Ahli Gizi: Obesitas Penyakit Kronis Kompleks, Bukan Sekadar Masalah Makan dan Gerak

- Rabu, 04 Maret 2026 | 22:25 WIB
Ahli Gizi: Obesitas Penyakit Kronis Kompleks, Bukan Sekadar Masalah Makan dan Gerak

PARADAPOS.COM - Obesitas bukan lagi sekadar persoalan makan berlebih dan kurang gerak, melainkan sebuah penyakit kronis yang kompleks dengan akar penyebab multifaktorial. Hal ini ditekankan oleh dokter spesialis gizi klinik, Diana Suganda, Sp.GK, M.Kes., dalam sebuah diskusi kesehatan di Jakarta. Menurutnya, pemahaman yang lebih mendalam tentang mekanisme tubuh, termasuk peran hormon dan sel memori, sangat penting untuk penanganan yang efektif.

Lebih dari Sekadar Kalori Masuk dan Keluar

Dalam paparannya, Diana menjelaskan bahwa pandangan tradisional tentang obesitas sering kali terlalu menyederhanakan masalah. Faktanya, ada banyak faktor yang saling berkaitan di balik kondisi ini.

"Tapi ternyata obesitas itu sangat kompleks, enggak cuma in take output doang. Ada banyak sekali faktor multifaktorial," ungkapnya.

Peran Krusial Hormon dan Sinyal Tubuh

Salah satu faktor kunci yang kerap diabaikan adalah peran hormon. Dokter lulusan spesialis Universitas Indonesia itu memaparkan bahwa tubuh memiliki sistem hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Pada individu dengan obesitas, sistem ini seringkali tidak berfungsi optimal, menyebabkan seseorang tetap merasa lapar meski sudah makan dalam porsi cukup.

"Berarti ada sinyal-sinyal di dalam tubuh kita tuh enggak beres gitu, enggak cuma masalah kita atur makan terus olahraga gerak. Ada banyak faktor yang menghambat, menyebabkan kadang orang itu sudah turun, atur makan, olahraga, tapi bisa balik lagi beratnya," jelas Diana.

Sel Memori dan Tantangan Berat Badan Naik Kembali

Pengalaman klinis juga menunjukkan tantangan besar dalam mempertahankan penurunan berat badan. Diana menyoroti temuan penelitian tentang adanya sel-sel memori dalam tubuh yang berperan dalam proses kenaikan berat badan kembali. Perubahan hormonal dan kapasitas lambung turut memengaruhi keinginan makan yang sulit dikendalikan.

"Itu banyak banget yang aku sering dapat di praktik, dia udah turun tapi nanti naik lagi. Urusan hormonalnya ini yang bikin error tadi," imbuhnya, menggambarkan dinamika yang sering dijumpai di ruang praktiknya.

Solusi Praktis: Mindful Eating

Menghadapi kompleksitas ini, Diana menawarkan pendekatan praktis yang dapat diterapkan dalam keseharian, yaitu mindful eating atau makan dengan penuh kesadaran. Konsep ini bukan tentang larangan, melainkan tentang pengenalan diri dan pengendalian porsi secara bijak.

"Pentingnya mindful eating itu. Jadi mau Lebaran, Natal, ya makan aja tapi tahu porsi. Karena tahu porsi, tahu butuhnya berapa ya cukup, nggak akan kebanyakan," tuturnya.

Dengan memahami obesitas sebagai kondisi medis yang rumit, penanganannya pun memerlukan pendekatan yang komprehensif, melampaui sekadar diet ketat dan olahraga, tetapi juga melibatkan pemahaman akan kerja internal tubuh dan pola pikir dalam mengonsumsi makanan.

Editor: Yuli Astuti

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar