PARADAPOS.COM - Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres secara terbuka mengecam serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran serta serangan balasan Teheran ke sejumlah negara tetangga. Peringatan keras ini disampaikan dalam pidato mendesak di hadapan Dewan Keamanan PBB, menyusul eskalasi militer yang cepat di Timur Tengah pada akhir Februari 2026, yang mengancam stabilitas regional dan internasional.
Kecaman Terhadap Pelanggaran Piagam PBB
Dalam forum dunia tersebut, Guterres dengan tegas mengingatkan semua negara tentang kewajiban mutlak untuk menghormati Piagam PBB. Piagam itu secara jelas melarang penggunaan kekuatan terhadap integritas teritorial suatu negara. Prinsip dasar inilah yang menjadi landasan kecamannya terhadap gelombang serangan yang terjadi.
“Itulah sebabnya sejak pagi ini saya mengecam serangan militer besar-besaran oleh Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran,” tegas Guterres dalam pernyataan resminya yang beredar pada 1 Maret 2026.
Ia tidak hanya menyoroti serangan terhadap Iran, tetapi juga mengutuk tindakan balasan Iran yang melanggar kedaulatan Bahrain, Irak, Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Situasi yang berkembang, menurut pandangannya, telah melampaui batas.
“Kita sedang menyaksikan ancaman serius terhadap perdamaian dan keamanan internasional,” ungkapnya dengan nada prihatin.
Gambaran Situasi di Lapangan yang Semakin Kacau
Menurut laporan yang beredar, situasi di lapangan berkembang dengan cepat dan sulit diprediksi. Sekitar 20 kota di Iran dikabarkan menjadi sasaran, termasuk pusat-pusat penting seperti Teheran, Isfahan, Qom, dan Tabriz. Ledakan besar bahkan dilaporkan mengguncang distrik di Teheran yang menaungi istana kepresidenan dan kompleks pemimpin tertinggi.
Korban jiwa mulai berjatuhan. Beberapa pejabat tinggi Iran dilaporkan tewas, disertai kabar yang belum terkonfirmasi mengenai kematian Ayatollah Ali Khamenei. Guterres sendiri menyatakan belum dapat memverifikasi laporan terakhir tersebut. Iran merespons dengan menutup total wilayah udaranya dan mengalami pemadaman internet hampir menyeluruh, memperparah kesulitan dalam mengonfirmasi informasi.
Media lokal Iran melaporkan satu serangan udara menewaskan sedikitnya 85 orang di sebuah sekolah perempuan di Minab, sebuah tragedi yang menyentuh nurani kemanusiaan. Di sisi lain, serangan balasan Iran dikabarkan menyebabkan puluhan korba luka-luka di Israel dan menargetkan aset militer AS di kawasan.
Peringatan Keras Soal Risiko Perang Regional
Di tengah gejolak ini, Sekjen PBB menyuarakan kekhawatiran terdalamnya. Guterres memperingatkan bahwa aksi militer yang saling membalas ini berisiko memicu konflik yang lebih luas dan sepenuhnya di luar kendali. Ia menyayangkan gagalnya momentum diplomasi yang sebelumnya sempat dimediasi oleh Oman, sebuah peluang berharga yang terlewatkan.
“Saya menyerukan de-eskalasi dan penghentian permusuhan segera,” desaknya.
Bagi Guterres, jalan satu-satunya yang tersisa adalah kembali ke jalur damai. Ia menegaskan bahwa tidak ada alternatif selain penyelesaian melalui dialog dan negosiasi, terutama mengenai isu sensitif program nuklir Iran. Seruannya jelas: semua pihak harus mematuhi hukum internasional, memberikan perlindungan maksimal kepada warga sipil, dan mengambil langkah untuk mencegah eskalasi yang lebih berbahaya.
“Mari kita bertindak secara bertanggung jawab dan bersama-sama untuk menarik kawasan dan dunia kita menjauh dari jurang,” tutupnya, mengakhiri pernyataan dengan ajakan kolektif yang mendesak.
Artikel Terkait
Persik Kediri Incar Kemenangan di Solo, Imanol Garcia Dipastikan Kembali
Labuhan Telaga Sarangan Ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia
Persik Kediri Hadapi Persis Solo Tanpa Kiko Carneiro Akibat Akumulasi Kartu
Shell dan Pertamina Naikkan Harga BBM Non-Subsidi Mulai Maret 2026