Jusuf Kulla Laporkan Balik Abu Janda dan Ade Armando Usai Ceramahnya Dipelintir

- Kamis, 23 April 2026 | 23:50 WIB
Jusuf Kulla Laporkan Balik Abu Janda dan Ade Armando Usai Ceramahnya Dipelintir
PARADAPOS.COM - Nama Jusuf Kalla (JK) kembali menjadi pusat perhatian publik setelah serangkaian pernyataannya memicu kontroversi beruntun. Mantan Wakil Presiden RI itu pertama kali ramai diperbincangkan usai melontarkan kritik terkait ijazah Presiden Joko Widodo dalam sebuah konferensi pers di kediamannya, Jakarta Selatan, pada Sabtu, 18 April 2026. Tak berselang lama, ceramahnya di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 5 Maret 2026 tentang perdamaian antarumat beragama justru dipelintir dan berujung pada laporan polisi atas dugaan penistaan agama. Kini, babak baru muncul dengan pelaporan balik terhadap dua tokoh publik yang dinilai menyebarkan potongan video tanpa konteks.

Klaim Politik dan Ledakan Istilah “Termul”

Suasana di konferensi pers itu terasa berbeda. JK, yang biasanya tenang, tampak kesal karena namanya ikut terseret dalam pusaran isu ijazah Jokowi. Dengan nada emosi yang jarang keluar dari sosoknya, ia melontarkan pernyataan yang langsung menjadi viral. “Kasih tahu semua itu termul-termul itu. Jokowi jadi presiden karena saya. Tanpa saya bawa dia dari Solo jadi gubernur DKI, mana bisa jadi presiden?” ujarnya dengan nada tinggi. Pernyataan itu bukan sekadar pengingat akan sejarah politik—dari dorongannya kepada Megawati Soekarnoputri hingga kursi RI-1—tetapi juga sekaligus nasihat. “Sudahlah, tunjukkan saja ijazahnya biar rakyat berhenti bertengkar,” lanjutnya. Satu kata “termul” sontak menjadi mata uang baru di media sosial. Meme bertebaran, timeline dipenuhi potongan video, dan nama JK langsung menjadi trending topic. Apa yang dimulai sebagai pernyataan sederhana terasa seperti bensin yang disiram ke bara.

Ceramah Damai yang Berubah Jadi Bahan Bakar Kontroversi

Belum sempat suasana mereda, babak berikutnya muncul. Pada 5 Maret 2026, JK memberikan ceramah di Masjid UGM. Dengan gaya khasnya sebagai juru damai, ia berbicara tentang konflik Poso dan Ambon—dua luka lama yang dulu ia bantu damaikan. “Tunjukkan ke saya, agama Islam dan Kristen yang mengatakan membunuh orang tidak bersalah masuk surga. Di Islam tidak ada, di Kristen tidak ada,” tuturnya dengan tegas. Inti pesannya jernih: jangan membunuh atas nama Tuhan. Namun, di era algoritma, kejernihan sering kalah cepat dari gunting editor. Video ceramah itu dipotong-potong, konteks dihilangkan, dan narasi dipelintir. Ledakan kedua pun terjadi.

Gelombang Laporan dan Langkah Hukum Balik

Organisasi seperti Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (GAMKI), Pemuda Katolik, dan beberapa ormas Kristen melaporkan JK ke Polda Metro Jaya atas dugaan penistaan agama. Bahkan Forum Persatuan Islam Indonesia (FPII) ikut nimbrung dalam drama laporan tersebut. Ada juga kader dari Partai Solidaritas Indonesia yang ikut meramaikan, meskipun partai menegaskan itu bukan sikap resmi. JK yang biasanya kalem berubah gerah. Ia menyebut fitnah lebih kejam dari pembunuhan dan mulai mempertimbangkan langkah hukum balik kepada para pemfitnah. Puncaknya datang pada Senin, 20 April 2026. Aliansi Profesi Advokat Maluku, melalui advokat Paman Nurlette, resmi melaporkan Permadi Arya alias Abu Janda dan Ade Armando ke Polda Metro Jaya dengan nomor LP/B/2767/IV/2026/SPKT/POLDA METRO JAYA. Tuduhannya, mereka diduga pertama kali menyebarkan potongan video ceramah JK dengan narasi penghasutan, seolah sengaja menyulut api di antara umat Islam dan Kristen. Ironinya menusuk. Sosok yang dikenal sebagai perantara damai Maluku kini terseret dalam perang digital yang bisingnya melebihi dentuman konflik lama itu sendiri.

Teater Realitas di Era Algoritma

Lihat betapa nyelenehnya orkestrasi negeri ini. Satu tokoh yang dulu meredam konflik berdarah paling mengerikan di era reformasi, kini menjadi pusat badai komentar, potongan video, dan caption bombastis. Nyenggol ijazah Jokowi bikin ia disebut “termul” sambil dipuja sebagai senior yang blak-blakan. Ceramah perdamaian justru dipelintir jadi alasan laporan penistaan. Lalu, babak balasan hukum muncul seperti sekuel yang tak pernah diminta penonton. Nama JK yang seharusnya menikmati masa pensiun dengan tenang malah makin berkibar, terang, silau, dan sedikit absurd. Ini bukan sekadar politik. Ini teater realitas dengan naskah yang ditulis oleh algoritma, emosi publik, dan potongan 15 detik tanpa konteks. Di panggung ini, klarifikasi kalah cepat dari sensasi. Niat baik bisa berubah jadi headline panas dalam hitungan jam. Satu hal pasti, nama JK makin berkibar. Entah sebagai simbol keberanian bicara atau korban dari zaman yang terlalu cepat menyimpulkan. Tinggal menunggu, apakah aparat bisa merapikan benang kusut ini sebelum episode berikutnya tayang. Karena di sini, ceramah damai pun bisa berubah jadi bahan bakar trending yang membuat semua orang tertawa sambil bingung.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar