PARADAPOS.COM - Pasca bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, upaya pemulihan jangka panjang kini memasuki fase percepatan. Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera fokus membangun puluhan ribu hunian tetap bagi warga yang rumahnya rusak berat atau hilang. Program ini menjadi prioritas utama yang akan dikebut setelah periode Idulfitri 1447 H/2026, melibatkan koordinasi lintas kementerian dan pemerintah daerah untuk memastikan penyintas segera mendapatkan tempat tinggal yang layak dan aman.
Koordinasi Intensif Pasca Lebaran
Menyongsong tahap eksekusi, Ketua Satgas PRR Pascabencana Sumatra, Tito Karnavian, menyatakan bahwa koordinasi lanjutan dengan berbagai pemangku kepentingan akan segera dilakukan usai Lebaran. Langkah ini penting untuk menyinkronkan rencana teknis dan memastikan kesiapan lahan serta administrasi di daerah terdampak.
“Kami sudah janjian nanti setelah Lebaran dengan Menteri PKP untuk turun koordinasikan pemda-pemda yang mana sudah siap dibangun, untuk segera dibangun,” jelas Tito dalam keterangan tertulisnya, Senin (23/3/2026).
Dua Skema Pembangunan Hunian
Satgas PRR menyiapkan dua pendekatan utama dalam pembangunan hunian tetap, disesuaikan dengan kondisi dan kajian kerawanan di setiap lokasi. Skema pertama adalah pembangunan secara in situ, yaitu di lokasi atau sekitar area tempat tinggal warga sebelumnya, tentu setelah melalui penilaian keamanan yang ketat. Di Kabupaten Bireuen, Aceh, misalnya, skema ini diusulkan untuk membangun sekitar 365 unit huntap.
Skema kedua adalah pembangunan secara komunal atau relokasi terpusat di lahan baru yang telah dinyatakan aman dari ancaman bencana. Opsi ini ditujukan bagi komunitas yang wilayah lamanya dinilai tidak lagi layak untuk dihuni, memerlukan perencanaan tata ruang yang lebih menyeluruh.
Target Besar dan Progress di Lapangan
Secara keseluruhan, target pembangunan terpantau sangat besar, yakni mencapai 36.669 unit huntap yang tersebar di tiga provinsi terdampak. Angka ini merefleksikan skala kerusakan yang cukup luas. Hingga saat ini, progress di lapangan menunjukkan 110 unit telah selesai dibangun, sementara 1.359 unit lainnya masih dalam tahap pengerjaan. Perbedaan angka ini mengindikasikan bahwa proses konstruksi masih akan berlangsung intensif dalam beberapa waktu ke depan.
Solusi Sementara untuk Penghunian
Sembari menunggu hunian tetap rampung, pemerintah tidak mengabaikan kebutuhan mendesak para penyintas. Sebagai jembatan, dibangunlah hunian sementara (huntara) dan disalurkan bantuan Dana Tunggu Hunian (DTH). Bantuan tunai sebesar Rp1,8 juta per keluarga ini diberikan kepada warga yang memilih untuk menyewa tempat tinggal sendiri, memberikan fleksibilitas dan sedikit kenyamanan selama masa transisi yang penuh ketidakpastian.
Dengan langkah-langkah terpadu ini, diharapkan proses pemulihan kehidupan sosial-ekonomi masyarakat terdampak dapat berjalan lebih cepat. Fokus pada penyediaan hunian yang layak dan aman menjadi fondasi utama bagi mereka untuk kembali membangun masa depan.
Artikel Terkait
Pemerintah Percepat Pembangunan 104 Sekolah Rakyat Baru untuk Tanggulangi Kemiskinan Ekstrem
IEA Peringatkan Krisis Energi Global Bisa Lebih Parah dari 1970-an
Astra International Buka Lowongan untuk Fresh Graduate dan Profesional di Berbagai Unit Bisnis
Jepang Siap Kerahkan Kapal Perang ke Selat Hormuz untuk Jamin Keamanan Energi