Pemerintah Optimistis Ekspor Kakao Olahan Melesat Didukung EUDR dan Tarif Nol AS

- Jumat, 27 Februari 2026 | 13:50 WIB
Pemerintah Optimistis Ekspor Kakao Olahan Melesat Didukung EUDR dan Tarif Nol AS

PARADAPOS.COM - Pemerintah Indonesia melihat momentum positif untuk meningkatkan ekspor produk kakao olahan, didorong oleh dua perkembangan kebijakan perdagangan global. Peluang itu muncul dari penundaan penerapan regulasi deforestasi Uni Eropa (EUDR) dan pemberian tarif nol persen untuk kakao Indonesia di pasar Amerika Serikat melalui perjanjian dagang (ART).

Peluang Pasar yang Menggiurkan

Dalam sebuah diskusi di Jakarta, Jumat lalu, Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Industri Agro Kementerian Perindustrian, Putu Juli Ardika, menyoroti bagaimana kebijakan-kebijakan internasional ini membuka jalan bagi ekspansi pasar. Ia menilai, momen ini harus dimanfaatkan dengan sinergi antar semua pemangku kepentingan agar hasilnya optimal.

"Ini membuka peluang bagus untuk pasar kita, sehingga semua pihak harus bersinergi agar kinerjanya maksimal," tuturnya.

Terutama untuk pasar Amerika Serikat, yang selama ini menjadi tujuan ekspor utama, harapannya kini semakin besar. Putu menyebutkan bahwa negosiasi yang telah dilakukan membuahkan hasil yang menggembirakan bagi industri dalam negeri.

"Kita lihat ini hasil negosiasinya juga sangat bagus. Sehingga kita berharap market share kita di Amerika itu itu sekitar 11 persen," jelasnya.

Dengan sekitar 35 persen produksi kakao olahan nasional saat ini diekspor, kebijakan tarif preferensial ini berpotensi besar untuk mendorong akselerasi produksi dan sekaligus memperkuat rantai pasok bahan baku lokal.

Kinerja Industri dan Tantangan di Hulu

Secara angka, kinerja industri pengolahan kakao nasional memang menunjukkan tren yang menggembirakan. Sepanjang tahun 2024, volume penggilingan (grinding) tercatat mencapai 422.176 ton, tumbuh 4,43 persen, dan menyumbang devisa hingga 3,42 miliar dolar AS.

Namun, di balik optimisme itu, tantangan klasik masih membayangi: ketersediaan biji kakao domestik. Putu mengakui bahwa utilisasi kapasitas pabrik pengolahan saat ini masih berada pada level 50 hingga 60 persen. Artinya, ada ruang produksi yang sangat besar yang belum tergarap maksimal hanya karena keterbatasan pasokan bahan baku dari dalam negeri.

Merespons hal ini, Kemenperin mendorong penguatan ekosistem industri secara komprehensif, dari hulu ke hilir. Langkah-langkah konkret yang diambil antara lain mengintegrasikan komoditas kakao ke dalam skema Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), melakukan revitalisasi kebun, serta meningkatkan intensitas riset dan inovasi.

Peran Artisan dan Pamerkan Eksistensi Global

Di sisi hilir, peran pelaku usaha skala kecil-menengah atau artisan kakao dinilai semakin strategis. Jumlah usaha artisan yang fokus pada grading dan pengembangan kakao premium telah meningkat dari 31 perusahaan di akhir 2023 menjadi lebih dari 50 unit usaha saat ini. Mereka berperan penting dalam meningkatkan kualitas dan nilai tambah produk kakao Indonesia.

Sementara itu, untuk memperkuat posisi Indonesia di peta kakao global, Asosiasi Kakao Indonesia (ASKINDO) akan menyelenggarakan The 9th Indonesia International Cocoa Conference (IICC) pada 22-24 Juli 2026 di Yogyakarta. Konferensi bertema “The Rise of Indonesian Cocoa: The Pearl of Asia for the World” ini diharapkan menjadi forum strategis bagi pelaku industri dunia.

Ketua Umum ASKINDO, Jeffrey Haribowo, meyakini bahwa dengan kombinasi kebijakan global yang mendukung, penguatan pasokan bahan baku, dan modernisasi industri, ekspor kakao olahan Indonesia akan semakin kompetitif. Langkah-langkah ini diharapkan dapat mengokohkan posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pertumbuhan industri kakao dunia.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar