PARADAPOS.COM - Neraca perdagangan Indonesia kembali mencatatkan surplus pada awal tahun 2026, melanjutkan tren positif yang telah berlangsung selama hampir enam tahun. Berdasarkan data yang dirilis pemerintah, surplus perdagangan Januari 2026 tercatat sebesar USD 0,95 miliar, didorong oleh kinerja kuat ekspor nonmigas meski sektor migas masih mengalami defisit. Capaian ini sekaligus menandai 69 bulan berturut-turut neraca perdagangan Indonesia berada di zona hijau.
Surplus Berlanjut di Tengah Ketidakpastian Global
Menteri Perdagangan Budi Santoso menilai konsistensi surplus ini sebagai cerminan ketahanan sektor perdagangan nasional. Dalam keterangan tertulisnya, Rabu (4/3/2026), ia menyoroti konteks ekonomi global yang masih diliputi ketidakpastian.
"Surplus pada Januari 2026 memperpanjang tren surplus Indonesia menjadi 69 bulan berturut-turut sejak Mei 2020. Konsistensi surplus mencerminkan daya tahan sektor perdagangan nasional di tengah ketidakpastian global," ungkapnya.
Komposisi dan Mitra Dagang Utama
Secara rinci, surplus perdagangan Januari 2026 ditopang oleh surplus nonmigas sebesar USD 3,23 miliar, sementara sektor migas mencatat defisit USD 2,27 miliar. Dari sisi mitra dagang, surplus terbesar diraih dari perdagangan dengan Amerika Serikat (USD 1,55 miliar), India (USD 1,07 miliar), dan Filipina (USD 0,69 miliar). Di sisi lain, defisit perdagangan terbesar terjadi dengan Tiongkok (USD 2,47 miliar), Australia (USD 0,96 miliar), dan Prancis (USD 0,47 miliar).
Ekspor Tumbuh, Didominasi Industri Pengolahan
Total ekspor Indonesia pada bulan tersebut mencapai USD 22,16 miliar, tumbuh 3,39 persen dibandingkan Januari 2025. Peningkatan ini terutama disokong oleh ekspor nonmigas yang naik 4,38 persen menjadi USD 21,26 miliar. Struktur ekspor masih bertumpu pada sektor industri pengolahan dengan kontribusi dominan sebesar 83,53 persen terhadap total ekspor.
Pertumbuhan ekspor nonmigas didorong oleh kinerja beberapa komoditas utama yang harganya menguat di pasar internasional. Menteri Budi menjelaskan lebih lanjut,
"Tiga komoditas nonmigas utama dengan kenaikan ekspor tertinggi pada Januari 2026 adalah timah dan barang daripadanya (HS 80) yang naik hingga 191,38 persen, lemak dan minyak hewani atau nabati (HS 15) naik 46,05 persen, serta nikel dan barang daripadanya (HS 75) naik 42,04 persen (YoY). Hal ini didorong oleh peningkatan harga ketiga komoditas tersebut di pasar internasional," jelasnya.
Ia menambahkan, data World Bank menunjukkan harga timah pada periode yang sama melonjak 67,29 persen, diikuti nikel (15,42 persen) dan minyak kernel kelapa sawit (8,36 persen).
Impor Meningkat, Tanda Aktivitas Ekonomi Menggeliat
Sementara itu, sisi impor juga menunjukkan peningkatan signifikan. Total impor Januari 2026 tercatat USD 21,20 miliar, naik 18,21 persen secara tahunan. Kenaikan ini terjadi di semua golongan barang, dengan pertumbuhan tertinggi pada barang modal (35,23 persen), yang sering dianggap sebagai indikator ekspansi usaha.
Pemerintah memandang peningkatan impor ini sebagai sinyal positif bagi perekonomian domestik. Menurut Budi Santoso, hal ini menunjukkan geliat aktivitas produksi dan optimisme konsumen.
"Hal ini sejalan dengan peningkatan Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia dari 51,2 pada Desember 2025 menjadi 52,6 pada Januari 2026, serta naiknya Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dari 123,5 menjadi 127,0," ujarnya.
Prospek dan Fondasi Awal Tahun
Secara keseluruhan, kinerja perdagangan Januari 2026 memberikan fondasi yang kuat untuk memulai tahun. Meski terdapat tantangan dari defisit migas dan penurunan ekspor di sektor pertanian serta pertambangan, struktur ekspor yang didominasi industri pengolahan dan sinyal permintaan domestik yang kuat menjadi penopang utama. Menteri Budi menutup penjelasannya dengan nada optimistis,
"Secara keseluruhan, kinerja perdagangan Januari 2026 menunjukkan fondasi yang kuat di awal tahun. Kondisi ini ditopang oleh konsistensi surplus neraca perdagangan, penguatan ekspor industri pengolahan, serta peningkatan pada aktivitas produksi dan kepercayaan konsumen domestik," tuturnya.
Artikel Terkait
Dua Lapangan Padel di Jakarta Utara Disegel Lantaran Tak Miliki Izin Bangunan
BSI Pastikan Stok Emas Cukup Antisipasi Lonjakan Permintaan
PT SMI Siap Dukung Pendanaan dan Persiapan Proyek KPBU 2026, Fokus pada Jalan Tol Prioritas
Pemprov DKI Siap Salurkan THR ASN Sesuai Jadwal Pemerintah Pusat