Ustadz Maulana Ungkap Perjuangan Menjaga Kesalehan sebagai Duda Selama 7 Tahun

- Senin, 16 Maret 2026 | 06:00 WIB
Ustadz Maulana Ungkap Perjuangan Menjaga Kesalehan sebagai Duda Selama 7 Tahun

PARADAPOS.COM - Ustadz Muhammad Nur Maulana, atau yang akrab disapa Ustadz Maulana, membuka kisah perjalanan hidupnya sebagai seorang duda selama tujuh tahun terakhir. Dalam sebuah podcast, pendakwah berusia 51 tahun itu mengungkapkan tantangan dan upayanya menjaga kesalehan pasca kepergian sang istri, Nuraliyah Ibnu Hajar, yang wafat pada 2017 setelah berjuang melawan kanker usus.

Menahan Diri dan Analogi Pedang Tanpa Sarung

Menjalani kehidupan sebagai duda, menurut Ustadz Maulana, bukanlah perkara mudah. Ia secara terbuka mengakui bahwa godaan untuk segera menikah lagi kerap menghampiri. Dalam pandangannya, seorang laki-laki pada dasarnya memerlukan pendamping untuk menjaga keseimbangan hidupnya.

"Maaf ya, laki-laki itu tidak boleh tidak punya pasangan. Ibarat pedang kehilangan sarungnya, dia bisa menggores ke mana-mana. Jadi harus dikendalikan," ucapnya dalam podcast PWK channel YouTube HAS Creative.

Puasa Idris sebagai Benteng Spiritual

Sebagai bentuk pengendalian diri dan hawa nafsu, Ustadz Maulana memilih jalan spiritual yang berat. Hanya seminggu setelah istrinya meninggal, ia memutuskan untuk konsisten menjalankan puasa Idris, yaitu puasa sunnah yang dilaksanakan setiap hari, Senin dan Kamis. Keputusan ini diambilnya sebagai ikhtiar menahan diri sembari menunggu ketetapan yang terbaik.

"Ya kan ada hadits yang berbunyi begini: Menikahlah. Kalau kau tidak sempat menikah, berpuasalah. Jadi saya memilih untuk berpuasa setiap hari," jelasnya tentang landasan ibadah yang dijalaninya hingga kini.

Kenangan yang Tak Terhapuskan dan Perjuangan Cinta

Di balik upayanya menjaga kesabaran, Ustadz Maulana mengakui betapa sulitnya melupakan memori indah bersama almarhumah istri. Rasa itu semakin dalam mengingat perjuangannya meraih cinta Nuraliyah tidaklah instan. Ia harus menanti selama lima belas tahun sebelum akhirnya sang pujaan hati bersedia menerima lamarannya. Kenangan akan perjuangan panjang itulah yang turut membentuk keteguhannya hari ini.

Fokus pada Dakwah dan Mengasuh Anak-anak

Saat ini, prioritas utama Ustadz Maulana adalah mengasuh keempat anaknya yang tinggal di Makassar dan terus aktif berdakwah. Ia bertekad menjadi figur orang tua sekaligus sahabat bagi anak-anaknya, dengan menyediakan waktu untuk mendengarkan dan memberikan apresiasi.

"Terkadang, anak-anak itu salah jalan hanya karena dia tidak didengarkan dan tidak diapresiasi. Jadi sebisa mungkin, saya menjadi teman ngobrol untuk mereka dan memuji saat mereka memang layak mendapatkannya," pungkasnya dengan penuh kesadaran akan peran ganda yang diembannya.

Editor: Paradapos.com

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar