Kadin Jatim Peringatkan Konflik AS-Iran Ancam Stabilitas Pangan dan Ekspor

- Senin, 02 Maret 2026 | 16:25 WIB
Kadin Jatim Peringatkan Konflik AS-Iran Ancam Stabilitas Pangan dan Ekspor

PARADAPOS.COM - Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang meluas di Timur Tengah berpotensi memberikan tekanan signifikan terhadap perekonomian Jawa Timur. Analisis dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) setempat memperingatkan bahwa dampak konflik ini dapat merambat ke provinsi tersebut melalui lonjakan harga energi, gejolak nilai tukar rupiah, serta pembengkakan biaya logistik internasional, yang pada akhirnya mengancam stabilitas pangan dan daya saing ekspor.

Dua Jalur Dampak dan Ancaman bagi Pangan Pokok

Sebagai salah satu penopang utama ekonomi nasional, Jawa Timur dinilai perlu merespons dinamika global ini dengan langkah yang cepat dan terukur. Ketua Umum Kadin Jawa Timur, Adik Dwi Putranto, memetakan bahwa tekanan akan datang melalui dua saluran utama.

Adik Dwi Putranto menjelaskan, "Dampak utama konflik Timur Tengah terhadap Jawa Timur setidaknya datang dari dua arah, yakni hubungan dagang langsung dengan kawasan tersebut serta efek berantai melalui kenaikan harga minyak dunia dan gangguan sistem perdagangan global."

Ia menambahkan bahwa sekitar 20 persen pasokan minyak dunia melewati Selat Hormuz, titik rawan yang sangat sensitif terhadap konflik. Ketegangan di sana berpotensi memicu kenaikan harga minyak mentah dan premi asuransi pelayaran, yang ujung-ujungnya akan membebani biaya transportasi dan distribusi barang hingga ke Indonesia.

Tekanan paling konkret diperkirakan akan menyasar sektor pangan berbasis impor, khususnya kedelai. Fakta bahwa Indonesia masih mengimpor antara 2,5 hingga 3 juta ton kedelai per tahun—dengan nilai impor dari AS lebih dari US$ 1 miliar—menjadikan Jawa Timur, sebagai sentra industri tempe dan tahu nasional, sangat rentan. Kenaikan biaya pengiriman dan pelemahan rupiah dapat melambungkan harga kedelai di tingkat pengguna akhir.

Adik mengungkapkan kekhawatirannya terhadap pelaku usaha mikro, "Pelaku UMKM tempe dan tahu beroperasi dengan margin yang sangat tipis. Jika harga kedelai melonjak, opsi yang tersisa bisa berupa kenaikan harga jual, penyusutan ukuran produk, atau bahkan penghentian produksi sementara."

Efeknya tidak berhenti di sana. Kenaikan harga kedelai juga akan berimbas pada industri pakan ternak, yang dapat memicu kenaikan harga komoditas turunan seperti ayam dan telur, sehingga berpotensi mendorong inflasi pangan di tingkat daerah.

Daya Saing Ekspor di Bawah Bayang-Bayang Ketidakpastian

Di sisi perdagangan luar negeri, meski kinerja ekspor Jawa Timur masih tergolong solid dengan nilai sekitar USD 30 miliar dan surplus lebih dari USD 800 juta, ancaman nyata mengintai. Wakil Ketua Umum Kadin Jatim Bidang Perdagangan Internasional, Tommy Kaihatu, mengonfirmasi bahwa sekitar 10 persen ekspor provinsi itu ditujukan langsung ke kawasan Timur Tengah.

Tommy Kaihatu memaparkan, "Nilai ekspor Jawa Timur mencapai sekitar USD 30 miliar dengan surplus perdagangan lebih dari USD 800 juta, dan sekitar 10 persen di antaranya ditujukan langsung ke kawasan Timur Tengah."

Namun, struktur ekspor yang didominasi produk manufaktur dan agroindustri membuatnya sangat peka terhadap goncangan biaya energi dan logistik. Tommy melanjutkan analisisnya, "Eskalasi konflik berpotensi menaikkan biaya produksi industri padat energi, tarif pengiriman kontainer, serta asuransi ekspor. Jika kontrak ekspor bersifat fixed price, margin eksportir bisa tergerus. Di sisi lain, ketidakpastian global juga dapat menekan permintaan di pasar tujuan ekspor."

Dengan kata lain, tantangan terbesar ke depan bukan semata pada kemungkinan penurunan volume, melainkan pada terkikisnya daya saing akibat membengkaknya biaya produksi dan fluktuasi nilai tukar yang sulit diprediksi.

Langkah Antisipasi: Dari Darurat Jangka Pendek hingga Strategi Jangka Menengah

Menghadapi kompleksitas risiko ini, Kadin Jawa Timur mendorong serangkaian langkah antisipatif. Untuk jangka pendek (0-30 hari), diperlukan koordinasi intensif antara pemerintah daerah, importir, dan pelaku industri guna memastikan ketersediaan buffer stock kedelai yang cukup untuk kebutuhan satu hingga dua bulan. Transparansi data stok dan distribusi dinilai krusial untuk mencegah spekulasi harga yang merugikan.

Secara paralel, fasilitasi pembiayaan modal kerja bagi UMKM pangan serta pendampingan manajemen risiko nilai tukar dan biaya tambahan angkut (freight surcharge) bagi eksportir perlu diperkuat.

Sedangkan untuk jangka menengah (1-6 bulan), diversifikasi sumber impor kedelai harus dipercepat guna mengurangi ketergantungan berlebihan pada satu negara pemasok. Upaya serupa perlu dilakukan di sektor ekspor dengan memperluas pasar ke kawasan yang lebih stabil, sekaligus mendorong efisiensi energi di sektor industri.

Ketahanan Ekonomi di Tengah Gejolak Global

Meski ancaman dari luar cukup berat, Kadin Jawa Timur menilai fundamental ekonomi provinsi ini relatif kuat dan telah teruji menghadapi berbagai guncangan global sebelumnya. Kunci utamanya terletak pada respons yang cepat dan koordinasi yang solid antar semua pemangku kepentingan.

Adik Dwi Putranto menegaskan kembali prinsip yang harus dipegang, "Kita memang tidak bisa mengendalikan geopolitik global, tetapi kita bisa memperkuat ketahanan ekonomi daerah. Stabilitas pangan dan daya saing ekspor harus menjadi prioritas bersama."

Dengan sinergi yang baik antara pemerintah, pelaku usaha, dan otoritas terkait, Jawa Timur diharapkan dapat tetap resilien dan menjaga momentum pertumbuhan ekonominya, meskipun diterpa ketidakpastian global yang kian rumit.

Editor: Wahyu Pradana

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar