PARADAPOS.COM - Konsep ikhtiar dan tawakal dalam Islam seringkali disalahpahami sebagai dua hal yang bertentangan. Padahal, keduanya adalah rangkaian ibadah yang tak terpisahkan. Artikel ini menelaah keseimbangan antara usaha maksimal manusia dan penyerahan diri sepenuhnya kepada ketentuan Allah SWT, berdasarkan tuntunan agama dan teladan dari Nabi Muhammad SAW.
Esensi Amal Saleh dalam Meraih Rezeki
Islam mendorong umatnya untuk aktif beramal dan berusaha mewujudkan cita-cita. Namun, agama ini tidak sekadar menuntut aktivitas fisik belaka. Yang ditekankan adalah amal saleh, yaitu perbuatan yang tidak hanya bermanfaat bagi pelakunya, tetapi juga bagi masyarakat luas, serta selaras dengan nilai-nilai yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Dalam perspektif ini, setiap usaha harus dibingkai dengan niat yang lurus dan cara yang diperbolehkan.
Prinsip ini sangat relevan ketika membahas rezeki. Meski keyakinan bahwa rezeki sepenuhnya di tangan Allah adalah pondasi iman, hal itu tidak lantas menafikan kewajiban untuk bergerak dan berikhtiar. Justru, perintah untuk berusaha datang terlebih dahulu sebelum seseorang berserah diri.
Teladan Nabi: Mengikat Unta Sebelum Bertawakal
Sebuah kisah yang masyhur dari Rasulullah SAW memberikan ilustrasi yang sangat gamblang tentang keseimbangan ini. Suatu ketika, seorang sahabat datang menemui Nabi tanpa mengikat untanya terlebih dahulu. Ketika ditanya alasannya, ia menjawab bahwa dirinya telah bertawakal kepada Allah.
Mendengar jawaban itu, Rasulullah SAW pun memberikan nasihat yang mendidik, "Ikatlah terlebih dahulu, kemudian bertawakallah." Ungkapan singkat ini mengandung hikmah yang sangat dalam tentang tanggung jawab manusia dalam menjalankan sunnatullah (hukum sebab-akibat) di dunia.
Jaminan Rezeki dan Tanggung Jawab Manusia
Kisah tersebut menegaskan bahwa jaminan rezeki dari Allah bukanlah konsep pasif. Jaminan itu bukan berarti manusia hanya duduk menunggu tanpa upaya, layaknya anak kecil yang disuapi. Sebaliknya, kita adalah hamba yang diperintahkan untuk mengerahkan seluruh kemampuan, memenuhi segala syarat, dan menjalankan ikhtiar dengan sungguh-sungguh. Setelah semua usaha maksimal dilakukan, barulah kepasrahan total kepada kehendak Ilahi menemukan maknanya yang sebenarnya.
Keyakinan ini juga menenangkan hati. Rezeki setiap insan telah ditentukan kadar, waktu, dan jalurnya oleh Allah. Ia tidak akan tertukar dan tidak akan tertinggal. Keyakinan ini seharusnya memotivasi, bukan mematikan semangat. Ia menghilangkan kecemasan berlebihan sekaligus mencegah kemalasan yang diselimuti dalih agama.
Oleh karena itu, jalan terbaik adalah mengombinasikan keduanya dengan proporsi yang tepat. Mari kita tancapkan niat untuk terus berusaha dengan penuh kesungguhan, profesionalisme, dan kejujuran. Setelah itu, kita serahkan segala hasilnya dengan hati lapang dan tawakal yang ikhlas hanya kepada Allah SWT, Zat Yang Maha Pemberi Rezeki.
Artikel Terkait
BGN Hentikan Sementara 47 Layanan Makan Gratis Ramadan Temukan Makanan Tak Layak
IDF Hadapi Serangan Rudal dari Iran, Sistem Pertahanan Udara Diaktifkan
Netanyahu Klaim Khamenei Tewas dalam Serangan AS-Israel, Iran Bungkam
Jadwal Imsak dan Buka Puasa di Surabaya untuk 1 Maret 2026