PARADAPOS.COM - Sebanyak 38 perlintasan sebidang di wilayah Daerah Operasi 6 Yogyakarta resmi ditutup dalam kurun waktu 2023 hingga 2026. Langkah ini diambil PT Kereta Api Indonesia (KAI) karena perlintasan tersebut dinilai membahayakan keselamatan perjalanan kereta api dan pengguna jalan. Penutupan dilakukan secara bertahap, dengan angka tertinggi terjadi pada 2024 dan 2025.
Penutupan Bertahap demi Keselamatan
Manager Humas PT KAI Daop 6 Yogyakarta, Feni Novida Saragih, menjelaskan bahwa perlintasan liar menjadi sasaran utama penutupan. Menurutnya, perlintasan jenis ini tidak memiliki sistem pengamanan yang memadai dan berada di luar pengaturan resmi.
"Penutupan perlintasan liar dilakukan karena sangat berbahaya bagi keselamatan perjalanan kereta api dan pengguna jalan raya itu sendiri. Perlintasan liar tidak memiliki pengamanan yang memadai dan berada di luar pengaturan resmi," ungkap Feni pada Kamis, 7 Mei 2026.
Feni merinci jumlah penutupan perlintasan setiap tahunnya. Pada 2023, sebanyak 6 perlintasan ditutup. Angka tersebut melonjak menjadi 14 perlintasan pada 2024, dan kembali terjadi 14 penutupan pada 2025. Hingga Mei 2026, tercatat 4 perlintasan telah ditutup.
Konsentrasi di Jawa Tengah
Data internal KAI Daop 6 menunjukkan bahwa perlintasan yang ditutup sebagian besar berada di wilayah Jawa Tengah. Dari total 38 perlintasan, sebanyak 17 di antaranya berada di Kabupaten Wonogiri.
"Kemudian, Solo sebanyak 4 perlintasan, Wojo 4 perlintasan, Wates 3 perlintasan, Brambanan 2 perlintasan, Sumberlawang 2 perlintasan, Sragen 2 perlintasan, Yogyakarta 2 perlintasan, Klaten 1 perlintasan, dan Palur 1 perlintasan," ujar Feni.
Ribuan Perlintasan Masih Beroperasi
Secara keseluruhan, di wilayah Daop 6 Yogyakarta terdapat total 292 perlintasan sebidang. Rinciannya, 97 perlintasan dijaga oleh petugas KAI, 29 perlintasan dijaga oleh pemerintah daerah, dan 17 perlintasan dijaga oleh pihak eksternal. Namun, masih ada 136 perlintasan yang tidak dijaga sama sekali, serta 13 perlintasan liar.
Feni menambahkan, perlintasan tanpa penjagaan ke depannya akan menjadi prioritas untuk ditutup secara bertahap. Langkah ini dinilai penting untuk menekan angka kecelakaan di titik-titik rawan.
"Ke depannya, penanganan perlintasan akan dilakukan secara komprehensif, mulai dari penutupan perlintasan yang berisiko, peningkatan penjagaan dan pengawasan, hingga pemanfaatan teknologi," jelasnya.
Sosialisasi dan Edukasi Masyarakat
Selain penutupan fisik, KAI Daop 6 juga gencar melakukan sosialisasi keselamatan kepada masyarakat. Hingga triwulan I 2026, tercatat sebanyak 217 kegiatan sosialisasi telah dilakukan. Sebanyak 212 kegiatan berlangsung langsung di perlintasan sebidang, sementara 5 kegiatan lainnya digelar di sekolah dan lingkungan masyarakat.
"Kami juga menyampaikan pemahaman pengguna jalan melalui perangkat suara atau audio di 9 titik perlintasan, peningkatan kompetensi petugas penjaga perlintasan, serta melakukan monitor dan evaluasi," tutur Feni.
Upaya ini diharapkan mampu menekan angka pelanggaran dan kecelakaan di perlintasan sebidang, sekaligus meningkatkan kesadaran pengguna jalan akan pentingnya keselamatan saat melintas di jalur kereta api.
Editor: Dian Lestari
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.
Artikel Terkait
Oditur Militer Gali Rantai Komando di Balik Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS
Mensos Bentuk Tim Khusus Usut Isu Pengadaan Sepatu dan Seragam Sekolah Rakyat
Pertamina Patra Niaga Buka Rekrutmen Langsung Lewat Aplikasi MyPertamina
Panglima TNI Mutasi Mayjen Bagus Suryadi Tayo dari Pangdivif 3/Kostrad ke Dirjen Strahan Kemhan