Israel Serang Beirut, Langgar Gencatan Senjata dengan Lebanon

- Kamis, 07 Mei 2026 | 02:25 WIB
Israel Serang Beirut, Langgar Gencatan Senjata dengan Lebanon

PARADAPOS.COM - Militer Israel melancarkan serangan udara ke Ibu Kota Beirut, Lebanon, pada Rabu (6/5/2026), menandai pelanggaran pertama terhadap gencatan senjata yang baru berlaku sejak 16 April lalu. Target operasi ini dikonfirmasi oleh Pasukan Pertahanan Israel (IDF) sebagai seorang komandan pasukan elite Hizbullah, unit Radwan. Media Israel melaporkan bahwa komandan tersebut tewas dalam serangan, namun hingga berita ini diturunkan, belum ada pernyataan resmi dari militer Israel maupun pihak Hizbullah yang mengonfirmasi kabar tersebut.

Serangan ini diumumkan langsung oleh Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz dalam sebuah pernyataan bersama. Langkah ini memicu ketegangan baru di kawasan yang sebelumnya mulai mereda setelah kesepakatan gencatan senjata dicapai.

Gencatan Senjata Mulai Runtuh

Sebelum serangan udara dilancarkan, militer Israel telah mengeluarkan perintah evakuasi bagi penduduk di beberapa desa yang terletak di sebelah utara Sungai Litani. Langkah ini dinilai sebagai persiapan sebelum operasi militer dimulai. Di lapangan, pasukan Israel masih mempertahankan posisi mereka di daerah selatan sungai tersebut dan terus melanjutkan serangan di Lebanon selatan, meskipun secara resmi masa gencatan senjata sedang berlangsung.

Gencatan senjata Lebanon sendiri merupakan bagian dari kesepakatan yang lebih luas antara Amerika Serikat dan Iran. Salah satu tuntutan utama Iran dalam negosiasi tersebut adalah penghentian serangan Israel di Lebanon. Namun, dengan adanya serangan terbaru ini, kerapuhan kesepakatan itu kembali terlihat.

Respons Hizbullah dan Situasi di Lapangan

Menanggapi serangan tersebut, Hizbullah tidak tinggal diam. Kelompok itu dilaporkan membalas dengan menembakkan roket dan meluncurkan drone bersenjata ke arah tentara Israel yang masih berada di wilayah Lebanon. Situasi di perbatasan pun kembali memanas, mengancam stabilitas yang baru saja terbangun.

Di tengah eskalasi ini, proses diplomasi tetap berjalan, meskipun dengan ritme yang lambat. Perundingan antara Israel dan Lebanon saat ini hanya berlangsung di level duta besar, dengan Amerika Serikat sebagai mediator. Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam, pada Rabu, menyatakan bahwa masih terlalu dini untuk membicarakan pertemuan tingkat tinggi dengan Israel.

“Penguatan gencatan senjata akan menjadi dasar untuk negosiasi baru antara utusan pemerintah Lebanon dan Israel di Washington DC,” ujarnya.

AS sendiri telah menjadi tuan rumah dua pertemuan antara duta besar Israel dan Lebanon di Washington DC. Namun, Hizbullah secara tegas tidak mengakui kontak diplomatik tersebut, menunjukkan adanya perpecahan antara pemerintah Lebanon dan kelompok militan yang berpengaruh di negara itu.

Editor: Laras Wulandari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar