalu berbagi anekdot dari tingkat pemerintahan pusat yang menggambarkan betapa seriusnya persoalan cabai rawit ini. Ia mengenang seloroh Presiden Joko Widodo saat mereka bersama di kabinet.

"Bahkan dulu di kabinet, Pak Jokowi sering menyampaikan bahwa mungkin hanya di Indonesia cabai rawit dibahas dalam rapat kabinet karena dampaknya terhadap inflasi," ucapnya.

Pernyataan itu, meski disampaikan dengan nada ringan, menggarisbawahi sensitivitas komoditas ini terhadap stabilitas ekonomi makro.

Strategi 4K Menjelang Idulfitri

Menutup arahan, Khofifah menekankan pentingnya sinergi lintas sektor, terutama dalam menghadapi Ramadan dan Idulfitri. Ia mengingatkan kembali kerangka strategis yang harus dipegang teguh, yaitu pendekatan 4K: Keterjangkauan harga, Ketersediaan pasokan, Kelancaran distribusi, dan Komunikasi yang efektif.

Penekanan pada strategi komprehensif ini menunjukkan bahwa penanganan inflasi, khususnya dari komoditas pangan seperti cabai, tidak bisa parsial. Diperlukan pendekatan dari hulu ke hilir, mulai dari memastikan pasokan, memantau distribusi, hingga komunikasi publik yang transparan, untuk menjaga stabilitas harga dan melindungi daya beli masyarakat.

Editor: Yoga Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar