Upacara Perpisahan Publik untuk Ayatollah Khamenei Ditunda, Alasannya Logistik dan Keamanan

- Kamis, 05 Maret 2026 | 02:50 WIB
Upacara Perpisahan Publik untuk Ayatollah Khamenei Ditunda, Alasannya Logistik dan Keamanan

PARADAPOS.COM - Upacara perpisahan publik untuk mendiang Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, yang semula dijadwalkan segera berlangsung di Teheran, secara mendadak ditunda. Penundaan ini terjadi di tengah situasi keamanan yang tegang pasca-kewafatan Khamenei akibat serangan udara gabungan Israel dan Amerika Serikat, serta tingginya antusiasme masyarakat yang ingin memberi penghormatan terakhir.

Alasan Logistik dan Keamanan di Balik Penundaan

Melalui kantor berita Tasnim, seorang pejabat menyatakan bahwa penundaan upacara disebabkan oleh pertimbangan logistik yang kompleks. Salah satu faktor utamanya adalah membludaknya permintaan dari warga di berbagai penjuru provinsi Iran yang berkeinginan kuat untuk hadir secara langsung di ibu kota. Rencana pemakaman yang diperkirakan akan dihadiri massa dalam jumlah sangat besar—mengingat sekitar 10 juta orang pernah menghadiri pemakaman pendahulunya, Ayatollah Khomeini, pada 1989—juga membawa kekhawatiran tersendiri. Dalam konteks konflik yang masih berlangsung, berkumpulnya massa dalam skala sedemikian berpotensi menjadi target yang rentan.

Jadwal Awal dan Pernyataan Resmi

Pengumuman penundaan ini muncul hanya beberapa jam setelah pejabat tinggi Iran, Hojjatoleslam Mahmoudi selaku kepala Dewan Dakwah Islam Iran, memberikan pengarahan resmi. Awalnya, ia menyatakan upacara tiga hari tersebut akan dimulai di Aula Doa Imam Khomeini, Teheran.

“Aula doa akan menerima pengunjung dan masyarakat dapat hadir dan mengambil bagian dalam upacara perpisahan dan sekali lagi menunjukkan kehadiran yang kuat,” ungkap Mahmoudi dalam pernyataannya yang dilansir sejumlah media nasional.

Mengenang Sang Pemimpin Tertinggi

Ayatollah Ali Khamenei meninggal dunia pada Sabtu dalam usia 86 tahun. Ia memegang tampuk kepemimpinan tertinggi Iran selama lebih dari tiga dekade, sejak 1989, menggantikan Ayatollah Ruhollah Khomeini. Sebagai Pemimpin Tertinggi, Khamenei memegang otoritas final atas seluruh cabang pemerintahan, angkatan bersenjata, dan yudikatif, sekaligus berperan sebagai pemimpin spiritual bagi negara Republik Islam tersebut.

Proses Suksesi di Tengah Ketegangan

Di saat negara berkabung, proses suksesi untuk menentukan figur pengganti Khamenei telah berjalan dengan cepat. Ayatollah Ahmad Khatami, ulama senior yang juga anggota lembaga penting seperti Dewan Penjaga dan Majelis Pakar, memberikan sinyal bahwa keputusan hampir final.

“Pemimpin Tertinggi akan diidentifikasi pada kesempatan terdekat, kita hampir sampai pada kesimpulan, namun situasi di negara ini adalah situasi perang,” jelas Khatami dalam wawancara dengan televisi pemerintah, menegaskan bahwa proses ini berlangsung dalam bayang-bayang kondisi konflik yang masih mendera.

Editor: Bagus Kurnia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar